
Pagi kak,
gimana kabarnya? semoga baik ya.π
Mohon maaf yang gede kerena komen part sebelumnya nggak ada yang aku balasπβοΈβοΈβοΈ soalnya aku bingung hehehe.
Oh ya sesuai janji kemarin aku akan pilih satu koment yang nantinya akan aku buat ide dalam part ini.
Sebenarnya bingung banget karena komen Kaka semua tu bagus-bagus banget, tapi sayang aku hanya bisa pilih satu ya kak.
Untuk komen/sarannya yang nggak aku pilih jangan berkecil hati ya karena episode-episode berikutnya aku akan buat kuis lagi biar kita saling share dan dukung ya kak, lope lope pokoke ma kakak semuaπππππ.
Aku tu tertarik ma koment dua dari kakak @Piet Mayong, namun di kolom komentar nggak ada, dan juga koment dari kak @Rini Akbarini
jadi yang aku pilih adalah koment kak @Rini Akbariniπππππ
Untuk kak Rini hubungin aku ya kakπ
Gilang membolakan matanya, dia juga menjatuhkan ponselnya sehingga membuat mama yang melihatnya jadi panik.
"Ada apa Gilang?" tanya mama dengan perasaan yang tidak enak.
"Nindi kecelakaan ma," jawab Gilang.
"Ya Allah Gilang, kok bisa. Ayo kita kesana," sahut mama lalu berlari ke kamar untuk mengambil tas.
Gilang masih membatu di sofa, pikirannya sudah kemana-kemana, dia teringat akan kejadian saat dia menabrak pak Slamet dulu dan itu membuat Gilang takut, dia takut kalau Nindi akan meninggalkannya.
"Jangan sayang, jangan pergi," ucap Gilang dengan menangis.
Mama segera menarik Gilang kemudian mereka menuju mobil dan pergi ke rumah sakit dimana Nindi dibawa oleh warga sekitar.
"Kalau terjadi apa-apa dengan Nindi gimana ma," kata Gilang yang membuat mamanya iba namun dia kesal juga dengan sikap anaknya yang selama ini yang ngga peduli dengan istrinya dan kini dia sangat takut saat istrinya mengalami kecelakaan.
"Kita berdoa saja semoga Nindi nggak kenapa-kenapa," kata Mama.
Beberapa saat kemudian mobil Gilang sudah sampai di rumah sakit, dia segera ke resepsionis dan bertanya Nindi korban kecelakaan dirawat dimana. Setalah mengantongi Informasi, Gilang berlari ke ruang UGD, di sana terlihat Nindi terbaring dengan tubuh penuh luka-luka.
Gilang nampak sedih melihat keadaan istrinya yang seperti ini. Dia langsung memeluk Nindi yang masih tak sadarkan diri. Mama Gilang mengelus punggung anaknya. Saat bersamaan datanglah suster.
"Bagaimana keadaan istri saya sus?" tanya Gilang
"Istri anda tadi terpental keluar mobil pak, dan saat terpental posisinya duduk sehingga kemungkinan istri anda mengalami kelumpuhan namun untuk lebih jelasnya anda bisa tanyakan langsung pada dokter yang menanganinya," jawab suster
__ADS_1
Gilang dan mama nampak terpukul, dia tidak menyangka kalau istrinya akan mengalami hal ini.
"Maafkan aku sayang," kata Gilang dengan mata yang basah.
"Kita berdoa saja Gilang supaya Nindi cepat sembuh," kata mama mencoba menghibur Gilang
Beberapa suster datang dan hendak memindahkan Nindi ke ruang perawatan, dan Gilang meminta suster untuk memindahkan istrinya ke ruang VVIP.
"Nanti dokter akan memeriksa istri anda lagi, sekarang beliau masih sibuk dengan pasien korban kecelakaan yang lain," kata suster lalu mendorong brankar Nindi.
Gilang dan mama mengekori suster yang mendorong brankar Nindi, dan beberapa saat kemudian sampailah mereka di ruang VVIP,
Setelah memindahkan Nindi suster pamit mengurusi pasien yang lain.
Gilang terus berada di sisi Nindi, dia memegangi tangan Nindi dan menciuminya.
