Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Pergi


__ADS_3

"Entahlah aku mencium bau makanan ini membuat perutku seperti diaduk-aduk," ucap Alex lalu berlari ke kamar mandi.


Alex memuntahkan seluruh isi perutnya, hingga dia lemas karena pagi ini belum sempat sarapan dan makanan semalam harus keluar, Alex yang lemas menyandarkan dirinya di dinding samping wastafel. Dia heran sekali perasaan kemarin dia baik-baik saja kenapa tiba-tiba muntah-muntah seperti ini.


"Aku ini kenapa?" gumamnya dengan memijat pelipisnya yang pening.


Dengan bersusah payah dia berdiri, lalu menuju tempat tidur untuk merebahkan dirinya sejenak.


Celo yang datang mengecek keadaan Alex, dia melihat Alex berbaring di tempat tidur dan itu cukup menarik rasa khawatir Celo keluar.


"Kamu kenapa kak?" tanya Celo


"Aku sedikit pusing, hari ini aku tidak bisa ke kantor kamu berangkat dulu saja," jawab Alex.


"Baiklah, setelah ini aku akan bilang mama supaya beliau juga mengecek keadaanmu kak," ujar Celo lalu pergi dari kamar Alex.


Di sisi lain Nita yang sudah agak mendingan segera datang ke kantor Gilang, dia akan menyelesaikan sedikit pekerjaannya dan resign.


Rencananya sore ini dia akan pergi dari kota tempatnya sekarang dan menuju kota almarhum kedua orang tuanya.


"Kamu mau resign Nit?" tanya Veri


"Iya pak Ver, saya akan pindah ke luar kota," jawab Nita dengan memberesi barang-barangnya.


"Mendadak sekali Nit!" ucap Veri


"Iya pak," sahut Nita singkat


Veri mengobrol sedikit dengan Nita, sebenarnya sedih juga Nita resign karena kinerja Nita cukup bagus. Nita sangat bisa Veri andalkan sama seperti Rara dulu.


Setalah pekerjaannya selesai Nita segera berpamitan pada semuanya, dia juga minta maaf pada Nindi dan juga Gilang.


Sebelum Nita pergi, Gilang memberikan bonus pada Nita, meskipun kurang dari tiga bulan namun berkat kepiawaian Nita dalam menarik minat klien perusahaan untung banyak.


"Ini Nit untuk kamu," kata Gilang dengan menyodorkan amplop pada Nita


"Ini apa pak?" tanya Nita


"Bonus buat kamu Nit," jawab Gilang


"Terima kasih pak," sahut Nita


Nindi dan Nita saling memeluk, Nita sempat menangis saat melihat Nindi,


"Maafkan aku," bisik Nita dengan suara yang lirih


"Iya Nit, semoga kamu bahagia ya di sana dan segera menemukan jodoh," ucap Nindi lalu melepas pelukan mereka.

__ADS_1


Setalah acara sayonaranya selesai Nita segera pergi, sebelumnya dia sudah menyiapkan semua.


Jadi saat Nita pulang, dia tinggal memasukan barang seperlunya ke dalam mobilnya.


Sebelum pergi dia nampak mengingat kembali kenangannya bersama mantan suaminya, hingga kenangan buruk tentang Alex.


Dia benar-benar muak dengan Alex yang hanya memanfaatkannya saja, setalah siap, mereka semua naik mobil dan pergi.


Matahari sudah terbenam, mood Alex berubah kini. Dia sangat senang karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Nita.


Entah mengapa tubuh Nita sudah menjadi candu buat Alex, bahkan Alex juga mulai memikirkan Nita.


Alex segera membersihkan dirinya lalu memakai pakaian santainya, dia kali ini bahkan membeli sesuatu untuk anak Nita dan juga Nita.


Mobil Alex kini sudah sampai di rumah Nita, dia membawa bunga dan juga satu tas kresek yang cukup besar yang rencananya akan dia berikan pada anak Nita.


Namun beberapa kali mengetuk pintu tak ada jawaban, Alex pun menunggu siapa tau Nita pergi keluar dengan Rio.


