Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Mangga yang masak di pohon


__ADS_3

"Mas David," kata Indira lalu dia pergi begitu saja.


Indira sungguh kesal kenapa dia harus bertemu dengan David lagi.


David adalah bos Indira dulu saat magang di hotel. Ketampanan David mampu meluluhkan hati Indira meski David adalah seorang pemain wanita dan juga penikmat antara pangkal wanita tak membuat Indira membencinya.


Hingga suatu ketika David menjanjikan sesuatu yang indah pada Indira yaitu sebuah mahligai pernikahan jika Indira sudah dewasa, mengingat saat itu Indira masih di bangku SMA.


Namun itu hanya janji-janji saja yang tidak akan terjadi, malah yang terjadi adalah Indira sering melihat David bergonta ganti wanita di depannya.


Sejak saat itu, Indira memutuskan untuk tidak memikirkan David, dia menganggap David tidak pernah ada dalam hidupnya.


Dan saat ini David kembali datang dan bertemu dengannya di kantor suami tercinta.


David mengejar Indira keluar,


"Indira tunggu!" teriak David yang namun Indira masih terus saja berjalan tanpa menggubris David.


"Aku bilang tunggu!" teriak David yang kali ini berhasil menangkap tangan Indira.


"Lepas mas lepas!" teriak Indira mencoba melepas tangan David


"Fine aku lepas tapi kamu diam di sini dulu," pinta David


"Ok," sahut Indira kemudian dia berhenti dan diam di depan David.


David menatap Indira yang kini jauh berbeda, Indira nampak lebih cantik, rasa David dulu yang pernah ada untuk Indira kini muncul kembali.


Jiwa Casanova David juga meronta sekarang melihat Indira yang aduhai.


"Aku tertarik padamu untuk yang kedua kalinya," kata David terang terangan.


Indira menatap benci David bisa-bisanya bilang tertarik.


"Apa mas? coba ulangi sekali lagi apa?" tanya Indira dengan menatap David, nampak di mata Indira ada kebencian untuk David


"Come on Indira, perasaan aku ngomongnya jelas, nggak samar-samar maupun berbisik," kata David


"Tapi aku nggak denger lebih tepatnya nggak mau denger," sahut Indira dengan ketus.


"Indira dengar aku sangat tertarik sama kamu," kata David lagi yang membuat Indira nek mau muntah.


"Kamu jangan lawak di sini mas, lagian tu mulut kenapa luwes banget sih pengen deh rasanya aku kareti," sahut Indira.


"Dari dulu kamu nggak pernah berubah ya," ucap David dengan tertawa


"Berubah bagaimana maksud kamu, berubah jadi power ranger pink gitu terus membasmi pria model kaya kamu," sahut Indira

__ADS_1


David yang mendengarnya, tertawa. Menurutnya Indira sangat menggemaskan. Dia ingin sekali memiliki wanita yang kini berada di depannya.


Tak selang lama Farah datang dan langsung memeluk David, "Sayang, kamu ngapain bicara dengan nyonya Celo," kata Farah yang membuat David kaget.


"Apa nyonya Celo?" tanya David kemudian menatap Indira


"Iya, dia istri dari Celo," jawab Farah


Tak jauh dari sana ada Celo yang juga sudah kembali dari meeting.


Melihat Indira dan Farah membuat Celo segera mendekati mereka.


"Sayang," panggil Celo


"Mas," balas Indira lalu memeluk suaminya.


"Pak David," panggil Celo yang heran kenapa David mitra bisnisnya berdiri diantara Farah dan Indira.


"Pak Celo, bagaimana kabarnya?" tanya David basa basi


"Kabar saya baik, oh ya perkenalkan ini istri saya," jawab Celo lalu memperkenalkan Indira pada David.


"Istri anda cantik sekali pak Celo," puji David yang membuat Indira kesal.


"Terima kasih pak, dia memang cantik," sahut Celo


"Sayang, lebih baik kita segera kembali ke kantor kamu, kan urusannya sudah selesai," ajak Farah.


