Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Apa yang terjadi denganku


__ADS_3

Hari ini Nindi tak enak badan sehingga dia tidak bisa mengawal Gilang ke kantor,


"Mas kamu hati-hati ya, nanti kalau sudah di kantor aku maunya kamu VC aku ya, aku ingin melihat kamu bekerja," pesan Nindi


"Siap boz," sahut Gilang dengan terkekeh.


"Kamu nggak apa-apa kan sayang aku tinggal sendiri?" tanya Gilang. "Aku dan Veri ada meeting penting jadi harus ke kantor hari ini tapi akan aku usahakan untuk segera pulang," imbuh Gilang kemudian.


"Nggak apa-apa kok mas," jawab Nindi.


Sebelum Gilang berangkat tak lupa dia memeluk dan mencium istrinya tersebut, Gilang Melu mat bibir Nindi tanpa mau melepaskannya sehingga membuat Nindi menggigit bibir Gilang.


"Kok digigit sih sayang," protes Gilang


"Kalau nggak gitu kamu nggak melepasnya mas, aku juga butuh nafas," omel Nindi dengan bibir yang maju ke depan.


Melihat bibir istrinya yang maju membuat Gilang ingin sekali ********** sekali lagi namun dia takut pada istrinya.


"Ya sudah aku berangkat ya," pamit Gilang


Nindi mencium punggung tangan suaminya dan mengantar suaminya sampai depan pintu apartemennya.


Pagi ini Nita agak kewalahan dengan anaknya yang sulit untuk makan, untuk itu dia pergi menemui tamannya yang kebetulan apoteker. Dia membeli obat nafsu makan dan juga obat perang sang yang rencananya akan dia berikan pada Gilang.


Sebelumnya dia meminta pada temannya untuk mencarikan obat perangsang tok cer.


Dengan senyum penuh kelicikan, dia sudah membayangkan bergulat dengan Gilang.


"Membayangkan saja sudah membuat aku senang, apalagi melakukannya," guman Nita.


Nita adalah seorang janda yang telah memiliki anak, awalnya dia dulu bekerja di perusahaan papa Gilang sebagai manager, namun Celo dan Alex menyuruhnya bekerja sebagai sekertaris di perusahaan Gilang.


Awalnya Nita menolak namun setelah Celo menunjukkan foto-foto Gilang membuat Nita berubah pikiran, kelihatannya dia tertarik dengan ketampanan Gilang.


Sesampainya di kantor Nita segera masuk ruangan Gilang namun dia tidak melihat mejanya, ternyata Gilang sudah menyuruh orang untuk memindahkan meja Nita.


"Brengsek kamu Nin, kenapa sih tidak membiarkan aku satu ruangan dengan pak Gilang, kan enak juga di dirimu kalau di kantor biar aku yang jaga suami kamu," gumam Nita.


Dia pun melihat meja kerjanya di depan ruangan Gilang, jadi kalau ada apa-apa Gilang bisa menghubungi Nita dengan mudah.


Tak selang berapa lama Gilang datang, kali ini Gilang datang sendiri sehingga membuat Nita tersenyum puas.


"Tumben si Nindi nggak ikut, tapi baguslah jadi rencanaku bisa aku aplikasikan di kantor saja," batin Nita dengan tersenyum.


Rencananya memang Nita akan melancarkan aksinya saat dia keluar dengan Gilang untuk menemui kliennya nanti tapi berhubung Nindi tidak ikut dia akhirnya melakukan niat busuknya sekarang.


Nita berjalan menuju pantry untuk membuatkan Gilang kopi, dia tengok kanan dan kiri untuk melihat ada yang datang apa tidak.


Saat hendak mengambil obatnya ada OB yang masuk.


"Bu Nita," panggil OB tesebut hingga membuat Nita panik.

__ADS_1


"Iya," sahutnya dengan tersenyum meski dirinya kini tengah gugup dan panik tingkat dewa.


"Bu Nita ngapain di sini?" tanya OB tersebut.


"Saya membuatkan kopi pak Gilang, karena belum ada kopi tersaji," jawab Nita alasan.


OB tersebut mendekat, lalu mencoba mengambil alih pekerjaannya yang disabotase Nita.


"Sudah biar aku saja yang membuatkan kopi kamu lakukan pekerjaan lain saja," kata Nita.


OB tesebut akhirnya membiarkan Nita melakukan pekerjaannya, dia segera mencampur kopi Gilang dengan obat yang tadi dibelinya.


Dengan tersenyum dan otak yang terus berkelana kemana-mana Nita membawa kopi yang sudah tercampur dengan obat ke ruangan Gilang.


