
"Kamu kenapa Nin?" tanya Ratna dengan raut wajah yang panik. Dia takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nindi mengingat Nindi tengah mengandung.
"Nggak tau kak, perut aku tiba-tiba sakit sekali," pekik Nindi dengan memegangi perutnya.
Tak menunggu lama, Ratna dan tentor yang lainnya membawa Nindi ke rumah sakit.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Ratna menghubungi Gilang dan memberitahu kalau Nindi saat ini dalam perjalanan ke rumah sakit karena perutnya sakit.
Tak berselang lama mobil Ratna sampai di rumah sakit, temannya turun dulu dan segera memanggil suster untuk menjemput mereka dengan membawa brankar.
Nindi dibawa ke ruang UGD, dokter segera memeriksa Nindi dan Ratna ikut masuk untuk menemani Nindi.
Saat memeriksa Nindi, raut wajah dokter sudah nggak enak, jujur ini membuat Ratna takut.
"Ada apa dok?" tanya Ratna ketar ketir
"Mohon maaf, janinnya sudah meninggal di dalam," jawab Dokter dengan sedih.
Nindi yang mendengarnya sangat syok, apa yang akan dia katakan pada Gilang nanti? apa Gilang mau menerima kalau anaknya telah tiada? itulah yang kini ada dalam pikiran Nindi, dia sungguh takut. Begitu pula dengan Ratna dia juga bingung apa yang akan dia katakan pada Gilang.
Saat bersamaan datanglah Gilang, dia langsung masuk ke dalam ruang UGD, "Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Gilang dengan panik.
"Mohon maaf pak, istri anda mengalami stillbirth untuk itu kami akan melakukan operasi Sesar untuk mengeluarkan bayinya karena keadaan istri anda saat ini tidak memungkinkan untuk melahirkan," jawab dokter yang membuat Gilang syok dan tidak bisa berkata apa-apa.
Karena sudah tidak ada yang dibicarakan, dokter pamit undur diri untuk segera menyiapkan operasi, Ratna juga keluar mungkin Gilang dan Nindi butuh waktu berdua.
"Lihatlah sekrang, apa yang aku khawatirkan terjadi. Ini akibat kalau kamu nggak nurut suami," kata Gilang dengan datar.
Nindi hanya bisa menangis, dia tidak bisa berkata apa-apa. Gilang yang melihat Nindi menangis hanya menatapnya tanpa berusaha untuk menghibur istrinya. Dia sungguh kecewa dengan Nindi yang menurut Gilang tidak bisa menjaga amanah yang dititipkan Tuhan padanya.
Kemudian Gilang pergi keluar , dia meminta Ratna dan temanya untuk menemani Nindi di dalam, Gilang tidak sanggup berkata apa-apa rasa kecewanya sungguh mendalam sehingga membuatnya tak ingin bicara.
Beberapa saat kemudian Ratna menunggu Nindi di depan ruang oeprasi, dia berharap tidak terjadi apa-apa dengan Nindi mengingat tadi dia sangat syok.
Seusai oeprasi Calon bayi yang sudah meninggal di serahkan pada Gilang, kemudian Gilang meminta Ratna untuk menemani Nindi dulu karena dia akan segera menguburkan calon bayinya.
Saat berada di rumah mama Gilang bertanya apa yang dibawa anaknya dan alangkah terkejutnya saat Gilang membuka kain penutupnya.
__ADS_1
"Innalilahi Gilang, ini calon bayi kamu?" tanya mama dengan syok
"Iya ma, dia telah meninggal di dalam kandungan," jawab Gilang.
Puas bersedih kini mereka harus menguburkan calon bayi yang sudah membiru tesebut.
Seperti orang meninggal pada umumnya, anak Gilang dikubur di pemakaman umum dan sebelumnya dia memberi nama pada anaknya.
Gilang nampak bersedih saat anaknya dikubur, "Maafkan papa yang tidak bisa menjagamu, seharusnya kamu beberapa bulan lagi lahir sayang," kata Gilang di depan pusara anaknya.
Mama mencoba menghibur Gilang lalu menyuruh Gilang untuk kembali ke rumah sakit karena pasti Nindi membutuhkannya.
