Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Hanya pemuas naf*su


__ADS_3

"Aku ini kamu anggap apa sih mas?" tanya Indira


Celo hanya diam, dia bingung sekarang, melihat Celo yang bingung membuat Indira tersenyum.


"Maaf mas, jika buat kamu bingung. Paling tidak jika aku tau posisiku, aku bisa memposisikan diriku seperti apa di rumah ini," kata Indira


"Posisi kamu ya, ya gini," jawab Celo dengan ambigu.


Mendengar jawaban Celo yang ambigu lagi-lagi membuat Indira tersenyum.


"Gini gimana maksud kamu mas, aku ingin jawaban yang pasti bukan jawaban yang ambigu, karena status itu penting Lo dalam sebuah hubungan," kata Indira dengan menatap Celo.


Lagi-lagi Celo hanya diam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Aku bantu jawab ya, pilihan posisiku ada tiga, pertama, aku di sini hanya budak se*x kamu atau hanya teman ranjang, kedua, pembantu kamu ketiga, istri kamu," jelas Indira


"Kalau kamu menganggap aku hanya teman ranjang, aku tidak perlu baper dan aku bisa sewaktu-waktu pergi ninggalin kamu. Kalau kamu menganggap aku ini adalah pembantu aku mohon jangan pernah menyentuh aku lagi, jaga batasan antara pembantu dan majikan sama seperti yang lain. Kalau kamu menganggap aku istri, tolong umumkan pada semua pelayan di sini, supaya aku bisa ambil sikap jika ada pembantu yang menghina aku," imbuh Indira.


Celo menatap Indira dengan lekat, "Tentu kamu istri aku Indira," kata Celo yang membuat Indira tersenyum.


"Yakin?" tanya Indira menyakinkan


"Iya kan kita sudah nikah," jawab Celo.


"Jadi bilang ya ke semua pelayan kalau aku istri kamu," sahut Indira.


Celo mengangguk dan itu membuat Indira senang.


Indira yang senang kemudian memeluk Celo, dan karena pengunungan Indira menempel di dada Celo sehingga Celo terang*sang untuk bergulat kembali.


Seusai gulat ronde dua Celo beranjak dari tempat tidur, "Kamu mau kemana mas?" tanya Indira

__ADS_1


"Aku kamu ke ruang kerja sebentar," jawab Celo


Di dalam ruang kerjanya Celo nampak bingung, dia mulai bingung dengan perasaannya, dia perlahan mulai move on dari Nindi, tapi dia masih belum ingin mama dan papanya tahu kalau Indira adalah istrinya.


"Aaarrrgggg, bagaimana ini," teriaknya.


Akhirnya Celo memutuskan kembali ke kamarnya sendiri, kali ini dia tidak kembali ke kamar Indira. Dan pagi sekali Celo sudah bersiap, bahkan sarapan belum tersaji di meja makan.


"Mas, sarapannya belum siap," kata Indira


"Aku sarapan di luar saja," sahut Celo lalu pergi begitu saja.


Dari sikap Celo, Indira menyimpulkan kalau Celo memang tidak menganggapnya sebagai istri, sikapnya berbeda dengan kemarin malam saat mereka bersua.


Tak terasa air matanya tumpah, dia merasa dibohongi oleh Celo.


"Jadi begini caramu mas," gumam Indira


"Kamu benar mbak Sri, aku hanya pemuas nafsunya saja," sahut Indira lalu dia pergi ke kamarnya lagi.


Di kantor Celo nampak melamun, "Maafkan aku Indira karena berbohong," guman Celo.


Alex yang baru datang segera masuk ke ruangan Celo.


"Melamun lagi, melamun lagi. Celo, Celo," kata Alex


Celo hanya tersenyum tanpa menganggapi perkataan dari kakaknya.


"Ada apa lagi sih Celo?" tanya Alex


"Indira memintaku untuk bilang pada art kalau dia istriku," jawab Celo

__ADS_1


"Astaga naga Celo, Celo. Tinggal bilang apa susahnya sih!" ucap Alex kesal dengan adiknya.


"Kalau mama dan papa tau gimana kak, pasti mereka marah karena aku nikah karena dinikahkan oleh warga," sahut Celo


"Mending mama papa marah daripada kamu kehilangan Indira seperti aku dulu yang ditinggal Nita, "Lagian belum tentu juga mama dan papa marah, itu hanya ketakutan kamu yang berlebih Celo," imbuh Alex.


Mendengar kata-kata Alex membuat Celo berfikir, dia teringat bagaimana Alex tersiksa dulu saat jauh dari Nita.


"Oh No, nggak nggak, aku nggak mau mengalami nasib seperti kak Alex dulu," batin Celo


Alex menepuk bahu Celo, berharap adiknya gentle untuk mengakui istrinya daripada Indira pergi dan dia tersiksa sendiri.


Celo segera menyelesaikan pekerjaannya, supaya dia bisa pulang lebih cepat.


Di rumah Indira membatu masak di dapur untuk makan malam, dia nampak diam tidak banyak bicara.


"Enak sekali sih kamu Indira, seperti nyonya. Setelah ini kamu yang mengepel lantai dan menyapu halaman. Awas kalau kamu mengadu pada tuan Celo," ancam Sri


"Nggak, itu bukan tugas aku," tolak Indira.


"Berani kamu ya," maki Sri dengan menarik tangan Indira.


"Lepas!" teriak Indira.


Celo yang sudah pulang melihat Sri mencengkeram lengan Indira.


"Jadi begini kelakuan kamu pada Indira saat aku di kantor?" maki Celo


Sri melepaskan tangannya lalu menunduk


"Dia kan sama seperti kamu tuan, tapi nggak ngapa-ngapain," sahut Sri.

__ADS_1


"Baiklah baiklah, aku akan menyapu," ucap Indira lalu berjalan melewati Celo.


__ADS_2