
Nita menggerutu, dia kesal sekali dengan Nindi yang telah menghalangi rencannya untuk mendekati Gilang.
"Dasar wanita gatel, awas kamu!" gerutu Nita lalu pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya berusaha mengurangi gerah dalam hatinya.
Melihat Nita kepanasan membuat Nindi tersenyum puas, jangan dikira seorang istri itu lemah, belum tau juga dia kekuatan istri yang menjaga miliknya supaya tidak diambil pelakor.
Beberapa saat kemudian Nita kembali dengan wajah yang fresh meski nampak kesal.
Nindi masih nempel seperti perangko pada suaminya hingga Nita mendekat dan mengingatkan Gilang kalau ada jadwal bertemu klien.
"Astaga, aku kok lupa ya," kata Gilang
Nita nampak tersenyum, sekarang gilirannya yang dekat dengan Gilang.
"Sayang aku tinggal sebentar nggak papa kan?" tanya Gilang dengan menatap istrinya tersebut.
Nindi tersenyum meski hatinya enggan membiarkan Gilang pergi bersama Nita.
"Nggak papa mas, hati-hati ya," sahut Nindi.
Gilang dan Nita keluar ruangannya untuk menemui klien mereka sedangkan Veri tidak ikut karena banyak pekerjaan yang harus dikerjakan.
Setalah Veri menyelesaikan semuanya dia ke ruangan Gilang untuk memberikan berkas-berkas.
"Pak Gilang mana Bu?" tanya Veri
"Pak Veri jangan panggil Bu dong, panggil nama saya saja," kata Nindi dengan tersenyum
Veri tersenyum, "tapi kan....belum sempat melanjutkan kata-katanya Nindi sudah menyela
"Gak ada tapi tapian," sela Nindi
"Baiklah Nin," timpal Veri.
Veri dan Nindi mengobrol di ruangan Gilang sambil menunggu Gilang pulang.
"Apa kamu bisa pak cari sekertaris lain," kata Nindi yang membuat Veri menoleh ke arahnya
"Ada maslaah?" tanya Veri
"Nggak sih cuma, aku takut saja mas Gilang tergoda dengan Nita," jawab Nindi
Veri tersenyum, Veri meminta Nindi untuk tenang dan selalu berpikiran positif karena menurut Veri sendiri Nita sangat profesional jadi tidak mungkin kalau dia macam-macam.
__ADS_1
"Jangan berfikiran yang negatif Nin, Nita cukup profesional kok. Semoga saja apa yang kamu takutkan nggak kejadian," kata Veri mencoba menenangkan Nindi.
Nindi hanya bisa tersenyum
"Kamu nggak tau pak Veri," batin Nindi dengan menatap Veri lekat sehingga membuat Veri kikuk.
Nindi belum berani bilang pada Veri karena dia tidak punya bukti, lagian kakak Gilang juga terlibat dia takut kalau timbul masalah keluarga mengingat hubungan Gilang dengan papa maupun kedua kakaknya tidak baik.
Yang hanya bisa Nindi lakukan adalah menjaga Gilang supaya tidak jatuh dalam perangkap Nita dan juga kakak kakaknya.
Tak ingin terus membicarakan Nita, Mereka kini mengganti topik pembicaraan dengan topik yang lainnya.
"Oh ya Nin, kamu sangat cantik kenapa dulu nggak langsung dandan kenapa harus lewat jadi Rara?" tanya Veri
"Ya kan aku sakit hati pak sama mas Gilang, dia telah mengabaikan aku karena aku jelek," jawab Nindi
"Mungkin karena dia belum mengenal kamu Nin," sahut Veri
"Nggak lah pak, dia sendiri yang bilang ke aku sendiri kalau dia itu nggak suka sama aku karena aku nggak prospek, jujur banget kan dia," timpal Nindi
Veri tertawa dengan keras, memang benar Gilang terlalu jujur bahkan di depan istri sendiri bilang kalau tidak prospek, "Ya sudah yang terpenting dia telah cinta mati dan bucin level up sama kamu, untuk itu kamu harus terus jaga penampilan supaya pak Gilang menjaga hatinya untuk kamu" ujar Veri dengan tersenyum.
