
Waktu terus berlalu, Nindi masih juga belum hamil hal ini tentu membuat Nindi bingung dan cemas.
Dia dan Gilang konsultasi dengan dokter kenapa sampai sekarang benih Gilang belum membuahkan hasil. Mereka juga mengikuti program hamil guna mempercepat kehamilannya.
Nindi yang sedari awal fobia pelakor tentu sangat bingung, pikiran-pikiran negatif muncul dalam kepala Nindi, dia takut seiring berjalannya waktu Gilang berpaling darinya.
"Mas aku kok belum hamil sih," kata Nindi
Gilang menghentikan makannya lalu menatap Nindi, "Sudah berapa kali sih sayang aku bilang, kita hanya perlu sabar bukan mengeluh," sahut Gilang sembari memegang tangan istrinya.
"Tapi aku takut mas," timpal Nindi
"Apa sih sayang yang aku takutkan," ujar Nindi
Nindi terdiam, sungguh alasannya takut adalah kehilangan Gilang. Mungkin saat ini Gilang fine mereka belum memiliki momongan tapi bagaimana dengan nanti?
Gilang pergi ke kantor sendirian, semenjak acara resepsinya Nindi lebih memilih di rumah daripada ngekori Gilang.
Saat asik melamun di balkon kamarnya Nindi mendapatkan panggilan dari Ratna.
Ratna menyampaikan kalau dia membuka sanggar tari di daerah apartemen Nindi untuk itu jika Nindi berkenan dia meminta supaya Nindi mau mengajar anak-anak di sana.
Nindi akan membicarakan hal ini pada Gilang terlebih dahulu sebelum dia mengambil keputusan.
Sore harinya saat mereka berdua di tempat tidur Nindi bicara pada Gilang terkait tawaran Ratna.
Gilang sebenarnya agak keberatan tapi mungkin dengan begitu Nindi akan lupa akan anak, dia lebih santai dan relax karena di tempat kerja nanti dia bisa bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya.
"Aku setuju sayang, mungkin dengan begitu kamu akan lebih santai dan pikiran kamu akan lebih relax," kata Gilang
"Bener ni nggak papa mas?" tanya Nindi
"Iya sayang, asal kamu senang apapun itu akan aku dukung," jawab Gilang
Nindi memeluk suaminya, lalu Nindi memberikan service pada Gilang. Mereka lalu saling bergulat permainan Nindi tidak sepasif dulu, dia lebih agresif sehingga membuat Gilang suka sekali dengan permainan ranjang istrinya.
Keesokannya setelah mengurusi dan menyiapkan sarapan untuk suaminya Nindi bersiap untuk memulai kerjanya.
"Sayang aku berangkat dulu ya," kata Gilang
"Iya sayang," sahut Nindi
__ADS_1
Mereka berpaut sebentar di ruang tamu, hingga bagian bawah Gilang menegang.
"Tuh kan jadi tegang," kata Nindi saat merasakan yang bersenggolan dengan anggota tubuhnya
"Tidurin dong," seloroh Gilang dengan terkekeh.
Nindi melebarkan matanya, bisa-bisanya minta jatah saat semua sudah siap mau berangkat bekerja.
"Nanti sore saja," ucap Nindi
Gilang dan Nindi berangkat bersama, Gilang akan antar jemput Nindi, dia tidak mau Nindi pulang dan pergi dengan menggunakan jasa taxi online.
Di sisi lain, Celo masih dipusingkan dengan Alex keinginan keinginan Alex yang aneh.
Malam ini dia mengobrak abrik kamarnya, dia sungguh sangat rindu pada Nita.
"Nita," gumamnya dengan lirih, "I Miss you more," imbuhnya
Papa, mama dan Celo sangat prihatin dengan nasib anaknya tapi bagaimana lagi Nita bak ditelan bumi tak ada yang tau keberadaannya.
Berbagai orang sudah disuruh mencari namun tidak ada yang berhasil menemukan Nita.
Sudah beberapa bulan Alex terpuruk, dia kelihatan lebih tua sekarang. Dia juga menjadi kurus karena selalu mual dan muntah saat makanan yang dia makan nggak cocok.
