
Rian yang asik dengan temannya lupa untuk tidak menjemput Rio, sehingga Rio menunggu lama di sekolah, guru Rio akhirnya menelpon Nita memberitahukan kalau Rio sudah pulang dan sudah dua jam menunggu jemputan.
Nita tentu sangat kaget mendengar kalau Rio belum dijemput karena Rian juga belum ke rumah sakit lagi.
"Keterlaluan kamu mas," kata Nita kesal.
Alex yang tau Nita kesal pun bertanya
"Kenapa sayang?" tanya Alex
"Rio belum dijemput mas, sudah dua jam dia menunggu Rian," jawab Nita dengan raut wajah yang cemas.
"Astaga, ya sudah biar aku jemput," sahut alex.
"Tapi mobil kamu mas?" tanya Nita
"Tenang, aku bisa pesan taxi online," jawab Alex lalu dia keluar ruangan untuk segera menjemput Rio.
Dia nampak kesal dengan Rian, kenapa sebagai seorang ayah dia lalai, bisa-bisanya tidak segara menjemput saat jam pulang sekolah.
"Apa dia nggak tau kalau marak penculikan anak," gumam Alex.
Setibanya di sekolah Alex segera turun, dia meminta supir taxi untuk menunggunya sebentar karena dia ingin menyewa taxi tersebut secara offline.
Melihat Alex, Rio langsung berlari dan memeluk Alex, sebelum pulang guru Rio memberi pesan pada Alex supaya tidak lalai dalam menjemput anak, Bu guru juga heran biasanya tidak pernah telat mengapa sekarang telat?
Alex meminta maaf pada Bu guru atas kelalaiannya, di sisi lain Rian baru ingat untuk menjemput Rio, dia bergegas ke sekolah Rio namun tentu sekolah sudah sepi karena sudah siang.
"Kenapa aku bisa lupa ya?" gumam Rian
Dia sibuk memikirkan alasan apa yang akan dia sampaikan pada Nita dan juga Alex supaya mereka percaya.
Otak Rian menemukan alasan yang tepat hingga dia tersenyum sendiri akan ide cemerlangnya.
Kini Rian segera datang ke rumah sakit untuk mengembalikan mobil Alex. Setibanya di kamar Nita dia langsung saja memeluk Rio untuk meminta maaf, dia juga pura-pura sedih.
"Mana kunci mobilku," kata Alex yang membuat Rian sedikit takut. "Bagaimana kamu bisa lupa, untung tidak terjadi apa-apa pada Rio kalau iya, sudah aku jadikan tumbal dirimu," maki Alex
Dengan raut sedih yang dibuat-buat Rian berkata kalau tadi dia menyerempet orang, sehingga mau nggak mau harus membawanya ke rumah sakit hingga melupakan Rio karena panik.
Percaya dan tidak percaya akhirnya Alex membiarkan Rian pergi namun Rio masih marah dengan papanya yang tega membiarkannya menunggu selama 2 jam.
__ADS_1
********
Dua hari berlalu tapi Gilang tidak menghubungi Nindi sama sekali, pesan Nindi juga nggak di balas ini membuat Nindi galau, dia sangat merindukan Gilang.
"Kamu baik-baik saja kan mas," gumam Nindi
Dia melamun di balkon kamarnya, dia melihat bintang-bintang di langit sambil menangis, dia sungguh cemas akan Gilang yang tidak memberi kabar padanya, Veri juga tidak memberi kabar sama sekali pada Nindi bahkan nomor Veri juga nggak aktif.
"Mas, jangan siksa aku," gumam Nindi dengan mata yang semakin basah.
Karena lelah Nindi memutuskan untuk tidur, karena besok pagi anak-anak didiknya ada kontes jadi Nindi harus mengawal.
Pagi sudah menyapa dengan sinar hangatnya, meski masih mengantuk Nindi tetap bangun untuk bekerja.
"Ma, Nindi berangkat dulu ya," pamit Nindi lalu mencium punggung tangan mertuanya.
"Lo, nggak sarapan dulu," kata Mama
"Sarapan di luar saja ma, Nindi udah kesiangan.
Mama hanya bisa melihat Nindi, dia sangat mengecewakan sikap Nindi yang kurang bisa menyadari kalau dia sedang hamil jadi menyepelekan istirahat dan juga sarapan.
