
"Lalu gimana jalan keluarnya?" tanya Celo
Mereka berdua berfikir kesana kemari, bagaimana dalam proses ngidam mereka nggak mual.
Akhirnya Alex membagi hari masuk kerjanya.
Celo masuk hari Senin-Rabu sedangkan Celo Kamis-Sabtu jadi mereka bisa mengatur pegawai mereka yang mana saat hari Senin jadwal Celo yang masuk jadi semua pegawai tidak ada yang boleh memakai parfum, dan Kamis-sabtu gantian Alex jadi semua pakai parfum.
"Gimana? fair kan?" tanya Alex
"Iya kak," jawab Celo dengan tertawa.
**************
Sore ini Nindi sudah diperbolehkan pulang, di rumah Gilang sudah menyiapkan baby sitter untuk Angela dan Angelo, Gilang tidak ingin Nindi repot mengurus buah hati mereka namun Gilang juga berpesan pada Nindi untuk tetap ikut andil dalam mengurus Angela dan Angelo.
Papa Gilang juga menginap di rumah dan ini cukup membuat mama Gilang kikuk selama bertahun tahun mereka tidak pernah tidur bersama.
"Mas kamu tidurnya agak kesana," kata Mama Gilang.
"Aku merindukan kamu," jawab papa Gilang yang semakin dekat dengan mama Gilang, hingga akhirnya hal yang sangat sangat diinginkan pun terjadi. Meski usia sudah tua, namun mama dan papa Gilang masih butuh gulat.
Keesokannya, Celo, Alex, Nita, Indira dan mama mereka datang untuk menjenguk anak Gilang dan Nindi. Saat mereka semua turun dari mobil mama Celo dan Alex melihat papa dan mama Gilang duduk bersama, dia pun tersenyum.
"Pagi mas, mbak," sapa mama Alex
"Pagi,' balas keduanya.
Mama Gilang memanggil Nindi dan Gilang yang sedang asik dengan bayi-bayi mereka.
"Gilang, Nindi ada mama, Alex dan juga Celo," kata Mama
"Iya ma," sahut Gilang lalu dia bersiap untuk menemui mama dan kakak kakaknya.
Gilang menggendong Angelo dan Nindi menggendong Angela.
"Astaaga baunya seger sekali," kata Celo lalu mendekati Nindi yang sedang menggendong Angela.
Celo segera mengendus bau bayi Angela, dan ini membuat mama menggelengkan kepala
"Kak Celo, baby-nya kegelian," kata Nindi karena Angela menggeliat saat Celo mengendus baunya.
"Nin bayi kamu baunya enak banget," ucap Celo
"Lagi ngidam tu Nin, aku juga disuruh pake parfum minyak kayu putih," sahut Indira
"Astaga kak Celo," timpal Gilang
"Kak, gimana kalau aku yang pake minyak kayu putih jadi kak Celo mengendus aku saja," kata Gilang
"Ogah, kalau istri kamu aku baru mau," goda Celo
Indira dan Gilang melemparkan tatapan mautnya pada Celo, dan ini membuat Celo terkekeh.
"Ya Allah, tatapan kalian sungguh mematikan," kata Celo dengan terkekeh.
Indira kini meminta ijin pada Gilang untuk menggendong Angelo.
"Aku gendong ya mas Gilang," ijin Indira
"Silahkan," sahut Gilang lalu memberikan Angelo.
Kini mereka bercanda bersama dengan Celo menggendong Angela dan Indira menggendong Angelo.
__ADS_1
"Eh Nita, kamu subur sekali perasaan Dania masih kecil kamu sudah hamil lagi," kata Gilang
"Hehe, itu Gilang ni kakak kamu nggak mau absen gulat, aku tiap hari dijajah terus," sahut Nita dengan tertawa
"Alah, padahal kamu yang minta Lo," timpal Alex
"Ih, siapa yang minta. Kamu tu yang rayu-rayu," sahut Nita.
"Eh nggak," sahut Alex
Mereka semua tertawa,
Takut Angela dan Angelo terganggu, Nindi memanggil baby sitter. Mama Gilang, mama Alex dan Celo serta papa juga pamit. Mereka ingin mengobrol sendiri.
"Memang betul Nita, para suami kita memang me sum, kadnag aku juga heran," ucap Nindi
"Betul," sahut Nita dan Indira.
"Wah wah wah, pelanggaran nih para istri. Mereka bilang kita me sum padahal mereka juga menikmati," ungkap Gilang
"Nggak," sangkal mereka bertiga barengan
"Hmmmm, munafik," timpal Celo
"Betul, padahal mereka ah eh ah eh dibawah kita," seloroh Alex
Muka ketiga istri ini jadi merah, bisa-bisanya Alex bicara seperti itu.
"Itu namanya menjiwai, kalau nggak ah eh ah eh, seperti ada yang kurang gitu," kata Nita dengan menatap suaminya.
"La ya bearti kalian para istri menikmati kan permainan kami," sahut Celo dengan tertawa.
Mereka semua mengobrol kesana kemari hingga tak terasa waktu makan siang datang.
Alex dan Celo menjadi mual melihat makanan yang tersaji di meja makan.