"Kamu benar Celo, tapi entah mengapa aku sangat lemah sekali," sahut Alex
Dengan bujukan maut dari Celo akhirnya Alex mau sedikit berubah, namun lagi-lagi Celo harus menuruti ngidamnya lagi yaitu nasi goreng yang dimasak dengan menggunakan arang.
"Tolong nanti penjualnya suruh ngasih udang, cumi, kerang dan juga daging kepiting, untuk sayurnya suruh ngasih daun lettuce irisan tomat dan juga acar mentimun. Oh ya cabainya jangan lupa," jelas Alex.
"Mati aku, kemana harus cari penjual nasi goreng sesuai keinginannya," batin Celo
Meskipun sulit namun Celo tetap berusaha menuruti keinginan Alex, mamanya mengelus bahu Celo mencoba menurunkan emosi anaknya karena ngidam kakaknya yang membuatnya susah.
Celo dan pak Bokir muter-muter mencari restoran yang menggunakan arang untuk memasak nasi goreng namun mereka tidak menemukannya.
Hingga mereka menjumpai penjual nasi goreng gerobak yang dimasak menggunakan arang.
"Itu ada penjual nasi goreng menggunakan arang pak," kata pak Bokir
"Ya udah buruan menepi," titah Celo
__ADS_1
Celo segera keluar untuk membeli nasi goreng yang diminta Gilang namun penjual nasi gorengnya dia menyediakan Sea food, jadi masalah lagi buat Celo.
Lalu Celo menyuruh pak Bokir untuk membeli makanan Sea food di restoran supaya nanti bisa dia campur di nasi goreng.
Setalah mendapatkan Sea food pak Bokir bergegas kembali ke tempat penjual nasi goreng.
Setelah siap, daun lettucenya nggak ada sehingga dia harus pergi ke swalayan untuk membeli daun lettuce yang diminta Alex.
"Akhirnya selesai juga," kata Celo sambil mengusap peluh yang ada di dahinya.
Tak selang berapa lama, mereka sudah sampai di rumah, Celo memindahkan nasi goreng di piring lalu dia membersihkan sedikit daun lettuce dan meletakkan dia atas nasi goreng.
Saat tiba di kamar kakaknya, nampak Alex sudah tidur. Dengan pelan Celo membangunkan kakaknya
namun Alex enggan untuk bangun, dia sudah pw dengan tidurnya.
Celo mengepalkan tangannya sungguh dia sangat emosi, sudah susah payah mengikuti keinginannya namun setelah dapat Alex malah nggak mau.
"Tidurlah dan jangan bangun lagi," maki Celo
Dia keluar dengan membawa nasi gorengnya lalu dia meletakkan nasi goreng di meja.
"Brengsek brengsek," umpat Celo
Mama yang ke dapur untuk mengambil minum melihat anaknya yang terus saja mengumpat.
"Ada apa sih Celo?" tanya mama
"Celo kesal sekali ma dengan tu si Alex," jawab Celo
"Ada apa lagi?" tanya mama
Celo menunjuk nasi goreng yang tadi dibelinya nampak masih utuh.
"Nggak dimakan?" tanya mama lagi
Celo menggeleng dengan memegangi kepalanya. Mama mendekat dan menenangkan anaknya supaya lebih bersabar menghadapi keinginan kakaknya yang kadang menjengkelkan.
"Mama nggak tau sih, perjuangan aku mendapatkan nasi goreng ini, aku harus muter cari penjual nasi goreng yang menggunakan arang untuk memasaknya, setiap restoran Celo masuki, hingga akhirnya namu satu karena nggak ada see food nya Celo harus beli di tempat yang terpisah dulu, Celo mengupas kerang dan kepiting supaya bisa dicampur ke nasi goreng, setelah jadi ada masalah lagi yaitu daun lettuce, akhirnya Celo pergi ke swalayan beli daun lettuce, dan kini setelah dapat dia malah ngorok, kesel ma aku!" ungkap Celo
Mamanya paham sekali dengan apa yang Celo rasakan tapi mau gimana lagi.
__ADS_1