
Mata Rara membola, dia nampak pucat. Bagaimana Gilang bisa tau kalau dirinya adalah Rara namun Nindi berusaha tenang dan berkilah.
"Apa maksud kamu mas? Rara siapa? aku nggak ngerti," tanya Nindi pura-pura tidak tau apa maksud Gilang.
Gilang tertawa keras, "Pintar sekali dirimu Nin! sudah ketahuan masih bisa berkilah," kata Gilang lalu beranjak dari tempat tidur.
Dia duduk di sofa dengan membuang wajahnya sembarang, hatinya sungguh sakit akan kebohongan istrinya sendiri, Gilang merasa ditipu oleh Nindi.
Nindi pun ikut beranjak dari tempat tidur sekarang, membenahi bajunya yang berantakan, dia duduk di samping Gilang.
Nindi menghela nafas, "Lalu?" tanya Nindi mencoba santai sambil menatap Gilang yang berada di sampingnya.
Gilang sontak menatap wajah Nindi, sungguh dia kesal sekali dengan istrinya tersebut.
Tangan Gilang mengepal rahangnya juga mengeras,
dia memegangi kedua pundak istrinya lalu menggoyangkannya, Gilang benar-benar kesal karena Nindi mempermainkannya, mempermainkan perasaannya, padahal sepenuh hati dia mencintai Rara.
"Kenapa!" teriak Gilang dengan sorotan mata yang tajam.
Nindi segara menepis tangan Gilang, "Kenapa! aku yang seharusnya bertanya padamu, kenapa kamu menikahi aku dan mengabaikan aku. Aku tidak meminta kamu datang dalam hidupku, aku juga tidak meminta kamu untuk menikahi aku tapi kamu yang datang sendiri lalu mengajak aku untuk menikah, dengan sikap yang sok manis dan perhatian kamu mampu membuat aku mencintai kamu namun setelah menikah kamu malah mengabaikan aku," kata Nindi dengan nada yang kalah tinggi.
"Aku menginginkan rumah tangga yang normal mas, bukan rumah tangga pura-pura seperti ini, asal kamu tau setiap malam aku membayangkan tidur dengan mu, memeluk dan dipeluk olehmu namun kamu hanya memandang aku sebelah mata," imbuh Nindi
Gilang hanya dia beribu bahasa, memang dia sungguh keterlaluan. Giliran Nindi berubah jadi Rara dia langsung jatuh hati.
"Saat aku jadi Rara, kamu tidak bisa mengenaliku kan, kamu terbuai dengan kecantikan Rara padahal itu adalah istrimu sendiri, istri yang tidak kamu anggap," kata Nindi lagi.
Nindi lega sekarang karena dia telah mengeluarkan isi hatinya pada Gilang, dia sudah tidak peduli lagi dengan pernikahannya bahkan dia ingin pergi dari Gilang.
Baik Nindi maupun Gilang kini saling diam, mereka kalut dengan pikiran masing-masing.
"Karena sudah seperti ini, bagiamana kalau kita berpisah saja mas," kata Nindi yang membuat Gilang membolakan matanya.
"Pisah?" tanya Gilang penuh penekanan
Meskipun dia kesal dan marah namun tidak terbesit sedikit pun keinginan untuk pisah dengan istrinya. Selain janjinya pada mendiang ayah Nindi, Gilang juga sangat mencintai Rara dan Gilang tidak ingin kehilangan cintanya.
__ADS_1
"Iya mas," jawab Nindi dengan menangis
Sedih juga jika harus berpisah dengan Gilang tapi bagaimana lagi mungkin berpisah adalah yang terbaik untuk mereka berdua, Gilang menikah dengan Nindi bukan karena cinta begitu pula sebaliknya Rara juga berbohong untuk mendapat cinta Gilang meskipun akhirnya di berhasil membuat Gilang bertekuk lutut.
"Jangan Nin, aku mohon," kata Gilang mengiba, bagaimanapun juga Gilang tidak setuju jika Nindi pergi meninggalkannya.
"Bukankah kamu tidak mencintaiku mas?" sahut Nindi dengan menatap Gilang.
Gilang memeluk tubuh Nindi dengan erat, "Maafkan aku Nin," bisik nya.
Nindi tersenyum sinis, "Aku tahu kamu tidak ingin kehilangan Rara, tapi aku tidak mau menjadi Rara kembali, aku Nindi sampai kapanpun tetap Nindi.