Sesampainya di sanggar, Nindi segera melatih sebentar anak-anak yang ikut kontes, setelahnya dia dan Ratna mengantar mereka semua.
Karena perutnya terasa lapar, Nindi membeli roti dan juga susu.
Nindi berdoa semoga anak didiknya bisa menjadi juara supaya bisa menjadi kebanggaan orang tua mereka masing-masing.
Ternyata doa Nindi dikabulkan, mereka memenangkan kontes dengan menduduki juara pertama dan itu membuat Nindi puas dan bangga dengan anak didiknya.
"Selamat ya kak Ratna," kata Nindi dengan memeluk Ratna
"Ini semua berkat kamu juga Nin," sahut Ratna.
Malam hari Nindi baru pulang, dia bisa melupakan rasa rindunya dengan Gilang dengan sibuk mengajar tari dan dance.
Sesampainya di rumah Nindi membersihkan diri dan merebahkan dirinya yang sangat lelah karena seharian dia beraktivitas.
Nindi membuka ponselnya dan benar saja ada beberapa panggilan dari Gilang yang tidak terjawab,
"Mas Gilang," gumam Nindi lalu menghubungi Gilang kembali namun lagi-lagi ponsel Gilang tidak aktif.
__ADS_1
Nindi sangat kesal, tapi dia juga tidak bisa apa-apa,
Nindi hanya berharap Gilang cepat pulang karena dirinya sangat rindu.
Nindi duduk di sofa sambil melihat foto-foto Gilang, tak terasa air matanya jatuh dia sungguh merindukan suaminya yang sudah tiga hari tidak ada kabar.
Saat asik melamun tiba-tiba sebuah tangan menutupi matanya.
"Mas Gilang," teriak Nindi antusias
Gilang melepaskan tangannya dan tersenyum pada Nindi, "Kok belum tidur sayang," kata Gilang
Nindi langsung memeluk Gilang, dia sungguh rindu sekali dengan suaminya.
"Aku kangen mas," kata Nindi lirih tanpa melepas pelukannya.
"Aku juga kangen sayang, maaf selama dua hari aku terdampar di kota yang jauh dari peradaban terus tadi aku mau mengabari kalau hari ini aku pulang tapi panggilanku tidak dijawab ya udah buat surprise saja," ungkap Gilang
"Iya mas maaf, tadi Nindi sangat sibuk jadi nggak ngecek ponsel," ucap Nindi menyesal.
"Ya sudah nggak papa, aku mandi dulu ya," kata Gilang.
Gilang pamit sebentar untuk membersihkan diri, beberapa saat kemudian dia keluar dengan handuk kecil yang melilit di bawah perutnya.
Nindi nampak melihati suaminya sehingga membuat Gilang melepas lilitan handuknya dan itu membuat Nindi menutup matanya.
"Mas Gilang," teriak Nindi
Gilang tertawa puas dapat mengerjai istrinya, perasaan sudah saling tau dan juga sudah ada hasilnya di perut Nindi kenapa masih saja malu.
Gilang mendekati Nindi yang menutup matanya lalu dia membawa tangan Nindi di area terlarangnya, bola mata Nindi menatap Gilang uang terkekeh, lalu dia memainkan tongkat Gilang yang sudah berdiri tegak, mendapat sentuhan dari istrinya membuat Gilang sedikit men de sah.
Karena saling rindu akhirnya mereka melepas kerinduan mereka di atas tempat tidur.
Gulat panas dan mendebarkan tidak dapat terelakkan, hingga sampai dua jam meraka masih saja saling menyerang hingga suara jeritan Nindi menggema.
Suara decakan semakin keras akibat dua benda yang menyatu, tangan Nindi juga ikut membantu Gilang memompanya lebih cepat karena mereka berdua akan segera mendapatkan pelepasannya masing-masing.
Setelah mendapatkan pelepasannya, mereka membersihkan diri kemudian tidur dengan saling peluk.
Baik Gilang dan Nindi sama-sama lelah jadi mereka langsung saja terlelap tanpa mengobrol terlebih dahulu dan keesokan paginya mereka terbangun dan melanjutkan gulat mereka lagi.
__ADS_1