"Ini pak kopinya," kata Nita dengan tersenyum manis


Gilang menoleh, "Terima kasih Nita, kok kamu yang membuat kopi aku?" tanya Gilang


"Iya pak, tadi OB nampak sibuk dan di meja pak Gilang belum tersaji kopi jadi saya berinisiatif untuk membuatkan kopi pak Gilang," jawab Nita dengan curi-curi pandang ke Gilang.


Gilang mengijinkan Nita untuk kembali ke mejanya, meskipun kecewa karena Gilang menyuruhnya kembali ke mejanya namun Nita puas karena sebentar lagi Gilang akan menjadi miliknya.


Nindi di rumah nampak gelisah tak menentu ingin sekali dia ke kantor suaminya namun tubuhnya Tan mendukung, dirinya sangat lemas.


Sudah minum obat tapi masih lemas meskipun sudah agak berkurang sakitnya.


Nindi mengambil ponselnya dan melakukan panggilan pada Gilang.


***Nindi : Mas kamu sibuk ya?


Gilang : Iya nih sayang, karena habis ini aku mau keluar sama Veri untuk menemui klien


Nindi : hati-hati ya mas


Gilang : Siap sayang, oh ya kamu udah sembuh?


Nindi : Belum mas, tapi udah berkurang sakitnya


Gilang : Syukurlah, buat istirahat saja sayang


Nindi : Ini juga lagi rebahan sambil call kamu


Gilang : Hehehe iya ya***


Nindi melarang Gilang memutuskan sambungan teleponnya. Gilang bisa melanjutkan pekerjaannya tanpa memutus sambungan panggilannya.


Karena pengaruh obat, Nindi menjadi mengantuk namun dia masih mencoba membuka matanya untuk melihat sang suami bekerja.


Sesekali Gilang melihat wajah istrinya dari layar ponselnya dan itu membuat Gilang ingin menyusul istrinya rebahan.


Nindi yang tidak kuat menahan rasa kantuknya akhirnya tertidur dengan ponsel yang masih terhubung dengan Gilang.

__ADS_1


Gilang yang tau kalau istrinya tertidur tersenyum manis, meskipun tidur istrinya masih kelihatan cantik sekali.


Otak Gilang kembali ke beberapa waktu yang lalu saat Nindi masih jelek, dia dengan tega ingin mengajak pisah.


Terkadang rasa sesal itu datang menghampiri Gilang hingga membuat Gilang malu dengan sikapnya saat itu, untuk itu kini dia akan menyayangi Nindi dengan segenap jiwanya.


"I love you sayang," guman Gilang lalu mencium layar ponselnya tetap di bibir Nindi.


Veri tiba-tiba datang yang membuat Gilang kaget dan menjatuhkan ponselnya


"Brengsek kamu Ver, kalau masuk itu ketuk atau salam jangan tiba-tiba nongol," umpat Gilang kesal


"Maaf pak, tadi saya lihat pak Gilang menciumi ponsel jadi saya segera memastikan kalau anda baik-baik saja atau tidak," sahut Veri dengan menahan tawa.


"Aku mencium online istriku," timpal Gilang kesal


"Sudah kuduga," ucap Veri yang membuat Gilang semakin kesal.


Gilang mematikan sambungan telponnya yang masih terhubung dia takut kalau mengganggu Nindi istirahat.


"Ada apa?" tanya Gilang


"Maaf pak, saya tidak bisa menemani pak Gilang menemui klien karena klien kita yang dari luar negeri minta bertemu saat ini," jawab Veri


"Oh ya sudah aku bersama Nita saja," sahut Gilang


Setalah itu Veri pamit karena dia juga harus bersiap.


Gilang segera memanggil Nita masuk ke dalam ruangannya,


"Nit, bersiaplah karena kita harus keluar," kata Gilang.


Nita mengangguk dan menatap Gilang kenapa Gilang nampak baik-baik saja.


Lalu dia melihat kopi Gilang ternyata masih utuh.


"Pak Gilang tidak mau kopi buatan saya ya, hingga tidak diminum," ucap Nita dengan pura-pura sedih.


"Oh iya saya lupa Nit," sahut Gilang lalu meneguk habis kopi buatan Nita.


Lalu mereka berangkat, tak selang berapa lama mereka sudah sampai di restoran.


Gilang memesan makanan dan minuman.


Gilang memakan makannya dengan lahap,


Entah apa yang Gilang rasakan


"Aku kenapa ya," gumamnya


Nita yang melihatnya tersenyum

__ADS_1


"Setalah ini kamu jadi milikku Gilang," batin Nita.


__ADS_2