
Alex naik ke atas tempat tidur menyusul Nita yang sudah menggeliat seperti ulat.
Alex yang sudah tidak sabar langsung melakukan penyatuan, ternyata bagian bawah Nita mampu membuat Alex merasakan sensasi himpitan yang luar biasa hingga baru sebentar saja dia sudah mendapatkan pelepasannya.
Nita memohon lagi pada Alex supaya melakukan penyatuan lagi karena dia belum puas sama sekali, panas tubuhnya masih membara dan berkobar bagai api yang disiram bensin.
"Pak please." Nita memohon pada Alex supaya mau melakukan penyatuan lagi.
Alex pun dengan senang hati mengulangi kembali kegiatan tadi. Kali ini berbeda dengan tadi Alex menggempur Nita dengan semangat yang membara membuat Nita melenguh dan mende sah dengan keras dia tak perduli lagi jika anaknya mendengar de sahannya.
Hingga Alex yang sudah sampai pada puncaknya, semburan ke dua tumpah dalam goa Nita.
Puas dan lelah akhirnya mereka tertidur pulas dengan polos tanpa sehelai benang yang menempel di tubuh mereka.
Keesokan harinya terdengar suara pintu diketuk, perlahan Nita membuka matanya, saat membuka mata betapa kagetnya dia saat wajah Alex berada di hadapannya.
"Pak Alex" katanya
Alex menggeliat, lalu perlahan dia membuka matanya juga.
"Jam berapa ini Nita?" tanya Alex dengan menguap
"Jam tujuh pak," jawab Nita dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Alex segera beranjak dari tempat tidur lalu memakai pakaiannya.
Nita hanya mematung sambil mengingat kembali kejadian semalam yang membuatnya berhubungan badan dengan Alex
Air matanya leleh, padahal dia ingin tidur dengan Gilang namun yang tidur dengannya malah Alex.
"Sudahlah Nita, untuk apa kamu menangis bukankah hal yang biasa pria tidur dengan wanita," kata Alex tanpa ada rasa bersalah.
Nita menatap Alex dengan lekat, dia menyunggingkan senyuman sinisnya.
"Tapi bagaimana dengan benih ini pak?" tanya Nita
"Kamu ini terlalu mendramatisir keadaan, belum tentu juga benih aku tumbuh dan berkembang, beroda saja benih itu tidak tumbuh, jika tumbuh pun gugurkan saja atau kamu jebak Gilang supaya dia bertanggung jawab akan anakku, hitung-hitung dia amal dengan keponakannya," jawab Alex dengan tertawa.
Dia sungguh menganggap enteng apa yang telah terjadi, tapi memang begitulah Alex, mana mungkin mau bertanggung jawab atas benih yang ditinggalkan.
Seusai memakai pakaiannya Alex mengambil kontak mobilnya dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Di luar ada anak Nita dan juga art nya, mereka menatap heran Alex bagaimana bisa seorang pria keluar dari kamar mama dan majikannya tersebut.
Tanpa sepatah kata pun Alex keluar dengan menyisakan tanda tanya besar pada art dan juga anak Nita.
Nita segera memunguti bajunya dan membersihkan diri setelah itu dia keluar untuk sarapan.
"Itu tadi siapa ma kenapa keluar dari kamar mama?" tanya bocah kecil yang berusia lima tahun tersebut.
"Teman mama," jawab Nita singkat karena dia tidak ingin anaknya bertanya lebih jauh lagi.
Nita segara menghabiskan sarapannya lalu berangkat. Dia berpesan pada art nya untuk membelikan Rio vitamin penambah nafsu makan setelah itu Nita berangkat dengan pikiran dan hati yang tak karu-karuan.
Setibanya di kantor Nita segera pergi ke mejanya, dia memulai pekerjaannya meski pikirannya menginginkan dia untuk tidak bekerja.
Dengan sedikit paksaan, Nita akhirnya bisa juga melawan arus.
Sedikit demi sedikit dia bisa menyelesaikan pekerjaannya.
Nindi yang ikut Gilang merasa aneh dengan Nita hari ini, dia tidak curi-curi pandang pada Gilang dia juga tidak cari-cari alasan supaya bisa mengobrol dengan Gilang.
