
Alex segera masuk ruangannya dan ternyata di dalam ada Nita yang datang mengantar berkas Alex yang tadi tertinggal di meja makan.
pucuk dicinta ulam pun tiba, Alex langsung saja menyerang Nita.
Ruangan Presdir dan wakilnya kini menjadi saksi bisu keganasan mereka dalam bercinta, mungkin bagi mereka bergulat di atas segala-galanya sehingga dimanapun berada tidak akan jadi masalah.
***********
Di sisi lain Nindi merasakan sesuatu yang tidak enak, ingin sekali menyusul Gilang ke kantor karena entah mengapa Nindi merasa sangat rindu dengan Gilang.
"Ma, Nindi ke kantor mas Gilang dulu ya," pamit Nindi pada ibu mertuanya
"Iya, hati-hati ya," ucap Mama Gilang.
Nindi segera masuk ke dalam mobil, dia kali ini meminta sopir keluarga Gilang untuk mengantarnya.
Setibanya di kantor Nindi sungguh heran dengan cara berpakaian semua pegawai, mereka memakai baju dengan warna serba hitam.
"Apa ada yang meninggal ya," gumam Nindi.
Nindi langsung berjalan menuju ruangan Gilang, setelah melihat suaminya Nindi segera memeluk Gilang.
"Mas, aku kangen," kata Nindi
"Masak sih sayang, baru dua jam nggak ketemu masak sudah kangen," goda Gilang
"Beneran mas mangkanya aku nyusul kesini, kalau nggak kangen ogah kesini," sahut Nindi dengan kesal.
Gilang hanya tertawa, menurutnya Nindi sangat cantik jika sedang kesal.
"Iya, iya percaya kok." Gilang merayu istrinya.
Gilang yang masih banyak pekerjaan meminta Nindi untuk menunggunya di sofa, dan Nindi langsung menurut.
"Cium dulu dong," pinta Gilang
Nindi mengecup sekilas bibir Gilang lalu menuju sofa, dia membaringkan diri dengan membaca novel di sebuah aplikasi favoritnya.
Nindi serius membaca salah satu novel author favoritnya, berbeda dengan novel sebelumnya yang dia baca, kali ini mengisahkan tentang sebuah poligami.
"Ih, gemes! seenaknya gitu nikah lagi," gerutu Nindi saat membaca novel dari author kesayangannya.
Gilang yang melihat Nindi menggerutu sendiri tentu menggelengkan kepala,
"Dasar korban novel, kalau nggak gitu korban film," oceh Gilang lalu melanjutkan pekerjaannya.
Nindi semakin kesal saat baca kelanjutan novelnya,
"Bagus, aku dukung kamu selingkuh dengan atasan kamu, daripada sama suami banci seperti itu," oceh Nindi yang lagi-lagi membuat Gilang menghentikan pekerjaannya untuk melirik istrinya.
"Astaga, kalau dia terus memaki pemeran fiktif dalam novelnya, aku mana bisa bekerja," gerutu Gilang lalu berkerja kembali.
Nindi kini sudah masuk dalam cerita, authornya sudah berhasil membuatnya kesal dengan tokoh yang diciptakan.
"Iiihhh gemesnya aku, kamu itu yang sudah merebut suami orang malah menyalahkan istri pertama, pengen aku cor tu mulutnya." Nindi marah sambil menepuk sofa, dia sungguh kesal sekali dengan tokoh yang diciptakan oleh penulis.
__ADS_1
Lagi-lagi Gilang menghentikan pekerjaannya, dia mengusap rambutnya kasar.
"Kalau begini terus mana bisa bekerja aku," ucapnya lalu menutup laptopnya.
Gilang kini berjalan menuju sofa, dan ikut duduk di sana.
"Lo mas Gilang, udah selesai pekerjaannya?" tanya Nindi.
"Belum," jawab Gilang singkat dengan menatap istrinya.
"Kenapa nggak diselesaikan?" tanya Nindi balik
"Nggak fokus, ada yang berteriak-teriak nggak jelas sambil menepuk-nepuk sofa," jawab Gilang yang membuat Nindi terkekeh.
"Terbawa suasana mas, ni novelnya bagus banget, seolah aku ini pemainnya," sahut Nindi.
"Memangnya menceritakan tentang apa?" tanya Gilang
"Ni tenang poligami yang istrinya selingkuh dengan bos nya sendiri, seru banget. Awal hubungan mereka juga salahnya sendiri, masak iya istrinya ditinggal di salah satu kota di daerah Jatim," jawab Nindi.
"Hmmmm, nggak usah terlalu lebay, itu cerita fiktif nggak nyata," sahut Gilang
"Eh, jangan salah ada lo novel yang mengisahkan kisah nyata," timpal Nindi.
Gilang menghela nafas sambil memijat pelipisnya, tak berselang lama, ada Veri datang.
"Pak Gilang ada klien yang ingin bertemu," kata Veri.
