
"Lebih cepat mas," kata Nindi yang terdengar samar samar.
"Astagfirullah Nindi Gilang apanya yang lebih cepat," gumam mama kemudian bergegas keluar kamar anaknya.
Badan mama terasa panas dingin, otaknya traveling kemana-mana karena kata kata yang didengarnya tadi.
Mama menunggu di ruang tamu dengan perasaan yang tidak karu-karuan, menyesal dia kenapa tadi masuk kamar anaknya.
Gilang dan Nindi yang sudah melakukan ritual mandinya segera memakai baju.
"Astaga mas, ternyata kita mandi selama dua setengah jam," kata Nindi
"Masak sih sayang, perasaan baru masuk kamar mandi," sahut Gilang.
"Iya mas, ayok kita harus bergegas pasti mama sudah menunggu," timpal Nindi
Nindi dan Gilang segera memakai baju terbaik mereka, kemudian berdandan dan keluar kamar.
"Bagus ya baru keluar, ngapain saja sih di dalam," omel mama yang kesal pada Gilang dan juga Nindi
"Maaf ma," sahut Nindi maupun Gilang.
Tak ingin terlambat lebih lama lagi mereka segera berangkat ke rumah papa Gilang.
**********
Celo yang tau kalau Nindi akan datang entah mengapa agak gugup, dia tidak pede dengan apa yang dipakainya hingga Alex yang masuk kamarnya jadi heran karena melihat begitu banyak baju Celo yang berserakan di tempat tidur dan di sofa.
"Baju kamu kenapa keluar semua Celo?" tanya Alex
__ADS_1
"Aku bingung kak mau pakai baju yang mana, menurut aku semua jelek," jawab Celo
Alex menatap adiknya dengan lekat, nggak seperti biasanya Celo seperti ini, Alex curiga ini ada kaitannya dengan kedatangan keluarga adiknya Gilang.
Celo yang bingung jadi frustasi karena tidak ada yang cocok.
"Pakai kaos dan blazer ini kan cakep kamu," kata Alex dengan menunjukkan kaos polos merah dengan blazer warna hitam.
"Kak Alex yakin?" tanya Celo karena dia masih ragu
"Iya lah adikku yang tampannya melebihi Tom Cruise," jawab kakaknya dengan sedikit menggombal.
"Tom Cruise nggak ada apa-apanya kak," sahut Celo dengan tertawa.
Saat asik Gilang datang dan ikut gabung dengan kakak-kakaknya.
Alex dan Celo menoleh lalu mereka tersenyum
"Hai Gilang," sapa balik Celo dan Alex.
Mata Gilang memutar, heran dengan kamar Celo yang seperti kapal pecah. Baju dimana-mana satu lemari keluar semua.
"Kamar kak Celo habis gempa ya, kok bajunya keluar semua," kata Gilang
"Dia lagi rajin, mangkanya semua bajunya dia keluarin mau ditata ulang," sahut Alex
"Kak Celo ada-ada saja," timpal Gilang.
Entah apa yang diobrolkan tiga lelaki dewasa ini, hingga mereka lupa waktu.
__ADS_1
Mama Gilang dan mama Alex memanggil anak-anak mereka.
"Gilang," panggil mama
"Alex, Celo," panggil mamanya
Mereka bertiga menoleh, dan mendekati mama mereka masing-masing.
"Ayo kasian papa, Nita dan Nindi yang telah menunggu," kata mama Alex dan Celo.
Mendengar kata-kata Nindi disebut membuat Celo sumringah sebelum keluar dia mengaca dan merapikan dirinya lagi. Alex yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala, "Yang lagi kasmaran namun salah orang," batin Alex
Kini mereka berlian berjalan menuju halaman belakang,
Nindi nampak menggendong bayi Nita, wajahnya sungguh sumringah kini berbeda saat Alex, Celo dan Nita datang ke rumahnya waktu itu.
Gilang yang melihat istrinya bahagia pun mendekat dan memeluknya.
"Lihatlah mas, seandainya bayi kita hidup pasti seperti ini," kata Nindi.
Kini raut wajah Nindi telah berubah, namun dengan segera Gilang membujuk istrinya supaya tidak sedih lagi, "Tenang sayang aku akan berjuang lebih keras lagi untuk bergulat dengan kamu supaya kecebong aku segera membuahkan hasil," hibur Gilang.
Mendengar kata suaminya membuatnya tertawa, perasaan dari dulu dia terus berjuang.
Celo yang melihat Nindi dan Gilang berpelukan pun jadi sakit hati, tapi dia bisa apa. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain melihat dan merasakan sakitnya cemburu. Mereka semua kini mulai makan dengan hidangan yang telah di siapkan.
Seusai makan Celo duduk termenung sendiri di samping kolam renang. Dia sengaja tidak ingin bergabung karena tak kuasa melihat Gilang dan Nindi yang sangat romantis.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, rasa cinta semakin besar, dan aku tak kausa menghindar,"
__ADS_1