"Tumben wanita ular ini jinak hari ini," batin Nindi yang memperhatikan Nita bekerja dari dalam ruangan Gilang.
Gilang memanggil Nita karena butuh laporan, dengan segera Nita menghadap Gilang.
"Nit, nanti ikut saya menemui klien yang kemarin," kata Gilang.
"Pak mohon maaf, bagaimana jika pak Gilang berangkat dengan pak Veri," sahut Nita berusaha menolak ajakan Gilang.
Nindi semakin mengerutkan alisnya, biasanya dia sangat senang tapi kenapa hari ini dia malah menolak.
"Oh ya sudah, aku pergi sama Veri saja," ucap Gilang lalu menyuruh Nita kembali ke mejanya.
Asumsi-asumsi negatif mulai datang memenuhi kepala Nindi, apa ini trik dari Nita supaya dirinya tidak mengawal Gilang lagi atau dia merencanakan sesuatu yang licik lagi.
Karena asumsi-asumsi tersebut Nindi mulai galau, tiba-tiba rasa takut menghampirinya. Dia takut kalau Nita, Alex dan Celo merencanakan sesuatu yang lain pada Gilang.
Arrrgggg
Nindi berteriak frustasi sehingga membuat Gilang menghentikan aktivitas tangannya yang menari-nari di atas keyboard lalu menoleh ke arah istrinya.
"Ada apa sayang?" tanya Gilang lalu beranjak mendekati Nindi yang berpindah duduk di sofa.
__ADS_1
"Nggak papa kok mas, cuma kepalaku sedikit pening saja," jawab Nindi berbohong.
"Istirahat saja kalau begitu sayang," pesan Gilang lalu memijat kepala Nindi.
Saat bersamaan masuklah Nita yang meletakkan laporan yang tertinggal tadi, dia melihat Gilang dengan perhatian memijat kepala Nindi, Nita segera keluar karena tidak ingin lama-lama melihat kemesraan diantara mereka.
"Beruntung kamu Nin, Pak Gilang sangat menyayangi dirimu," batin Nita
Nita kembali duduk ke kursinya dengan air mata yang meleleh, saat menikmati kesedihannya tiba-tiba ponselnya berbunyi, ternyata Alex lah yang mengirim pesan.
Siang ini dia ingin bertemu dengan Nita, melihat pesan dari Alex membuat Nita mencibirkan bibir dia malas sekali bertemu dengan pria yang semalam menghabiskan waktu bersamanya.
Waktu terus bergulir, hingga kini Gilang dan Veri berangkat. Nindi yang boring menemui Nita, dia meminta ijin untuk duduk dan Nita mengijinkan.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya Nita ramah.
Nita memang selalu ramah pada siapa saja, maklum Nita adalah seorang manager jadi dia bisa menjaga attitude nya meski kini dia berhadapan dengan Nindi yang bisa dibilang rivalnya.
"Nggak ada, saya merasa bosan saja," jawab Nindi
Nita tersenyum, dia meninggalkan benda pipih di depannya dan fokus mengobrol dengan Nindi.
"Ya sudah saya bisa menemani anda," sahut Nita.
Nindi sengaja bercerita tantang rumah tangannya pada Nita, dia ingin membuat Nita marah dan berhenti melanjutkan rencannya.
"Apa maksud Nindi bercerita tentang rumah tangganya dengan pak Gilang?" batin Nita heran
Melihat Nita nampak kebingungan membuat Nindi menyunggingkan senyuman.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Nindi
"Apa Bu?" tanya Nita balik
"Alasan kenapa suami kamu meninggalkan dirimu," jawab Nindi.
Raut wajah Nita seketika berubah, dia tak senang dengan pertanyaan Nindi, pertamanya Nindi membuatnya harus mengingat kenangan pahitnya dengan mantan suaminya.
Nindi memang mencari informasi tentang Nita sebelumnya, dan tertulis kalau Nita adalah janda, jadi dia mencari tau kenapa Nita jadi janda.
"Itu masalah pribadi saya, jadi maaf saya tidak bisa menjawabnya," ucap Nita
__ADS_1
Mata Nindi dan Nita saling menatap
"Tapi kamu sedang mengganggu suamiku, entah apa yang kamu rencanakan pada suamiku," kata Nindi yang membuat Nita memucat.