"Suruh masuk saja," sahut Gilang
Nindi pamit keluar karena tidak ingin mengganggu Gilang dan kliennya.
"Aku keluar dulu ya mas," pamit Nindi
"Iya sayang, nanti kalau udah selesai aku hubungi," sahut Gilang.
Nindi berjalan menyusuri setiap lorong kantor Gilang, hingga kini dia sampai di taman samping kantor, Nindi duduk di sana lalu melanjutkan membaca novelnya lagi.
**************
Malam ini Alex pulang telat, Nita menunggu dengan menggendong Dania, baby sitternya ijin untuk pulang kampung karena ibunya meninggal.
"Kamu kok pulang telat?" tanya Nita
"Iya tadi lembur, ada masalah," jawab Alex.
"Masalah apa mas?" tanya Nita
"Beberapa produk kita ada yang menyabotase, aku takut papa akan marah jika tau, kerugian kantor lumayan banyak soalnya," jawab Alex
"Lalu gimana mas?" tanya Nita lagi
"Besok pagi sekali aku dah Celo akan menyelidikinya semoga pelakunya cepat tertangkap," jawab Alex.
Alex masuk terlebih dahulu untuk membersihkan diri, kemudian dia ingin istirahat karena dia sungguh lelah.
__ADS_1
Pagi sekali Alex sudah berangkat, dia bahkan meninggalkan makan paginya karena dia tidak ingin sampai terlambat.
Hari-hari telah berlalu, Nita agak repot karena Dania selalu rewel. Nita sempat menitipkan Dania pada artnya namun Dania malah menangis seolah dia itu tidak ingin diajak orang lain.
Dania hanya mau digendong Nita dan juga Baby sitternya.
Repot mengurusi Dania dan Rio Nita kali ini sampai tidak mandi dan hanya memakai daster, parasannya pun tidak seperti biasanya yang cantik. Kali ini benar-benar kusam dan penuh keringat.
Hari berlalu dengan cepat, Alex dan Celo berhasil melacak siapa yang menyabotase produknya.
"Nggak sia-sia penyelidikan kita. Coba kita lengah sedikit sudah pergi ni orang," kata Alex
"Betul kak," sahut Celo
Alex meminta ganti rugi akan kerugian perusahaan, dan dia menyanggupi asal tidak dilaporkan ke pihak berwajib.
Tak hanya Celo, Alex juga dibantu beberapa teman-temannya untuk mengungkap kasus ini sehingga Alex mengajak Mereka untuk merayakannya di rumah Alex.
"Ya udah besok kita rayakan di rumah aku," kata Alex yang membuat semua setuju.
Tak lupa meminta Nita untuk menyiapkan segala sesuatunya, dia juga berpesan pada Nita kalau berdandan yang cantik karena dia ingin mengenalkannya pada teman serta kliennya.
Memang sih sebelumnya Nita mungkin pernah bertemu saat dia masih menjabat sebagai Manager tapi mungkin mereka sudah lupa.
Waktu berlalu dengan cepat, Rio yang baru pulang sekolah meminta mamanya untuk membantunya melukis finger painting. Dia harus menyelesaikannya hari ini karena besok harus dikumpulkan.
"Kita kerjakan agak sorean ya, ini adek masih rewel," kata Nita
Rio menurut, lalu dia masuk kamarnya untuk istirahat, namun sebelumya dia makan terlebih dahulu.
Dania yang rewel membuat Nita kewalahan, belum lagi tugas Rio, Nita mengayun Dania supaya tertidur akhirnya adik Rio tertidur juga.
Kini Nita memanggil Rio untuk membantu mengerjakan tugasnya.
Namanya painting tentu tangan Nita kotor semua, bahkan muka Nita ikut kotor.
"Akhirnya selesai juga," kata Nita lalu mengecup peluh yang ada di keningnya.
Nita mengecek art yang menyiapkan perjamuan untuk teman dan klien Alex dan dia senang semua telah siap tinggal dirinya yang harus bersiap.
Waktu menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit, Nita bergegas ke kamar untuk mandi, namun tiba-tiba Dania menangis dan ini membuat Nita mengurungkan niatnya untuk mandi.
Lalu dia membawa Nita keluar, dan saat di bawah dia melihat Alex dengan para klien dan temannya.
"Itu istri kamu?"
Halo kak gimana kabarnya, baik kan? Jangan lupa vote, like, komen dan juga hadiah ya kak, supaya aku semangat nulisnya.
Meski kadang nggak terbalaskan tapi aku baca Lo komennya dan aku ngakak sendiri.
Ada juga komen yang tak ss dan aku jadikan status di wa hehe. Oh iya untuk novel yang dibaca Nindi itu novel aku bukan wanita lemah ya kak, hehe.
Promosi dalam novel.
Yang belum baca bisa lo baca sambil nunggu upnya lagi, mengisahkan tantang perselingkuhan, novel ini sempat dihapus oleh NT, tapi Alhamdulillah sudah dipulihkan
__ADS_1