Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Kena Razia


__ADS_3

Hari ini Gilang rencananya mengantar Nindi untuk terapi, dia meminta Veri supaya menghandle semua pekerjaannya.


"Kamu sudah siap sayang?" tanya Gilang


"Belum mas, aku masih pake sepatu tapi sulit sekali," jawab Nindi yang kesulitan memakai sepatunya.


Gilang menghela nafas, lalu menghampiri istrinya yang kesulitan memakai sepatu.


"Kenapa nggak ngomong daritadi, kan biar aku yang memakaikan sepatunya," protes Gilang


"Iya, mas. Aku pikir bisa ternyata nggak," sahut Nindi.


Gilang segera berjongkok dan membantu Nindi memakai sepatunya, Nindi nampak tidak enak pada Gilang. Apa-apa harus Gilang yang melayaninya mulai dari mandi, makan bahkan memakai sepatu harus Gilang yang membantu.


Nindi jadi menangis dan itu membuat Gilang kaget


"Kenapa sayang? sakit?" tanyanya lalu mengecek kaki Nindi


Nindi menggelengkan kepalanya, "Lantas kenapa kamu menangis?" tanya Gilang.


"Aku merasa nggak enak sama kamu mas, semua apa-apa kamu, aku merasa kalau aku ini nggak berguna sebagai seorang istri, pulang kerja kamu yang nyiapin makan aku bukannya aku, keperluan aku juga kamu semua yang handle, maaf mas," jawab Nindi dengan menangis.


"Astagfirullah sayang, kamu tu ngomong apa. Listen! aku iklas melayani kamu, Im happy so dont be sad, please!" sahut Gilang lalu memeluk istrinya.


Tangis Nindi pecah saat Gilang memeluknya,


"Udah sekarang lebih baik hapus air mata kamu ini dan siap-siap ke rumah sakit, semoga kamu cepat sembuh dan bisa melayani aku lagi," hibur Gilang


"Aku rindu goyangan kamu di atas aku," seloroh Gilang kemudian yang membuat Nindi melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Me sum," ucap Nindi kesal, bisa-bisanya rindu hal itu lalu Nindi mengambil tisu dan mengusap air matanya, setelah itu mereka pergi ke rumah sakit.


Kurang lebih dari satu jam mereka sudah sampai di rumah sakit, Gilang segera mengeluarkan kursi roda milik istrinya lalu mendudukkan Nindi diatasnya.


Mereka berdua berjalan melewati lorong menuju ruang dokter yang menangani Nindi. Setibanya di ruang dokter, dokter mengajak Nindi dan Gilang ke ruang terapi.


Pertama-tama dokter memijat kaki Nindi, menekuk dan meluruskan lagi kemudian Nindi di suruh berdiri dia alat yang sudah disiapkan. Karena kaki Nindi benar-benar kaku, Nindi hanya bisa berdiri dengan berpegangan, dan ini membuat Nindi menangis.


"Jangan menangis Bu, memang terapi pertama seperti ini, belum ada perkembangan namun lama-lama akan segera pulih," hibur dokter.


Mendengar kata-kata dati dokter membuat Nindi mengusap air matanya, "Kira-kira butuh waktu berapa lama dok?" tanya Nindi


"Selama rajin berlatih, terapi dan juga minum obat mungkin hitungan beberapa bulan ke depan sudah normal kembali, anda sudah bisa berjalan seperti sedia kala," jawab Dokter yang membuat Nindi senang.


Dia pun berniat berusaha sekuat tenaga supaya bisa sembuh, dia tidak ingin merepotkan orang disekitarnya terlebih Gilang, Nindi merasa kasihan pada Gilang yang sudah lelah bekerja harus merawat dan melayaninya juga.


Dua jam berlalu, Nindi sudah selesai terapi, dokter memberi jadwal lagi untuk dua hari ke depan.


"Kita ke taman yuk mas," ajak Nindi


"Ayuk, sekalian kita pacaran," sahut Gilang yang membuat Nindi tertawa.


"Pacaran kita nggak di taman mas tapi di ranjang," timpal Nindi yang membuat Gilang tertawa juga.


"Setelah dari taman, kita pacaran di ranjang," kata Gilang.


Mobil Gilang sudah terparkir di parkiran taman, dia segera membawa Nindi keluar.


Nindi dan Gilang duduk di bawah pohon, dengan Nindi yang bersandar di bahu Gilang.

__ADS_1


"Aku ingin selamanya begini mas," kata Nindi


"Aku juga sayang, berada di sisimu hingga maut memisahkan kita," sahut Gilang.


Gilang mengecup kening Nindi berkali-kali, bahkan dia yang tidak tahan langsung menyambar bibir istrinya. Mereka berdua saling berpaut hingga lupa kalau mereka berada di tempat umum dan tiba-tiba ada petugas yang harus menganggu aksi panas mereka


"Mohon maaf mas dan mbak, ini tempat umum jadi tolong jangan mengganggu pengunjung taman lainnya," kata Petugas tersebut.


Nindi segera melepas pautannya, "Eh maaf pak, kami khilaf," kata Gilang berkilah


"Demi keamanan bersama tolong ikut ke kantor," pinta petugas keamanan tesebut.


Gilang mengekor petugas tersebut sambil mengendong Nindi, karena kursi roda Nindi masih di mobil.


Setibanya di kantor mereka berdua didudukkan dan diinterogasi.


"Mohon identitasnya mas dan mbak," pinta petugas tersebut


Gilang dan Nindi segera memberikan identitas mereka Gilang juga memberikan kartu namanya.


"Jadi anda pak Gilang Admadja, anak dari pengusaha terkenal Admadja itu?" tanya petugas keamanan.


"Iya memangnya kenapa pak?" tanya Gilang balik


"Nggak papa, tapi mengapa seorang pebisnis seperti anda bisa melakukan hal yang tidak senonoh di taman?" kata petugas tersebut.


"Dia ini istri saya lo pak, lagipula kami hanya ciuman saja nggak ngapa-ngapain," sahut Gilang.


"Mohon maaf pak Gilang, tapi negara kita ini bukan negara barat yang membebaskan seseorang untuk melakukan tindakan asusila di tempat umum, jadi alangkah baiknya kalau anda melakukannya dia rumah," jelas petugas tersebut.

__ADS_1


"Iya pak maaf, memang rencananya setelah ini kamu lanjut di rumah," sahut Gilang yang membuat Nindi menepuk dahinya.


"Mas Gilang, mas Gilang," batin Nindi.


__ADS_2