
"Baiklah baiklah, aku akan menyapu," ucap Indira lalu berjalan melewati Celo.
Celo menarik tangan Indira, dan menatapnya
"Kamu nyonya di sini kenapa harus repot-repot menyapu, suami kamu ini masih bisa membayar puluhan pembantu untuk menyapu jadi nggak akan aku biarkan kamu menyapu," kata Celo.
Indira membola, dia tak percaya dengan apa yang diucapkan Celo.
"Aku nggak mimpi kan mas," kata Indira dengan mencubit tangannya.
"Sakit, bearti aku nggak mimpi," imbuh Indira dengan mengelus tangannya yang sakit.
Celo kemudian memeluk Indira, dia minta maaf atas sikapnya yang mungkin keterlaluan.
"Maafkan aku," kata Celo
"Iya mas, maafkan aku juga," sahut Indira.
Sri dan yang lainnya melongo melihat Indira dan Celo
"Matilah kita," gumam mereka
"Iya, ternyata dia nyonya kita, bagaimana ini," sahut lainnya
"Pasti tuan Celo memecat kita semua," timpal yang lain.
Sri hanya diam memaku, ternyata saingannya adalah nyonya di rumah ini.
Setelah puas memeluk Indira Celo mendekati semua pelayan rumahnya.
Dua menatap satu persatu barisan para pelayan,
"Indira adalah istriku, istri sah aku jadi kalau ada yang menyakitinya sama halnya menyakiti aku, dan tadi aku lihat kamu! menyakitinya," bentak Celo
Sri sangat takut dengan bentakan Celo,
"Maafkan saya tuan, saya tidak tau kalau Indira adalah istri tuan," sahut Sri dengan menunduk.
__ADS_1
"Sekarang kamu pilih, aku lapor polisi atau mengundurkan diri secara suka rela," kata Celo
Sri menatap Celo dengan lekat, dia memohon pada Celo supaya tidak memecatnya dia bingung harus berkerja dimana lagi.
Tentu Celo nggak mau tau dengan masalah Sri, karena Sri telah menyakiti istrinya, meskipun Indira bukan istrinya tak sepantasnya dia memperlakukan orang lain seperti itu.
Indira yang merasa kasian pada Sri mencoba bernegosiasi dengan Celo, dia mengelus punggung suaminya supaya emosinya reda.
"Mas, maafkan mbak Sri. Dia bersikap begitu karena dia tidak tahu kalau aku adalah istrimu," kata Indira
"Meskipun begitu sayang, seharusnya tetap nggak boleh seperti itu," sahut Celo emosi.
Indira tercengang dengan panggilan Celo, dia tak menyangka Celo memanggilnya sayang di depan para pelayan.
"Mas Celo kamu so sweet banget," guman Indira dengan menatap suaminya.
"Harus dong," sahut Celo.
Indira yang tak ingin masalahnya berlarut-larut membisikkan sesuatu pada Celo sehingga Celo mengukir senyuman liciknya.
Dia membawa Indira ke kamarnya, kemudian perlahan Celo menurunkan Indira ke tempat tidur.
"Aku mandi dulu ya," bisiknya
"Aku ikut mas," sahut Indira
Celo yang gemas menggendong Indira lagi dan meletakkannya di bathub yang belum terisi air.
Apa yang terjadi setelahnya hanya mereka yang tau.
**********
Hari-hari berlalu dengan cepat, Nindi berlatih dengan sungguh-sungguh supaya dia cepat sembuh, dan ajaibnya kini dia sudah bisa berdiri sendiri dan mulai bisa melangkahkan kaki sendiri tanpa bantuan alat.
"Aku bisa!" teriaknya dengan senang
Nindi sangat bahagia, seharian dia melatih dirinya, dan dia bisa berjalan sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Mas Gilang aku bisa jalan sekarang," teriak Nindi lagi dengan bahagia.
Dia menangis bahagia, akhirnya sekian lama dia sembuh juga.
Sore ini dia tidak sabar menunggu Gilang pulang, dia meminta pelayan pembantunya ke taman depan, dia ingin menunggu Gilang di sana.
Tak berselang lama, terdengar bunyi klakson mobil yang tandanya Gilang sudah pulang.
Gilang segera mendekati Nindi yang menunggunya di taman.
"Sayang," teriak Gilang dengan berlari kecil
Nindi tersenyum menanggapi panggilan suaminya,
Gilang segera berjongkok dan mengecup kening Nindi
"I Miss you sayang," kata Gilang
"Miss you too mas," timpal Nindi
"Mas aku ada kabar baik," kata Nindi
"Apa sayang?" tanya Gilang penasaran
"Kamu mundur dulu," ucap Nindi dan Gilang menurut.
Nindi menggerakkan kakinya lalu dia berdiri, perlahan dia berjalan meski masih tertatih.
Gilang yang melihatnya senang sekali
"Sayang kamu sembuh!" teriak Gilang
"Iya mas aku sudah sembuh," sahut Nindi dengan menangis bahagia
"Eh, kok malah nangis," kata Gilang cemas
"aku bahagia mas," sahut Nindi lalu memeluk suaminya.
__ADS_1