Selama satu jam menunggu, Nita masih belum kembali.


Alex menjadi gusar, dia menghubungi nomor Nita namun nomornya sudah tidak dapat dihubungi.


Keringat dingin mulai mengucur, asumsi jelek mulai hinggap dan membuat Alex kacau.


Dia sungguh tak rela jika Nita pergi dan meninggalkannya.


Alex yang sudah putus asa pulang, tidak seperti biasanya kali ini dia merasa sangat kehilangan.


Separuh jiwanya rasanya pergi.


Setibanya di rumah Alex masuk dengan langkah lemas, dia sungguh bingung, Celo yang melihat ada yang tidak beres pada kakaknya pun bingung.


"Ada apa kak?" tanya Celo


"Nggak ada apa-apa," jawab Alex lalu pergi ke kamarnya meninggalkan kebingungan yang besar pada papa, mama serta Celo.


Dalam kamarnya Alex melamun sambil melihat bintang, dia sungguh sedih sekali karena dia tidak bertemu Nita, dia merasakan rindu yang segitu hebatnya.


***********


Nindi dan Gilang sedang bersantai di ruang tamu, mereka berdua saling peluk dan cium.


"Kamu ingin apa sayang?" tanya Gilang


"Ingin apa mas?" tanya Nindi balik


"Ya entahlah mungkin kamu minta rumah, atau apa gitu yang lainnya," jawab Gilang.

__ADS_1


"Ulang tahunku masih lama mas," ucap Nindi


"Ya kan siapa tahu kamu ingin dibangunkan menara Eiffel jadikan butuh waktu membangunnya," sahut Gilang dengan tertawa.


Nindi dan Gilang tertawa, Nindi yang gemas menggelitik perut Gilang dan Gilang pun balik membalas.


"Aku serius sayang kamu pengen apa," tanya Gilang serius.


Nindi tampak berfikir, "Sebenarnya aku ingin sekali melihat Aurora di danau Tekapo di New Zealand," jawab Nindi


"Aurora Australis?" tanya Gilang


"Iya mas," jawab Nindi


"Baik kita segera kesana," sahut Gilang.


"Nggak mas, kesannya pas aku ulang tahun saja karena puncak Aurora ini bulan Juli hingga September," timpal Nindi.


Gilang mengangguk, dia akan berjanji mengajak Nindi melihat Aurora di New Zealand.


Dari menikah hingga detik ini dia belum pernah membelikan Nindi sesuatu yang spesial.


"Sebisa mungkin saya akan membahagiakan anak bapak, jadi bapak bisa tenang di sana," batin Gilang.


"Kalau kamu ingin apa mas?" tanya Nindi


"Keinginanku itu simpel sayang," jawab Gilang


"La ya mas apa?" tanya Gilang lagi


"Setiap bangun tidur selalu melihat wajah kamu, sepulang kerja kamu yang ingin aku lihat saat masuk rumah, Setiap makan ingin selalu masakan kamu yang aku makan dan aku ingin selalu kamu yang menemaniku setiap aku mandi," jawab Gilang


"So sweet sih mas, tapi kalimat akhirnya aku nggak setuju, konyol banget gitu setiap mandi minta di temenin," sahut Nindi


"Ya nggak konyol kok, konyol tu kalau aku menyuruh kamu memandikan aku, kan aku hanya bilang ditemenin mandi, biar sekalian buat dedek bayi di kamar mandi," seloroh Gilang yang membuat Nindi tertawa.


Meraka berdua saling memukul bantal dan drama selesai saat Gilang mengungkung Nindi di bawahnya.


Netra Nindi dan Gilang saling menatap, nafas dan detak jantung sudah tak beraturan


"Saatnya sayang, pindah atau di sini saja?" tanya Gilang


"Sini saja mas," jawab Nindi


Gilang sudah siap dengan ancang-ancangnya, dia melepas baju miliknya dan juga Nindi.


Setalah sama-sama polos, mereka langsung saja bergulat di sofa.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian setelah selesai mereka pindah ke kamar meninggalkan baju yang masih berserakan di ruang tamu.


__ADS_2