
"Sudah drama sedihnya, maaf aku harus ke rumah sakit sekarang," kata Alex setelah dia mengambil tas serta baju Rio.
"Iya," sahut Rian dengan kesal.
Alex menekan tombol kunci mobilnya sehingga mobil merah berlogo kuda jingkrak tersebut menyala.
Alex segera menggandeng Rio dan membukakan pintu mobilnya setelah Rio masuk dia memutar dan ikut masuk dalam mobil.
Saat dinyalakan suara mobil sport Alex menggema, Rian yang melihatnya hanya mampu menelan salivanya, kapan dia bisa memiliki mobil seperti itu.
Dengan langkah kesal Rian mengambil motornya dan pergi dari rumah Nita.
"Pokoknya aku harus bisa mendapatkan Nita, aku harus bisa mempengaruhi Rio," gumam Rian.
Pikirannya mengembara ke mana-mana, rencana jahat sudah disiapkan jika dia tidak bisa membujuk Rio.
Di sisi lain Rio sangat terkesima dengan interior mobil Alex.
"Mobilnya bagus ya om," kata bocah kecil tersebut.
"Iya, Rio suka?" tanya Alex
"Suka om," jawab Rio polos.
Alex tersenyum melihat bocah kecil itu memutar matanya memandangi interior mobilnya, entah kenapa dia sangat bahagia melihat calon anaknya bahagia.
Tak berselang lama mobil Alex sudah memasuki parkiran rumah sakit, Alex segera keluar dan menggandeng calon anaknya tersebut.
"Rio capek?" tanya Alex karena mereka harus naik tangga untuk sampai ke lantai tiga dikarenakan lift dalam perbaikan.
"Iya om," jawab Rio.
Alex langsung menggendong bocah kecil tersebut, kini mereka sudah sampai di kamar Nita, Saat masuk Nita sempat kaget karena Alex menggendong anaknya.
"Kenapa digendong mas?" tanya Nita
"Karena tadi lift dalam perbaikan," jawab Alex
Rio langsung saja memeluk mamanya, dia mencari adik bayinya, Nita pun menjelaskan kalau adik bayinya sama Bu dokter.
Karena hari semakin larut Alex menyuruh Rio untuk tidur karena besok harus sekolah.
Setalah Rio tidur, Alex mendekat ke arah Nita.
__ADS_1
"Sayang," panggil Alex
Nita nampak kaget dengan sebutan Alex padanya,
"Sudah jangan kaget, aku kan calon suami kamu sayang masak manggilnya nama, kan nggak romantis," kata Alex dengan terkekeh.
Nita ikut tertawa, tak disangka Alex berubah sekarang tidak seperti Alex yang dulu. Alex yang dulu sungguh brengsek.
"Terima kasih ya mas, kamu mau menyayangi aku dan Rio," kata Nita
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu sayang karena mau menerimaku," sahut Alex.
Alex mengecup pucuk kepala Nita, mereka saling berterima kasih, memang seperti itulah seharusnya tidak seperti Rian yang hanya memanfaatkan Nita saja jika mereka kembali bersama.
Alex menceritakan kalau Rian tadi di rumahnya, dia juga bercerita kalau tadi Rian akan mengantar Rio, mendengar cerita Alex membuat Nita nampak berfikir.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Alex
"Mas Rian, aku bingung kenapa dia tiba-tiba datang dan mengajak aku untuk rujuk tapi aku tidak mau. Dia terus saja membujukku untuk kembali lagi padanya," kata Nita
"Aku nggak rela kamu kembali padanya, aku nggak mau jika nanti anakku kemana-mana harus naik motor dengannya," sahut Alex dengan sombong.
"Nggak lah mas kan aku punya mobil, jadi kemana mana bawa mobil aku," timpal Nita.
Alex dulunya adalah seorang brengsek jadi dia tau mana yang tulus dan mana yang tidak.
Keesokan harinya pagi sekali Rian datang ke rumah sakit, dia ingin mengantar Rio sekolah sekalian menjenguk Nita.
Rian juga membawa bubur untuk Nita.
