Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Gencatan senjata


__ADS_3

Gilang segera masuk ke kamar, dia melihat Nindi melamun di jendela.


Gilang meletakkan tasnya ke sofa lalu melepas sepatu dan juga jasnya.


Kemudian dia menghampiri Nindi dan memeluknya.


"I Miss you so much," kata Gilang


Mendengar kata dari Gilang membuat Nindi tersenyum dalam hati, sebenarnya dia juga sangat merindukan suaminya.


"Aku enggak," sahut Nindi


"Yakin?" tanya Gilang dengan penekanan.


"Yakinlah mas," jawab Nindi


Gilang yang gemas semakin mengeratkan pelukannya, Nindi juga menerimanya dan itu membuat Gilang tersenyum puas.


"Akhirnya kamu mau menerima pelukan dari aku sayang," bisik Gilang.


Nindi yang sadar pun melepaskan pelukannya, "Kenapa dilepas?" protes Gilang


"Lupa kalau lagi mode merajuk," sahut Nindi.


"Ternyata orang merajuk bisa lupa juga ya," kata Gilang yang membuat Nindi malu.


"Bisalah," jawabnya ketus, "Sudah sudah aku lapar, lebih aku makan mas," imbuh Nindi kemudian.

__ADS_1


Nindi memutar kursi rodanya dan ingin keluar namun tangan Gilang memegangi kursi roda Nindi.


Dia mengangkat Nindi lalu membawanya ke tempat tidur, "Cukup diam disini dan ijinkan aku melayani kamu," kata Gilang lalu keluar untuk mengambil makanan.


Nindi tersenyum melihat Gilang apa sebaiknya dia memaafkan Gilang dan melakukan gencatan senjata toh alam bawah sadarnya juga respon sekali dengan sentuhan Gilang.


Dia juga tidak ingin munafik kini, capek juga merajuk dan marah terus menerus, membohongi diri sendiri.


Setalah mendapatkan makanannya Gilang kembali ke kamar dan duduk di sisi Nindi.


"Aku siapin ya," kata Gilang


Nindi mengangguk, dan itu membuat Gilang sangat bahagia.


"Makan bareng saja," sahut Nindi yang membuat Gilang menatapnya.


"Iya," jawab Nindi.


Gilang sungguh sangat senang, bahkan matanya basah saking bahagianya.


"Suapan pertama buat kamu ya?" ucap Gilang dengan tersenyum


"Aku jadi ingat yutuber mukbang," sahut Nindi


"Iya kah," timpal Gilang.


Nindi mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Karena sama-sama lapar dalam sekejap makanan habis tak bersisa, tinggal piring kotor dan teman-temannya.


"Maaf mas, akhirnya kamu yang melayani aku bukan aku," kata Nindi yang membuat Gilang lagi-lagi terpaku.


"Subhanallah sayang, kamu sudah maafin aku?" tanya Gilang.


Nindi hanya tersenyum, "Ini gak prank kan sayang," kata Gilang lagi dengan penuh penekanan.


Nindi menggeleng, "Aku lelah mas, sebenci bencinya aku sama kamu, akan kalah dengan rasa cintaku padamu," kata Nindi dengan menatap Gilang.


Gilang yang tak kausa segera memeluk Nindi


"Maafkan semua sikap buruk aku sayang, aku sangat bersyukur karena ayah menitipkan kamu padaku saat itu, eh maaf maksud aku bukannya aku suka ayah meninggal," ucap Gilang


"Mungkin inilah yang dinamakan jodoh mas, semenyakitkannya sikap kamu padaku namun aku selalu ada alasan untuk memaafkan kamu, dan aku selalu bisa. Mungkin Tuhan tidak ingin kita berpisah," sahut Nindi


Gilang melepas pelukannya lalu menangkupkan kedua tangannya di wajah Nindi


"Makasih sayang, makasih. Aku memang suami yang tak tau diri sayang, maafkan aku," ucap Gilang dengan menangis.


"Maafin aku juga mas, lebih baik kini kita saling berbenah, apa yang menjadi kekurangan kita mari kita perbaiki," kata Nindi


Gilang mengangguk dan mengecup istrinya berkali-kali, entah terbuat dari apa hati istrinya, hingga kini dia mau memaafkan kesalahan yang dibilang cukup fatal.


"Aku janji tidak akan menjadi alasan air mata kamu keluar sayang, Im promise," kata Gilang.


"Dan aku akan menagih janjimu mas," sahut Nindi dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2