"Nanti saja ma, Gilang masih malas ke rumah sakit. Seandainya Nindi nurut ma Gilang mungkin semua ini nggak akan terjadi ma," kata Gilang
"Kamu nggak boleh berbicara seperti itu Gilang, ini semua sudah takdir untuk kalian," sahut Mama
Akhirnya Gilang menurut dan pergi ke rumah sakit, mama juga ikut ke rumah sakit dia ingin menghibur Nindi namun saat di rumah sakit Nindi terlihat tidur, dokter terpaksa memberinya obat penenang karena tiba-tiba Nindi histeris.
Mama perihatin dengan mantunya, kenapa semua jadi begini seharusnya baik Nindi maupun Gilang bisa menerima kenyataan.
"Iya ma," sahut Gilang singkat.
Mama Akhirnya pamit untuk undur diri, dia meminta Gilang untuk standby di rumah sakit dan melarangnya pulang.
"Temani istrimu, jangan ditinggal," pesan mama.
Gilang duduk di sofa menunggu Nindi sadar, beberapa saat kemudian Nindi sadar, bola matanya memutar dan dia melihat Gilang duduk di sofa.
"Mas," panggilnya
"Iya," balas Gilang lalu mendekati Nindi
"Maafkan aku mas," kata Nindi dengan mata yang sudah penuh dengan air mata.
"Sudahlah nggak usah minta maaf, sudah takdirnya dia harus pergi," sahut Gilang.
Tanpa berkata apa-apa Gilang kembali ke sofa dan tidur, sedangkan Nindi menangis dia kecewa pada Gilang yang menyalahkan dirinya atas kematian calon bayinya.
__ADS_1
***********
Di sisi lain, Nita dan Alex mendaftarkan berkas mereka ke KUA, Alex meminta sebelum seminggu surat nikah mereka sudah jadi, biaya tak jadi soal untuk Alex.
"Akhirnya kita nikah juga sayang, udah gak sabar aku melakukan gulat panas dengan kamu," seloroh Alex yang membuat Nita tersipu malu.
"Kamu itu mas ada-ada saja," sahut Nita
"Oh ya tumben mas Rian nggak menemui Rio, biasanya setiap hari lo," ucap Nita yang membuat Alex tersenyum.
"Mungkin dia malas sayang atau gak punya uang," timpal Alex, dia memang sengaja tidak memberi tahu Nita soal Rian yang meminta uang padanya karena pasti Nita akan marah.
Rian yang memiliki uang banyak ingin menghabiskan uangnya dengan pergi ke mall, dia ingin membeli baju, sepatu, jam tangan dan lain-lain. Bahkan dia bertemu dengan wanita lalu mereka berkenalan.
"Kamu cantik sekali," puji Rian
"Terima kasih mas" sahut Wanita yang bernama Bella tersebut.
Dia membelanjakan barang-barang untuk Bella, dan ini membuat Bella semakin ingin menghabiskan uang Rian.
"Bagaimana kalau kita ke hotel" kata Rian
"Boleh asal bayarannya sesuai mas," sahut Bella
"Jangan khawatir, aku memiliki banyak uang jadi aku akan membayar kamu mahal asalkan kamu bisa memuaskan aku," timpal Rian
Bella tersenyum licik, lalu Rian mengajak Bella ke hotel lagipula tongkat ajaibnya lama tidak mengeluarkan laharnya sehingga melihat yang bening-bening sedikit sudah pepet tanpa kendor.
Dua jam berlalu, Bella keluar dengan membawa uang yang lumayan banyak, dia mengambil semua uang Rian yang ada di dompet dan Bella puas sekali bisa membodohi Rian.
Keesokan harinya Rian terbangun dengan tubuh polosnya, dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri seusai mandi dia melihat dompetnya ternyata Bella menghabiskan uangnya.
"Brengsek beraninya dia menghabiskan uang aku," umpat Rian, kemudian Rian pergi ke restoran untuk sarapan dan langsung check out.
Karana fokus dengan uangnya akhirnya Rian kembali ada masalah di jalan, kali ini dia tidak hanya menyerempet tapi juga menabrak orang sehingga mengakibatkan orang tersebut meninggal.
"Aku harus bagaimana?" gumam Rian saat pihak kepolisian mendatangi lokasi.
__ADS_1