
Pihak keluarga dari korban Rian tidak terima karena salah satu dari anggota keluarganya ditabrak Rian sampai meninggal.
Mereka meminta Rian untuk dihukum mati namun Rian harus diproses sesuai hukum.
Mobil Rian kini jadi barang bukti dan ditahan di kantor polisi begitu pula dengan Rian yang ditahan juga sebagai tersangka. Rian dijatuhi pasal kelalaian dalam berkendara sehingga mengakibatkan kematian dan dia kini dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara.
Rian kini hanya bisa menyesal seandainya di fokus menyetir mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.
Uang yang dia miliki sekarang hanya bisa terdiam di ATM tanpa bisa dinikmati, mobilnya pun jadi barang bukti di kantor polisi, dan mungkin dua puluh tahun saat dia keluar nanti sudah usang keadaanya.
Mungkin ini balasan untuk Rian yang mendapatkan uang dengan cara yang tidak baik yang berdampak pada dirinya sendiri. Dia kini menyesal di penjara namun sesal saat ini tidak ada gunanya.
***********
Gilang masih dengan sikap dinginnya, pagi ini dokter dan suster mengecek keadaan Nindi dan Alhamdulillah semua baik, hanya Nindi kelihatan syok saja.
"Mungkin besok sudah boleh pulang pak, oh ya istrinya dilatih berjalan ya, duduk dan miring supaya cepat pulih karena kalau nggak dilatih akan kesulitan sendiri," kata Dokter lalu keluar.
"Mas," panggil Nindi
"Iya," sahut Gilang
"Sampai kapan kamu mau diam seperti ini, yang kehilangan anak bukan cuma kamu Lo, aku juga," kata Nindi dengan mata yang mulai basah.
"Sampai rasa kecewaku hilang, tapi kamu yang menyebabkan dia nggak ada karena keegoisan kamu itu," sahut Gilang dengan nada yang agak tinggi, "Kamu tau dia udah mulai tumbuh lo, saat aku menggendongnya terlihat telinga kecilnya, mata, hidung tapi kamu yang telah membiarkan dia berhenti tumbuh," imbuh Gilang dengan mata yang basah.
"Cukup mas cukup, aku juga ingin dia terus tumbuh tapi takdir dia harus diambil lagi oleh Tuhan," teriak Nindi tak terima.
"Bagaimana dia tidak diambil Tuhan la kamu nggak bisa menjaganya," sahut Gilang.
"Aaaaaaa.... Cukup mas cukup," teriak Nindi histeris.
Dokter yang kebetulan lewat mendengat teriakan Nindi, dia langsung masuk dan segera memenangkan Nindi, "Ini kenapa pak?" tanya Dokter
"Kami cekcok Dok," jawab Gilang.
Dokter menghela nafas, dokter memberi pengertian pada Gilang kalau jangan membuat Nindi shock, jangan diajak bertengkar dulu.
Gilang mengangguk mengerti, kemudian dokter menyuntikan obat penenang supaya Nindi tenang dan bisa istirahat.
Gilang duduk sambil mengusap rambutnya kasar, entah apa yang dirasakan kini.
__ADS_1
"Astagfirullah," katanya dengan mata yang basah.
Keesokan harinya Nindi sudah diperbolehkan pulang, semenjak kejadian kemarin baik Nindi maupun Gilang saling diam, Nindi malas berbicara dengan Gilang karena pasti Gilang akan menyalahkan dirinya atas meninggalnya anaknya.
Mama yang melihat mereka saling diam pun bingung, dia menyayangkan sikap Gilang maupun Nindi, hingga mama sendiri yang berbicara pada Nindi.
"Nin," panggil mama
"Iya ma," sahut Nindi.
Mama mengajak Nindi untuk berbicara di halaman belakang.
"Maaf bukannya mama mau ikut campur tapi mama lihat kalian berdua tidak baik sekarang, coba cerita pada mama," kata mama.
Nindi pun memeluk mama mertuanya, dia menangis dalam pelukan mamanya. "Nindi bingung ma, Nindi akui Nindi salah tapi mas Gilang selalu menyalahkan Nindi karena anak Nindi meninggal," ucap Nindi dengan menangis.