"Kalian kenapa?" tanya papa
"Mual pa," jawab Celo
Mama Gilang kemudian bertanya pada Celo dan Alex mau makan apa.
Entah mengapa mereka ingin sekali makan mangga muda.
"Manga muda ada nggak ma?" tanya Alex
"Ada Alex, kebetulan mangga belakang rumah berbuah," jawab mama Gilang
"Alex kamu kok merepotkan mama kamu," omel mamanya sendiri.
"Eh nggak repot kok, anak ngidam kok dibilang merepotkan," sahut mama Gilang.
Alex dan Celo entah mengapa menatap Gilang dengan senyum-senyum. Gilang merasa ada yang tidak beres pun bertanya
"Kalian nggak ingin aku yang memanjat kan?" tanya Gilang
"Tuh, kamu sudah tau," jawab Alex
"Astaga, lepas dari kandang singa sekarang masuk mulut buaya, setelah lepas dari ngidam Nindi sekarang harus menuruti ngidam kakak-kakak laknat," keluh Gilang dengan melemas
"Ayolah Gilang, please. Kamu nggak ingat dulu saat kami jadi boyband abal-abal kamu bilang akan bantu kalau kakak kakak kamu ngidam, iya kan?" ungkap Celo
"Astaga masih ingat saja," kata Gilang dengan lirih
__ADS_1
"Kamu nggak akan ingkar janji kan," kata Alex dengan tertawa
"Turuti saja Gilang keinginan kakak kamu," suruh mama Gilang.
"Baiklah-baiklah," ucap Gilang pasrah.
Kini mereka bertiga menuju pohon mangga yang berbuah banyak. Buahnya cukup besar bahkan udah setengah matang.
"Gilang kalau bisa Carikan yang dimakan kelelawar ya, biar anak-anak kami cantik dan ganteng," pinta Celo
"Nggak, noh yang dimakan kelelawar letaknya di atas, aku nggak mau mempertaruhkan diri, anak-anak aku baru lahir. Lagian kalian ada-ada aja. Bayi ganteng dan cantik itu tergantung orang tua mereka kalau orang tuanya ganteng seperti kalian pasti anak-anak kalian cakep dan cantik," jelas Gilang
Alex dan Celo tertawa, tapi entah mengapa mereka ingin makan yang sudah disisai kelelawar.
Akhirnya mau nggak mau Gilang mengambil mangga yang di makan kelelawar.
Seusai mendapatkan mangganya mereka segera melahap habis buah mangga yang sedikit asam tersebut.
"Ih rakusnya," kata Gilang dengan menelan salivanya karena melihat Celo dan Alex yang makan buah mangga dengan lahap.
Seusai memenuhi keinginan mereka Nita dan Indira mengambilkan makan untuk Celo dan Alex, bagiamana pun juga mereka harus makan.
Setalah makan mereka berkumpul kembali.
"Papa senang, akhirnya kalian saling menyayangi dan papa berharap jika nanti mama dan papa sudah nggak ada kalian akan tetap menjaga silahturahmi kalian, ingat Alex Celo, Gilang itu saudara kalian begitu pula sebaliknya Gilang, Celo dan Alex itu Kakak kamu," pesan papa.
Semua pun tersenyum, kini tidak ada saudara tiri semua satu keluarga yaitu keluarga Admadja.
Cuplikan Farah
.
Di kota barunya, Farah berkerja sebagai pelayan di sebuah cafe. Dia benar-benar ingin merubah hidupnya, dia berharap ada lelaki yang menyayanginya dan mencintainya.
Farah sangat rajin bekerja, selain rajin Farah juga sangat ramah dengan para customer dan ini membuat Manager cafe tersebut suka dengan karakter Farah yang sangat humble.
Disisi lain David yang sedang makan tiba-tiba merasa mual dan dia memuntahkan semua makanannya.
Hal ini terus terjadi dan akhirnya David memeriksakan dirinya ke dokter.
"Anda tidak sedang sakit pak, tubuh anda baik-baik saja," kata Dokter
"Bagaimana bisa dok, padahal setiap pagi saya selalu muntah, badan saya lemas dan tidak nafsu makan," sahut David
"Mungkin istri anda sedang hamil pak,"
Tamat.
Hai hai kak, akhirnya tamat juga, maaf ni aku gantung biar Kakak semua selalu ingat sama aku
(Nggak ada hubungannya sama sekali 🤣🤣)
Meskipun nggak melejit seperti novel sebelumnya namun aku udah sangat bahagia karena kakak semua udah ngikutin ceritanya dari awal sampai akhir apalagi yang udah mau koment atau dukung aku ya Allah rasanya aku terharu banget 😭( lebay nya🤣🤣).
Ini aku ada novel baru ya kak, kemarin udah aku umumkan sih😂 jangan lupa mampir ya kak.
jangan lupa like koment hadiah dan vote biar aku selalu semangat nulisnya
Untuk yang udah dukung aku habis-habisan aku umumkan besok ya, sekalian ni mau lihat-lihat dari awal untuk cari top komen. aku mau cari komen yang buat aku ngakak, terpesona dan lain-lain .
Makasih ya kak😍😘😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1