Nindi mengangguk dengan tersenyum.
Veri juga harus kembali ke ruangannya, lalu dia pamit pada Nindi.
"Nit, hubungi lagi," titah Gilang dengan wajah yang kesal karena tiga puluh menit menunggu namun kliennya tak kunjung datang.
Sebenarnya Klien sudah memberitahu Nita kalau jadwal di undur yang semula jam sepuluh mundur jadi jam dua belas sekalian makan siang namun Nita tidak lapor pada Gilang. Dia sengaja melakukan hal itu supaya bisa dekat dengan Gilang karena di kantor ada Nindi yang nempel terus seperti perangko.
"Tidak diangkat pak," kata Nita berbohong.
Gilang ingin kembali ke kantor, kesal sekali dengan kliennya yang tidak bisa menghargai waktu.
"Kalau menurut saya mending kita tunggu pak, takutnya kalau kita pulang dan ternyata mereka datang, mungkin saja mereka terjebak macet atau yang lainnya," sahut Nita
Gilang nampak berfikir lalu mengiyakan perkataan Nita, dan itu membuat Nita bahagia.
Setidaknya dia punya waktu berdua dengan Gilang.
"Pak Gilang sangat mencintai Bu Nindi ya," kata Nita basa basi
"Iya, sangat," sahut Gilang.
__ADS_1
"Saya jadi iri dengan Bu Nindi, dia dapat cinta yang begitu besar dari suaminya sedangkan saya dikhianati oleh suami saya," ucap Nita pura-pura bersedih.
Gilang nampak iba pada Nita, "Sabar Nit, nanti kamu pasti akan dapat pria yang mencintai kamu," ujar Gilang.
"Terima kasih pak," sahut Nita dengan tersenyum.
**********
"Kamu kenapa bisa teledor Nit, seharusnya kamu mengecek pesan, seperti ini akhirnya saya rugi waktu," omel Gilang sambil terus berjalan keluar restoran menuju mobilnya.
Klien Gilang mengklarifikasi kalau dia sudah meninggalkan pesan pada sekertaris Gilang sebelumnya jika mereka mengundur meeting mereka.
Nita pun berkilah kalau tidak membuka pesan dari klien Gilang.
"Maafkan saya pak," kata Nita dengan berekspresi melas.
Melihat Nita yang melas membuat Gilang tak tega, dia menyadari kalau setiap orang pasti melakukan kesalahan baik yang di sengaja maupun tidak.
Kini mereka berdua kembali ke kantor, Gilang berjalan dengan langkah panjang dia khawatir dengan Nindi yang sendirian menunggu di ruangannya.
Hingga saat di ruangan Gilang Nita terjatuh karena lelah mengejar Gilang yang berjalan dengan langkah panjangnya.
"Awwwww," pekiknya lalu memegangi kakinya.
Nindi yang tau mencoba mendekat, "Kamu kenapa Nit?" tanya Nindi
"Maaf Bu, saya tidak sengaja terjatuh karena mengejar langkah pak Gilang yang panjang," jawab Nindi.
Nita berharap Gilang yang akan menolongnya namun Nindi malah menyuruh OB yang kebetulan lewat untuk membantu Nita duduk ke mejanya.
"Brengsek wanita ini, masak iya aku dibantu oleh Ob." Nita menggerutu dalam hati.
Ingin menolak tapi memang dia tidak bisa berdiri, Nindi juga meminta Ob untuk mengambilkan es batu untuk mengompres kaki Nita.
*********
Setiap hari Nindi selalu datang ke kantor sehingga membuat Nita harus melaporkan masalahnya pada Celo dan Alex dan ini membuat Celo dan Alex murka.
"Kita tidak bisa meremehkan istri Gilang, kelihatannya dia sudah merasakan kalau ada yang beres dengan Nita," kata Alex
"Apa kita harus turun tangan?" tanya Celo
"Jangan dulu, kita lihat sampai mana Nita mengatasi istri Gilang," jawab Alex.
__ADS_1
"Baiklah kak," sahut Celo.
Mereka berdua lalu menghubungi Nita jika Gilang tak kunjung luluh lebih baik memberi Gilang obat dan menjebaknya karena itu jalan satu-satunya.