Mama juga ikut menunggui namun karena beliau lelah akhirnya beliau memutuskan untuk istirahat dia bed tamu yang tersedia.
Beberapa saat kemudian Nindi membuka matanya, dia memijat pelipisnya karena kepalanya terasa pening.
"Aku dimana ini?" katanya.
Gilang sangat senang saat istrinya sadar, dia menciumi tangan Nindi.
"Kamu di rumah sakit sayang," sahut Gilang.
"Kakiku kenapa nggak bisa aku gerakkan?" tanya nya dengan raut wajah yang tak karu-karuan.
"Tenanglah kita tunggu dokter untuk meminta penjelasanya," jawab Gilang.
Saat bersamaan datanglah dokter yang menangani Nindi. Ternyata secara kebetulan dokter yang menangani Nindi adalah dokter yang juga menangani ayah Nindi saat itu dan dokternya masih ingat dengan Gilang.
"Apa yang terjadi dengan istri saya dok?" tanya Gilang
"Istri anda mengalami cidera pada tulang bagian belakang sehingga mengakibatkan istri anda mengalami kelumpuhan sementara," jawab Dokter.
Nindi nampak shock dengan jawaban dokter, dia menangis histeris dan menyalahkan Gilang atas semua yang terjadi pada dirinya.
"Ini semua gara-gara kamu mas," kata Nindi dengan menangis.
Gilang mencoba memeluk istrinya, namun Nindi berontak.
"Jangan peluk aku, aku membenci kamu pergi! pergi!," teriak Nindi
Gilang bukannya pergi malah semakin erat memeluk istrinya, dia sungguh menyesal sekarang.
Dokter kemudian menyuntikkan obat penenang untuk Nindi supaya dia bisa istirahat.
__ADS_1
Dokter juga menjelaskan dengan terapi Nindi akan bisa berjalan dengan normal kembali.
Karena harus mengurusi pasien lain dokter pamit undur diri.
Gilang nampak sedih melihat keadaan istrinya, mama yang melihatnya pun jadi ikut sedih, kenapa bisa seperti ini.
Gilang kini hanya bisa menyesal dan seandainya dirinya tidak egois mungkin Nindi malam ini tidak akan pergi dan tentu tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini.
*********
Keesokan harinya Mama pamit pulang dia meminta supirnya untuk menjemput
"Maaf Gilang mama pulang dulu ya," kata mama
"Iya ma, mama hati-hati ya," sahut Gilang.
Selepas kepergian mamanya dokter dan perawat datang, Nindi sebenarnya sudah bangun namun dia masih pura-pura memejamkan matanya karena malas melihat Gilang.
"Anda pak Gilang kan?" tanya dokter
Gilang nampak melihat dokter tersebut dengan saksama, "Iya dok," jawab Gilang heran bagaimana dokter tau namanya.
"Saya adalah dokter yang merawat pak Slamet dulu," ucap Dokter yang membuat Gilang memucat.
"Eh iya dok," sahut Gilang.
Dokter segera mengecek keadaan Nindi, mulai tensi, denyut nadi, degup jantung dan lain-lain.
Dia juga memberikan obat untuk memulihkan cidera tulang bagian belakangnya.
Setalah usai melakukan pemeriksaan Dokter dan para suster pamit untuk undur diri.
"Dok, bisa kita bicara sebentar?" tanya Gilang
Dokter melihat jam tangannya lalu mengangguk, Gilang sesekali melihat Nindi karena dikira Nindi masih tidur dia bicara di tempatnya sekarang tanpa keluar kamar.
Gilang pun berbicara pada dokter dan meminta dokter tidak membahas pak Slamet.
Dia ingin menutup rapat-rapat rahasia pak slamet Karena dia tidak ingin Nindi tau kalau dialah yang menabrak ayahnya.
Gilang takut kalau Nindi tau, Nindi akan meninggalkannya. Dokter mengiyakan permintaan Gilang tanpa tau kalau Nindi sudah mendengar semuanya.
Nindi sangat kecewa karena ternyata suaminya lah yang telah membunuh ayahnya meski itu tidak
disengaja.
Setelah dokter pergi, Gilang mendekati Nindi.
__ADS_1
"Jadi kamu mas yang menabrak ayah waktu itu,"