
Celo menatap wanita yang duduk dengannya tadi lalu menatap Indira.
"Kamu jangan ngaco!" seru Celo lalu mengajak Indira menjauh.
"Ngaco gimana mas maksud kamu, memang benar kan itu selingkuhan kamu," sahut Indira.
Klien Celo yang melihat pertengkaran Celo dan Indira merasa tidak nyaman sehingga dia pamit untuk pergi.
"Pak Celo, saya pamit dulu. Anda selesaikan saja masalah anda terlebih dahulu setelah itu baru kita bahas kerja sama kita," kata klien Celo lalu pergi.
Celo menatap kepergian kliennya, padahal klien itu akan membawa banyak keuntungan bagi perusahaan dan tentu akan membawa keuntungan juga untuk Celo yang rencananya dengan keuntungan itu dia akan membelikan rumah untuk Indira.
Aaarrrgggggg
"Puas kamu, puas sekarang! sudah membuat klien aku pergi. Kamu tau, aku butuh waktu setahun mengajaknya kerja sama dengan perusahaan ini, tapi setelah dia mau bekerja sama kamu malah mengacaukan semua," maki Celo lalu duduk di kursi kebesarannya.
Celo nampak frustasi, dia sungguh kesal sekali dengan Indira.
Indira yang tidak tau kalau itu adalah klien Celo mencoba untuk mendekati suaminya, dia mencoba meminta maaf atas salah pahamnya.
"Pulanglah beri aku waktu sendiri, untuk makan siang yang kamu bawa, terima kasih," kata Celo tanpa menatap Indira.
"Mas aku minta maaf mas, aku bersikap begini juga bukan tanpa alasan, beberapa kali...." Belum sempat Indira melanjutkan kata-katanya Celo sudah menyela.
"Sudahlah, sekarang please! pulanglah!" kata Celo yang membuat Indira menangis.
"Kamu ngusir aku mas," kata Indira.
"Beri aku ruang, please! pulanglah," ucap Celo dengan memohon pada Indira.
Dengan berlinang air mata, Indira meninggalkan Celo.
Celo yang kesal membuang benda yang ada di mejanya
"Arrgggh sh*it," umpatnya dengan mengusap rambutnya dengan kasar.
Indira yang bingung mau kemana akhirnya memutuskan untuk ke rumah Nindi, dia ingin berbagi masalahnya dengan sahabatnya.
"Kamu kenapa, In?" tanya Nindi saat menemui Indira di teras rumahnya.
Indira segara memeluk Nindi, dan tangisnya semakin pecah, "Hey cerita ma aku, kenapa?" tanya Nindi lalu melerai pelukan mereka.
"Mas Celo Nin, dia selingkuh," jawab Indira dengan menangis.
Mendengar jawaban dari Indira tentu membuat Nindi kaget, apa benar mungkin Celo selingkuh, menurutnya Celo adalah lelaki yang lembut.
Karana obrolan mereka sangat privasi, Nindi mengajak Indira ke kamarnya.
Nindi menyuruh Indira untuk duduk, lalu dia mengambilkan sahabatnya minum.
__ADS_1
"Ini minum dulu biar lebih relax," kata Nindi.
Indira menghabiskan minuman yang diberikan oleh Nindi.
"Sekarang coba cerita," pinta Nindi
"Aku tu merasa kalau mas Celo selingkuh, dua kali aku menemukan gambar bibir di jasnya Nin," kata Indira.
"Kamu yakin itu bekas bibir selingkuhan suami kamu In?" tanya Nindi
"Yakinlah In, siapa lagi coba," jawab Indira.
"Suami ku, suami kamu itu orang penting. Pemegang perusahaan besar, tentu banyak wanita yang ingin mendekati mereka, jangan sampai kamu salah paham yang akhirnya membuat kamu menyesal sendiri, kalau memang itu pelakor buktikan kalau kamu itu kuat, sehingga pelakor yang ingin mendekati suami kamu itu takut," jelas Nindi
India nampak manggut-manggut dengan penjelasan Nindi, "Tapi kan Nin, terkadang mas Celo pulang malam lo," kata Indira.
