Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Doktrin Rian


__ADS_3

Subuh Nindi sudah bangun, dia ingin menyiapkan keperluan suaminya, karena rencannya Gilang berangkat jam tujuh pagi.


Karena suara kemas kemas Nindi akhirnya Gilang terbangun.


Gilang langsung saja memeluk Nindi dari belakang, dia malas sekali berangkat, ingin rasanya selalu di rumah bersama istrinya.


Gilang mendengus leher Nindi, dia menghirup bau-bau asam istrinya.


"Baunya seger sekali sayang," bisik Gilang yang membuat Nindi heran.


"Mas ini bau asem lo, kok bisa-bisanya kamu bilang seger," sahut Nindi


"Entah, tapi sumpah seger banget ini sayang," ucap Gilang lalu dia melepas kancing baju istrinya.


Dia mendengus punggung Nindi, dia mencium setiap jengkal itu tubuh istrinya sehingga membuat Nindi menggeliat.


"mas udah dong," kata Nindi dengan lirih.


"Aku masih pengen mencium aroma tubuh kamu yang seger ini sayang," ucap Gilang, kini Gilang membawa Nindi ke tempat tidur.


Gilang melanjutkan aksinya hingga serangan fajar tidak dapat terelakkan.


Mereka berdua saling menyerang, hingga Gilang tepar di samping Nindi.


Nindi beranjak dari tempat tidurnya namun tangan Nindi dipegangi oleh Gilang.


"Ada ronde kedua sayang," kata Gilang.


Karena risih dengan cairan putih milik Gilang dan miliknya Nindi tetap pergi ke kamar mandi.


"Risih mas," kata Nindi


Akhirnya Gilang menyusul Nindi, kemudian serangan senja mereka terjadi lagi di kamar mandi.


Lagi-lagi Nindi memberikan service VVIP pada Gilang. Hingga Gilang terus men de sah saat lidah Nindi memainkan tongkatnya.


"Ooohhhh amazing sayang," kata Gilang dalam sela-sela desahannya.


Setelah mereka selesai, Gilang bersiap dan Nindi membantu art untuk menyiapkan sarapan.


Mama, Nindi dan Gilang sarapan bersama, Gilang titip Nindi pada mamanya.


"Nitip Nindi dan calon cucu mama ya," kata Gilang


"Kalau itu meski nggak kamu minta mama tetap menjaga Nindi Gilang," sahut mama


"Terima kasih ma," timpal Gilang.

__ADS_1


Seusai sarapan Gilang pamit pada mamanya,


"Aku ikut ke Bandara yang mas," pintu Nindi.


Gilang tersenyum lalu mengangguk, Veri juga sudah datang memang rencannya Gilang pergi bersama Veri.


Kurang lebih satu jam, mereka sudah sampai di Bandara, Gilang memeluk dan berkali-kali mengecup istrinya bahkan dia melu mat bibir istrinya hingga mereka menjadi pusat perhatian.


Nindi mendorong tubuh Gilang sehingga pautan mereka terlepas.


"Malu mas, dilihatin orang," kata Nindi


Jiwa jomblo Veri juga meronta melihat Gilang dan Nindi saling berpaut.


Tiba-tiba dia ingin juga punya Istri supaya bisa bermesraan.


Kini sudah saatnya Gilang masuk, karena pesawatnya segera berangkat.


Dengan sedih Nindi melepas suaminya.


Gilang berjalan melambaikan tangannya begitu pula dengan Nindi.


Air matanya merembes melihat Gilang masuk, "Hati-hati mas dan cepat kembali," gumam Nindi lalu pergi keluar bandara.


Setibanya di rumah Nindi bersiap untuk bekerja tak lupa dia berpamitan dengan mertuanya.


********


Namun hingga siang hari, dia masih belum menemukan Nita.


Siang ini Alex datang ke sebuah cafe, dia mampir sebentar untuk makan dan minum.


Setalah selesai Alex hendak pergi namun dia menarik pelayan yang membawa makanan hingga makannya jatuh semua.


Alex mengganti semua kerugian, dia memberikan sepuluh lembar uang warna merah pada pelayan tersebut.


Dari tempatnya berada Nita samar-samar mendengar suara Alex seketika Nita berlari untuk mencari suara belahan hatinya namun lagi-lagi dia tidak menemukan apa-apa.