"Iya baiklah," sahut David.


"Pak Celo saya kira mau menjalin kerja sama dengan anda," kata David


"Oh iya pak, terima kasih," sahut Celo dengan tersenyum.


Kemudian David dan Celo berjabat tangan dan David pamit pulang.


Dari dulu David sangat susah dijinakkan, namun kini dia mau membeli property dari Admadja Grup dan kini malah ingin bekerja sama.


Namun dibalik itu semua tentu David memiliki niatan yang buruk, dia ingin memiliki Indira tak peduli itu istri Celo.


Di sisi lain, lagi-lagi Nindi dipusingkan dengan keinginannya yang aneh-aneh, kehamilan kembarnya membuat Nindi sungguh lelah.


Sore hari setelah Gilang pulang, Nindi meminta Gilang untuk mencarikan buah mangga yang masak di pohon.


"Mas carikan ya," pinta Nindi


"Sayang, mana ada sih buah mangga masak pohon kan kami tau sekarang lagi nggak musim mangga," kata Gilang

__ADS_1


"Nggak mau tau mas, aku pengennya mangga masak pohon," sahut Nindi yang tetap bersikeras


"Sekarang itu lagi musimnya pelakor dan pebinor apa kamu mau pelakor dan pebinor matang di pohon," goda Gilang yang membuat Nindi cemberut.


"Mas aku ini serius lo, ini kemauan anak kamu kalau sampai anak kita ileran kamu adalah terdakwa pertama," sahut Nindi kesal, bisa-bisanya bilang seperti itu, kalau pelakor dan pebinor bukan untuk dimakan tapi untuk ditabok.


Gilang yang bingung kali ini meminta bantuan Veri,


Gilang segera menghubungi Veri dan meminta Veri untuk mencarikan pohon mangga yang masak di pohon.


"Baik," jawab Veri dalam sambungan teleponnya.


Veri yang mendapatkan mandat dari Gilang sedikit kesal, mana ada mangga saat nggak musim seperti ini.


"Istrinya yang hamil kenapa aku yang repot," kata Veri lalu dia keluar rumahnya.


Di sekitar rumah Veri ada banyak pohon mangga tapi nggak ada satu pohon pun yang berbuah.


Veri pun ada ide, "Daripada pusing-pusing udah gitu aja," kata Veri lalu dia mengambil kunci mobilnya dan pergi ke super market.


Veri membeli banyak buah mangga, kemudian dia meminta bantuan art rumahnya untuk menempel buah-buah mangga itu di pohon.


"Kalian atur, pokonya buah ini harus menempel di pohon," titah Veri


Kini para art Veri sibuk mengerjakan perintah Veri dan beberapa saat kemudian dia menghubungi Gilang untuk ke rumahnya karena ternyata di rumahnya ada banyak pohon mangga yang masak.


Nindi sangat senang karena keinginannya terpenuhi,


"Kamu memang bisa aku andalkan Ver," gumam Gilang lalu mengajak Nindi ke rumah Veri.


Kebetulan hari sudah gelap, jadi nggak akan terlihat kalau itu mangganya tempelan.


Setibanya di rumah Veri Nindi sangat senang karena banyak pohon mangga yang masak.


"Ver panjatkan dong," titah Gilang


"Aku juga," sahut Veri dengan lemas


"Jangan, aku maunya mas Gilang yang manjat," cegah Nindi yang membuat Veri senang.


"Kamu menyelamatkan aku Nin, memang kalau seorang istri yang nyidam suami yang harus memenuhi bukan pria lain," ucap Veri dengan tertawa.


Mau nggak mau Gilang yang memanjat pohon mangga yang nggak begitu tinggi.


Gilang mulai memetik mangga dan dia menemukan sebuah keganjalan.


"OMG, ide kamu luar biasa Ver," gumam Gilang dengan tertawa.

__ADS_1


__ADS_2