"Aku minta maaf karena baru bisa menjenguk," kata Rian
"Nggak apa-apa kok mas," sahut Nita.
Rio yang baru bangun kaget melihat papanya sudah ada di rumah sakit, dia berencana untuk mengantar Rio ke sekolah.
"Ya sudah mas, kamu mandiin dan pakaian seragam Rio kasian mas Alex," kata Nita yang membuat Rian membolakan matanya.
Namun mau nggak mau Rian melakukannya karena ingin mencari muka, Nita dan juga Rio.
Setalah memandikan Rio, Rian melihat Alex menyuapi Nita dengan tentu hal ini membuat dia kesal, "Seharusnya aku yang menyuapi Nita dan kamu yang mengurusi Rio," batin Rian
Setelah semua sudah siap, dia dan Rio bersiap untuk berangkat.
__ADS_1
"Oh ya Nita, boleh aku menggunakan mobil kamu? kasian Rio jika aku antar dengan motor," kata Rian
Alex nampak menatap Rian meski itu ketidaktahuan diri Rian namun benar yang dikatakannya.
Karena mobil Nita masih di cafe akhirnya Alex meminjamkan mobilnya pada Rian dan itu membuat Rian gembira tapi dia pura-pura menolak.
"Sudahlah pake saja," kata Alex lalu menyodorkan kunci mobilnya pada Rian.
Setalah berpamitan mereka bergegas menuju sekolah Rio, "Mobil om Alex bagus ya pa, kapan papa punya mobil seperti ini?" tanya Rio
Rian hanya tersenyum ketir, jangankan mobil sport logo kuda jingkrak, mobil biasa yang harganya 150 juta saja tidak sanggup beli.
"Bentar lagi," jawab Rian yang memberikan harapan palsu pada anaknya.
Sesampainya di sekolah Rio, Rian segera mengantar Rio masuk lalu dia pergi ke tempat nongkrong teman-temannya untuk memamerkan mobil Alex.
"Wiiihhh keren sekali mobil kamu, ini pinjam atau gimana?" tanya teman Rian
"Mobil aku lah, aku akan rujuk kembali dengan mantan istri aku, asal kalian tau dia itu tajir banget Lo," jawab Rian
"Mujur sekali kamu Rian bearti bentar lagi udah nggak ngojek lagi nih," sahut lainnya.
Mereka mengobrol dan bercanda bersama, Rian dengan sombongnya mentraktir mereka semua menggunakan uang dari pinjam tetangga pagi ini, bahkan dia meminjamkan mobil Alex pada temannya yang akan mengantar istrinya belanja di pasar. Jika Alex tau Rian meminjamkan mobilnya pada temannya sudah pasti Rian dijadikan tumbal untuk pembangunan jembatan oleh Alex.
*********
Di sisi lain Nindi sangat merindukan Gilang, sudah seminggu Gilang berada di luar negeri.
Setiap saat Nindi selalu melihat ponselnya dia tidak ingin Gilang terlewat saat Gilang menghubunginya.
Hingga di tengah malam Gilang menghubunginya,
~***Halo sayang~ Gilang
~Halo mas~ Nindi
~Maaf ya baru sempat menghubungi, karena aku sibuk sekali jadi nggak sempat pegang ponsel~Gilang***
Nindi cukup mengerti, lalu mereka mengobrol banyak hingga mereka ketiduran dengan ponsel yang masih menyala.
Keesokan harinya Nindi melihat Gilang yang tertidur lelap dari layar ponselnya. Dia sangat merindukan suaminya bahkan berkali-kali dia mencium layar ponselnya seumpama Gilang yang diciumnya.
"Menuju seminggu lagi itu nggak sebentar," gumam Nindi lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu dia berangkat bekerja.
__ADS_1
Seusai sarapan Nindi pamit pada orang tua Gilang untuk berangkat bekerja, sempat mama Gilang memintanya untuk berhenti bekerja karena Nindi sedang hamil tapi Nindi tetap bersikeras untuk bekerja karena mengajar dance dan tari itu sudah hobi bagi Nindi bukan hanya sebuah pekerjaan.