"Sabar Nin, mungkin Gilang juga syok. Coba nanti kamu bujuk dan rayu siapa tau dia luluh," sahut mama dengan mengelus rambut anak mantunya tersebut.
Nindi hanya mengangguk tanpa berkata-kata.
Malam ini Nindi sudah berdandan, dia ingin menunggu Gilang dan meminta maaf, dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Gilang seperti apa yang mama katakan tadi.
Lama Nindi menunggu namun yang ditunggu tak kunjung datang, tentu hal ini membuat Nindi khawatir.
Hingga pukul satu dini hari Gilang baru pulang, saat dia membuka pintu nampak Nindi duduk di sofa.
"Belum tidur?" tanya Gilang dengan melepas sepatunya
"Belum, aku nungguin kamu mas," jawab Nindi
"Ya sudah, aku kan sudah pulang. Sana tidur," ucap Gilang yang membuat Nindi kesal namun dia mencoba tenang dengan menghela nafas.
"Aku ingin ngomong mas," kata Nindi dengan menatap Gilang.
"Ngomong apa?" tanya Gilang
"Mau sampai kapan mas kita kata gini terus, tolong dong kamu jangan egois," jawab Nindi dengan mata yang mulai basah.
Mendengar jawaban Nindi membuat Gilang tertawa,
"Apa? coba kamu ulangi jawaban kamu, aku egois?" ucap Gilang dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Brak
Gilang menggebrak meja sehingga membuat Nindi tersentak kaget, spontan air matanya keluar.
"Letak egoisnya dimana? coba kamu jelasin ke aku biar aku paham," kata Gilang yang membuat Nindi terisak.
"Fine mas fine, aku menyerah. Kalau kamu menginginkan hubungan yang seperti ini fine, nggak usah kamu ngomong sama aku," sahut Nindi dengan berteriak lalu dia keluar kamar dan tidur di kamar sebelah.
Dia menumpahkan kekecewaannya pada Gilang, dia paham kalau dia salah, namun kenapa Gilang mengjudge dia seperti ini. Toh setelah dia sembuh dia bisa hamil dan memiliki anak lagi.
Pagi datang menyapa, baik Gilang maupun Nindi hingga pukul delapan belum ada yang turun, mama beranggapan kalau mereka sudah berbaikan namun terlihat Gilang langsung keluar rumah tanpa sarapan dan pamit.
"Tumben," gumam mama
Tak berselang lama Nindi keluar dengan mata bengkaknya dan merah.
Melihat Nindi yang diam mama juga tidak ingin bertanya terlebih dahulu. Dia membiarkan Nindi sarapan dengan tenang tanpa pertanyaan-pertanyaan yang malah merusak mood Nindi.
Setalah sarapan Nindi pamit pada Mama untuk keluar, dia pamit untuk membeli sesuatu di mall.
"Kamu sudah sembuh ta Nin?" tanya mama
"Sudah kok ma," jawab Nindi dengan tersenyum lalu dia pergi karena taxi online yang dia pesan sudah menunggu.
Sepanjang perjalanan pikiran Nindi traveling kemana-mana, dia sudah tidak tau bagaimana lagi bicara dengan Gilang.
Tiga puluh menit kemudian, dia sampai di mall.
Nindi masuk ke dalam dan berbelanja membeli keperluannya.
Nindi melewati sebuah toko baju bayi, entah mengapa kaki Nindi melangkah masuk, dia melihat baju-baju bayi, box bayi, sepatu, topi dan lain-lain.
Melihat semua itu membuat Nindi menangis.
Puas melihat baju bayi dia memutuskan pergi ke toko baju.
Satu jam dia berkeliling, kini Nindi istirahat di sebut resto dalam mall, dia melihat kelaurga kecil dengan anak mereka dan Nindi tersenyum melihat mereka.
"Betapa bahagianya kalian," gumam Nindi.
Saat asik melamun sebuah tangan mengagetkannya.
__ADS_1
Nindi menoleh lalu tersenyum.