Nita kembali ke ruangannya, dia menangis dengan terisak, hatinya sungguh merindukan Alex.


"Jika begini terus, aku bisa gila," gumam Nita.


Tadi memang Alex, tapi saat Nita keluar Alex sudah keluar dari cafe Nita.


Tak hanya Nita Alex juga merasakan kalau dia begitu dekat dengan Nita, dan ini membuat Alex semakin gencar untuk mencari belahan jiwanya itu.


Saat asik menangis datanglah Rian, tanpa aba-aba dia memeluk Nita, dan ini membuat Nita marah.

__ADS_1


"Jaga batasan kamu mas!" bentak Nita lalu lalu mendorong tubuh Rian.


"Come on Nita, mau sampai kapan kamu akan sedih terus, bayi kamu membutuhkan ayah," bujuk Rian


"Memang dia membutuhkan ayah tapi bukan kamu yang aku pilih jadi ayahnya," sahut Nita dengan menunjuk Rian dengan jarinya.


Rian menghela nafas kalau bukan demi harta Nita dia nggak mungkin mau mengakui benih yang bukan miliknya, karena setelah dia menikah dengan Nita, Rian berfikir kalau hidupnya akan enak karena dia tak perlu susah-susah bekerja.


"Coba kamu pikir Nita, siapa yang mau mengakui bayi yang bukan bayinya, apalagi kamu telah hamil di luar nikah." Rian terus saja mengeluarkan bujukan mautnya pada Nita.


Dia sadar kalau Nita nggak akan mau namun dia yakin jika dia terus memprovokasi Nita maka lama-lama pertahanan Nita akan runtuh dan secara nggak langsung alam bawah sadar Nita akan perlahan menerimanya.


"Itu urusan aku, bukan urusan kamu mas!" seru Nita


Lagi-lagi Nita meminta satpam untuk mengusir Rian, mendengar kata-kata Rian membuat Nita bingung, dan secara tidak langsung dia mulai terkontaminasi dengan racun yang Rian berikan.


"Pak Alex, aku hanya menginginkan kamu bukan yang lain," gumam Nita.


********


Beberapa hari ini Rian gencar mendekati Nita sedangkan Alex masih belum menemukan belahan jiwanya.


Karena omongan-omongan Alex, Nita menjadi frustasi, dia memikirkan setiap omongan Rian.


Bahkan Rian sengaja menemui Rio di sekolah tanpa sepengetahuan Nita, Rian sungguh licik tak bisa mempengaruhi ibunya kini dia mempengaruhi anaknya.


Saat itu Nita baru pulang dari cafe, dengan wajah lelah dia melihat Rio di kamarnya.


Nita mencium Rio anaknya, karena pekerjaan dan juga banyak pikiran Nita kurang memperhatikan Rio.


"Rio udah makan?" tanya Nita


"Sudah ma," jawab Rio.


Bocah kecil ini memeluk mamanya lalu dia bercerita pada Nita kalau Rian menemuinya, bahkan Rio meminta pada Nita supaya memperbolehkan Rian untuk tinggal bersama dengan mereka.


Sontak Nita syok, heran dengan Rian yang membujuk Rio, sebenarnya Nita tidak mempermasalahkan jika Rian menemui Rio tapi kalau Rian mendoktrin anaknya dia tidak suka.


"Papa Rio bilang apa saja?" tanya Nita


"Papa bilang kalau Rio itu butuh papa, papa juga bilang kalau ada papa adik bayi ada yang jaga," jawab Rio


Nita sungguh kesal sekali dengan Rian, "Apa sih mau kamu mas," batin Nita lalu mengelus rambut anaknya.


"Rio, mama dan papa sulit untuk bisa tinggal lagi, karena dulu papa telah pergi meninggalkan kita sayang," kata Nita


Rio nampak mengangguk, kini Nita khawatir kalau Rian menemui Rio, dia juga takut kalau Rian sampai melukai Rio.

__ADS_1


Keesokannya nampak Nita dan Rian debat di ruangan Nita, kebetulan sekali Alex juga makan di cafe Nita, entah mengapa dia cocok dengan masakan di cafe Nita.


__ADS_2