Entah Gilang sendiri tidak mau kehilangan Nindi atau Rara, sekertaris atau istrinya.
Nindi hanya diam, dia bingung sekarang. Cintanya pada Gilang juga begitu besar, Gilang lah lelaki pertama yang dia cintai. Gilang lah yang membuat hidupnya penuh cinta meski itu dia dapatkan setelah menjelma sebagai Rara.
"Sudahlah mas, mungkin memang kita tidak berjodoh. Semoga kamu mendapatkan wanita yang terbaik tidak seperti diriku ini yang tidak prospek sama sekali, yang hanya dipandang sebelah mata bahkan untuk mendapatkan cinta suami aku harus menjadi orang lain," sahut Nindi dengan air mata yang jatuh.
Nindi melepas pelukan Gilang, dia mengambil kopernya lalu membuka lemari dan memasukkan bajunya ke dalam koper.
Dia menarik tangan Nindi dan mengembalikan kembali baju Nindi dalam lemari namun Nindi mengeluarkannya lagi dan memasukkannya kembali ke dalam koper.
"Stop mas! stop! biarkan aku pergi," pinta Nindi
"Tidak Nin, aku tak sanggup berpisah darimu," sahut Gilang
"Kamu tidak bisa berpisah dari Rara bukan Nindi!" bentak Nindi
"Baik Nindi ataupun Rara sama saja, kalian orang yang sama," sahut Gilang tak mau kalah.
"Terserah," timpal Nindi.
Gilang akhirnya menyerah,
"Pikirkan lagi Nin?" tanya Gilang dengan lirih
"Sudah aku pikirkan mas," jawab Nindi lalu dia menarik kopernya dan berjalan melewati Gilang yang masih shock dengan keputusan Nindi untuk pergi dari hidupnya.
__ADS_1
Nindi keluar dari kamarnya, sebenarnya dia bingung juga setelah ini harus tinggal dimana, sedangkan rumahnya dulu adalah rumah kontrakan.
Saat hendak membuka pintu keluar, Gilang tiba-tiba memeluknya dari dari belakang, "Jangan tinggalkan aku," bisik nya.
Ternyata Gilang belum menyerah, dia sungguh menahan Nindi supaya tidak pergi.
"Mas Gilang!" bentak Nindi
"Please Nin, Please! aku mohon jangan pergi jangan tinggalkan aku, apa cintamu sudah tidak ada untukku?" kata Gilang yang membuat Nindi semakin bingung.
Gilang semakin erat memeluk Nindi,
Nindi mencoba meronta, namun tenaganya kalah besar dengan Gilang.
Sebisa mungkin dia menahan Nindi supaya tidak pergi.
Beberapa saat kemudian Gilang melepas pelukannya, dia membuang semua egonya lalu berlutut di depan Nindi.
Mata Nindi terbuka lebar, dia tidak menyangka Gilang akan melakukan hal itu.
"Apa yang kamu lakukan mas," kata Nindi
"Memohon padamu Nin, supaya kamu tidak pergi meninggalkan aku," kata Gilang.
Lagi-lagi air mata Nindi meleleh, dia tak tahu harus bagaimana sekarang.
Hidup bersama Gilang atau pergi sejauh mungkin dan melupakan Gilang.
Nindi lalu terduduk di depan Gilang yang masih berlutut didepannya.
"Jangan rendahkan dirimu demi aku mas, demi wanita yang sangat tidak prospek sama sekali, di luar sana masih banyak wanita yang mengejar-ngejar dirimu," kata Nindi tanpa menatap Gilang.
"Dari kecil, papaku mengabaikan mama dan diriku, aku berusaha keras melawan dunia supaya aku bisa menjadi seorang yang sukses agar bisa memuliakan mamaku, aku tidak tau cara mencintai seseorang dengan tulus. Aku tau aku salah memandang fisik kamu yang tidak prospek tapi kamu juga salah mengapa tidak mengubah dirimu untuk mendapat cinta suami kamu kenapa malah menjadi orang lain," jelas Gilang.
Nindi kali ini yang terdiam mendengar penjelasan dari Gilang, memang benar juga yang dikatakan oleh suaminya tersebut.
"Baiklah mas, aku tidak akan pergi namun ada syaratnya,"
__ADS_1