
"Bye bye Celo, jangan terlalu setia. Jajan di luar itu terkadang perlu," kata Farah dengan tertawa lalu pergi keluar.
Celo melempar tubuhnya di kursi kebesarannya, dia sungguh bingung kini.
"Brengsek kamu Farah, bisa-bisanya membuat aku seperti ini," umpat Celo dengan memijat pelipisnya.
Tak ingin larut dalam lingkaran yang dibuat Farah Celo mencoba memfokuskan pikirannya kembali ke pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian kini tangan dan pikirannya fokus dengan pekerjaan yang harus segera diselesaikan hingga tak terasa jam makan siang datang, Celo segera pergi ke sebuah restoran untuk makan siang, setelah usai dia segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Jam pulang sudah datang dan lagi-lagi Celo harus lembur karena pekerjaannya belum selesai.
"Celo," panggil Alex
"Iya kak," sahut Celo
"Ini berkas yang harus kamu selesaikan, oh ya kamu mau lembur?" tanya Alex dengan meletakkan berkas di meja Celo
"Iya kak," jawab Celo
"Konfirmasi dengan istri kamu dulu biar nggak terjadi salah paham," pesan Alex lalu dia keluar ruangan Celo.
Alex mencoba mengingatkan adiknya karena beberapa waktu Nita juga protes saat dirinya lembur dan tidak konfirmasi, siapa tau Indira juga mengalami hal yang sama.
Namun sayang, karena banyaknya pekerjaan dan keinginan untuk segera pulang, Celo lupa tidak memberi tahu Indira sehingga untuk yang kesekian kalinya Indira curiga dengan Celo.
"Lagi dan lagi, pulang telat nggak konfirmasi dan pesan serta panggilan selalu diabaikan, apa yang sebenarnya terjadi mas?" gumam Indira.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan Celo baru sampai di rumah.
"Baru pulang mas?" tanya Indira sedikit ketus.
"Iya sayang, maaf ya nggak kirim pesan, tadi aku lembur," jawab Celo dengan mengecup bibir istriya sekilas.
"Yakin lembur?" tanya Indira meyakinkan
"Iya, memangnya aku ngapain di luar malam-malam?" jawab dan tanya balik Celo
__ADS_1
"Ya kan siapa tau," jawab Indira.
Kata-kata ambigu Indira membuat Celo sedikit tersinggung, dasarnya sudah lelah malah di rumah Indira seakan menginterogasi dirinya.
"Bentar-bentar apa nih maksud kamu?" tanya Celo dengan menatap istrinya.
Tak ingin ada pertikaian Indira mencoba menekan egonya, mungkin saat ini waktu yang tidak tepat untuk bertanya yang tidak-tidak mengingat Celo baru saja pulang dari kantor pasti capek dan lain-lain.
Indira kemudian memeluk suaminya, dan mengelus dada sang suami.
"Maaf mas, maafkan aku," kata Indira.
"Iya, ya sudah aku mandi dulu ya," ucap Celo
Saat lepas dari pelukan suaminya Indira melihat ada gambar bibir di jas Celo.
Seketika dia memucat namun dengan segera Indira atasi. Celo yang hendak mandi pun melepas jasnya.
Setelah Celo masuk kamar mandi, Indira mengecek jas Celo guna memastikan apa itu gambar bibir atau bukan.
Matanya kini melihat dengan jelas gambar bibir wanita di jas Celo, air matanya jatuh kembali.
Melihat ponsel Celo yang tergeletak, membuat Indira mengeceknya, kebetulan ponselnya nggak di pin jadi dengan mudah Indira membukanya.
Diantara semua ada satu pesan dari seorang yang isinya
"Jangan lupa, selalu aku tunggu jatah dari kamu."
Membaca pesan itu membuat Indira menangis apalagi foto profilnya seorang wanita cantik dengan body aduhai.
"Fix kamu selingkuh mas," gumam Indira dengan menangis.
Cepat-cepat Indira menghapus air matanya lalu meletakkan ponsel Celo kembali.
Setelah Celo selesai mandi, dia memakai baju tidurnya lalu mengajak Indira tidur, nggak biasanya Celo tidak minta jatah, sehingga membuat Indira semakin yakin kalau Celo tadi meminta jatah wanita lain padahal kenyatannya Celo memang lelah.
"Kamu nggak minta jatah mas?" tanya Indira
__ADS_1
"Nggak sayang, malam ini kau lelah sekali," jawab Celo.
Indira tersenyum ketir lalu membalikkan badannya dan Celo memeluk Indira dari belakang.
Indira menangis tanpa terisak, dia sungguh sakit.
"Apa yang kamu lakukan di belakang aku mas," guman Indira lirih sehingga Celo tidak mendengarnya.
**********
Keesokan harinya saat makan siang, Indira datang membawakan makan siang Celo, dia sengaja tidak memberi tahu Celo karena ingin memberi kejutan pada suaminya.
"Maaf mbak pak Celo nya ada?" tanya Indira pada resepsionis
"Maaf, mbak nya siapa ya? apa sudah buat janji dengan pak Celo?" tanya Resepsionis
"Saya istri pak Celo, saya kesini hanya mengantar makan siang pak Celo apa harus membuat janji?" jawab dan tanya Indira balik.
"O maaf Bu, tapi pak Celo sedang ada tamu di ruangannya, coba saya hubungi pak Celo dulu," kata Resepsionis yang sudah mengangkat gagang telpon.
Dengan segera, Indira melarang resepsionis untuk menghubungi Celo.
"Jangan mbk, biar aku antar langsung saja, kan cuma memberi kotak makan siang saja," cegah Indira.
Indira meminta resepsionis untuk mengantarnya ke ruangan Celo.
"Saya pamit dulu ya," kata Resepsionis lalu pergi meninggalkan Indira.
Indira segera membuka pintu ruangan Celo, dan betapa kagetnya dia saat melihat Celo sedang duduk si sofa dengan seorang wanita.
"Eh sayang kok nggak bilang-bilang kalau mau kesini?" tanya Celo
Bukannya menjawab pertanyaan Celo Indira malam bertanya lagi
"Ini siapa mas? kenapa ada wanita di ruangan kerja kamu, apa dia selingkuhan kamu?" tanya Indira dengan marah.
Celo menatap wanita yang duduk dengannya tadi lalu menatap Indira.
__ADS_1
"Kamu jangan ngaco!" seru Celo