"Coba kamu pikir dong In, berapa karyawan yang dimiliki suami kamu, berapa anak cabang dimiliki perusahan suami kamu, jadi wajar nggak kalau mereka pulang malam," sahut Nindi
"Iya sih, tapi kalau benar selingkuh gimana Nin?" tanya Indira.
"Kamu selidiki dulu aja," jawab Nindi
Setelah mendapatkan pencerahan dari Nindi, Indira menjadi sedikit lebih tenang.
Dia tidak ingin asal nuduh sekarang, untuk itu dia ingin meminta maaf pada Celo nanti malam.
Tak terasa hari semakin sore, Indira pamit pulang dia takut kalau Celo sudah pulang.
"Iya," sahut Indira.
Taxi online yang Indira pesan sudah berjalan, dia membuka kaca dan melambaikan tangan pada Nindi.
Satu jam kemudian Indira sampai di rumahnya, dia segera turun dan naik ke kamarnya untuk membersihkan diri, dia tidak sabar menunggu kepulangan Celo karena dia ingin meminta maaf.
Lama menunggu namun Celo tak kunjung pulang dan ini membuat Indira resah dan gelisah.
"Kamu kok belum pulang mas," gumam Indira dengan mondar mandir.
Lelah mondar-mandir Indira duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, dan tiba-tiba ada suara pintu dibuka dan itu adalah Celo.
"Mas kamu kok telat pulangnya," protes Indira.
"Aku sibuk," sahutnya lalu dia melepas jasnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Indira masuk begitu saja dalam kamar mandi, dia melepas baju tidurnya sehingga kini dia polos.
"Kamu mau apa?" tanya Celo yang perlahan tongkat saktinya bereaksi.
Memanjakan kamu mas, anggap saja sebagai permintaan maaf aku karena membuat kamu marah tadi siang," jawab Indira.
__ADS_1
Tanpa basa basi, Nindi masuk dalam bathub. Dia langsung saja menyambar tongkat sakti Celo dan memanjakannya dengan lidah.
Celo mengerang sambil memejamkan matanya, lidah Indira sungguh mampu membuatnya ke awan.
Gulat mereka berlanjut dengan panas di kamar mandi.
Beberapa waktu kemudian mereka selesai mandi, Celo menurunkan Indira di tempat tidur.
"Mas maafkan aku," kata Indira
"Iya, maafkan aku juga," sahut Celo
"Iya mas, mungkin seharusnya aku nggak terlalu curiga sama kamu," kata Indira menyesal.
"Iya sayang, aku tu sangat mencintai kamu jadi please jangan ragukan itu," ucap Celo.
"Iya mas," sahut Indira.
Kehidupan Indira dan Celo berjalan seperti biasa, meski Indira masih bertanya-tanya lipstik siapa yang menempel di jas Celo waktu itu.
Hari ini Celo mendadak ada meeting ke luar kota, dan ini membuat Indira sedikit curiga, pasalnya Celo sebelumnya menerima panggilan telpon dan menerimanya menjauhi Indira.
"Meeting dengan siapa mas?" tanya Indira
"Meeting dengan klien sayang, apa mau aku kenalkan?" tanya Celo dengan tertawa
"Eh nggak perlu," jawab Indira.
Kini mobil Celo sudah pergi meninggalkan rumah, dan tak berselang lama sebuah mobil mewah masuk dan ternyata itu Alex dan Nita.
"Lo, kak Alex, mbak Nita," kata Indira.
"Halo In," sapa Nita
"Celo mana In?" tanya Alex
"Lo bukannya mas Celo ada meeting luar kota bersama kak Alex?" tanya Indira.
Alex dan Nita saling pandang dan menggelengkan kepala, seketika raut wajah Indira berubah.
"Bentar aku coba konfirmasi sama Celo dulu," kata Alex
Berkali Alex menghubungi Celo namun nomor Celo dalam luar jangkauan.
"Bagaimana kak?" tanya Indira.
"Nggak aktif," jawab Alex
Indira semakin curiga bahwa sebenarnya Celo tidak meeting melainkan pergi liburan dengan selingkuhannya.
__ADS_1
"Mas Celo pasti pergi dengan selingkuhannya kak, berani dia membohongi aku," kata Indira.