
Dengan frustasi Celo membiarkan Indira pergi ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Indira bingung, dia berjalan kesana kesana kemari seperti setrika.
"Kalau setelah ini mas Celo nggak tanggung jawab gimana? terus kalau aku hamil gimana?" Indira bermonolog dengan dirinya sendiri hingga waktu sudah berjalan lima menit.
Celo yang sudah tidak tahan menggedor-gedor pintu kamar mandi,
"Indira, kamu ngapain saja. Memangnya berapa liter air seni yang kamu keluarkan sehingga lama sekali!" teriak Celo
"Tuh dah gedor-gedor, gimana nih," ucap Indira gugup.
Indira mencoba menghela nafas, dia menenangkan dirinya, bagaimana pun juga Celo adalah suaminya.
Dengan gugup dia keluar kamar mandi, Celo sudah menunggu dengan melipatkan tangannya, dia sangat menahan hasratnya bahkan celananya penuh sesak akibat tongkat saktinya yang berdiri tegak dari tadi.
"Cepatlah Indira," ucap Celo dengan raut wajah tak karu-karuan.
"Iya mas, tapi tubuhku nggak ok lo mas, lihatlah perutku sedikit buncit, pantatku juga nggak berisi terus buah dadaku juga nggak wao, terus..." belum sempat melanjutkan kata-katanya Celo menarik Indira dan membawanya ke tempat tidur, dia mencium bibir istrinya dengan rakus, dengan bibir yang me lu mat bibir Indira tangan Celo perlahan menurunkan celana yang Indira pakai.
Kini bagian bawah Indira sudah polos tinggal bagian atasnya.
Celo menyudahi pautannya kemudian dia melepas baju dan celana miliknya, karena tak sabar dia melemparkannya sembarang.
Celo meremas sebentar bagaian dada Indira mencoba membuat Indira terang*sang karena bagian bawah Indira masih kering. Maklum Indira masih gugup.
Celo akhirnya melu*mat pegunungan milik istrinya, kini Indira mende sah hebat, dia merasakan nikmat-nikmat geli yang luar biasa.
Tangannya mulai memegang kepala Celo, dia menenggelamkan kepala Celo di antara belahan dadanya.
"Oooohhhh mas," erangnya.
__ADS_1
Tak ingin lama-lama Celo berusaha masuk dalam goa milik Indira, meski sedikit kesulitan namun akhirnya bisa masuk juga.
Indira yang kesakitan menarik sprei, "Ahhh sakit mas," rintihnya
"Aku akan main dengan pelan supaya kamu nggak kesakitan," sahut Celo.
Celo mulai memaju mundurkan pinggangnya, karena milik Indira sungguh menggigit membuat Celo men de sah hebat,
"Nikmat banget Indira," ucap Celo
Ada rasa puas tersendiri bagi Indira karena Celo puas akan service yang dia berikan. Bahkan Indira menggigit tongkat sakti Celo dengan miliknya sehingga Celo mengerang hebat untuk kesekian kalinya.
"Ooohhh nikmat sekali," ucapnya dengan memejamkan mata.
Celo memompa dengan cepat karena dia akan segera sampai begitu pula dengan Indira, dia sampai lebih dulu dan beberapa waktu kemudian disusul Celo.
Celo tumbang di samping Indira, kini dia telah melakukan nafkah batin pertamanya, begitu pula dengan Indira dia melakukan kewajibannya melayani suami.
"Iya mas, aku jarang mencukurnya," sahut Indira
"Kalau terlalu lebat aku kesulitan menemukan goa kamu bisa-bisa aku tersesat di hutan belantara kamu," timpal Celo dengan terkekeh.
Indira hanya tersenyum, bisa-bisanya Celo berkata seperti itu.
"Kita lanjut lagi yuk," pinta Celo
"Ayok, tapi pelan ya mas, masih sakit banget soalnya," sahut Indira.
"Pasti," timpal Celo
Celo langsung nangkring di atas Indira, dia bersiap untuk foreplay supaya istrinya basah sehingga tongkat saktinya masuk dengan mudah.
__ADS_1
Kamar Indira menjadi saksi bisu malam pertama yang panas diantara mereka, baik Celo maupun Indira sama-sama menikmati malam panas mereka, suara desa han dan erangan menjadi musik dalam kamar mereka, tak hanya desa han dan erangan yang terdengar, suara decakan dari dua benda yang menyatu pun turut menjadi musik.
Entah terbuat dari apa tulang Celo hingga lebih dari satu jam dia masih kuat bergulat padahal bagian bawah Indira sudah panas panas perih.
"Mas, sudah sampai apa belum?" tanya Indira
"Bentar lagi sayang," jawab Celo
Dipanggil sayang oleh Celo membuat Indira melayang.
Meski cinta belum tumbuh namun kata sayang dari Celo bisa menjadi benih yang mungkin akan tumbuh di hati Indira.
Celo mencium kening Indira lalu memompa lebih cepat yang tandanya dia akan mendapatkan pelepasannya.
Beberapa saat kemudian tubuh Celo kaku, dan cairan hangat membasahi dalam area sensitif Indira.
Setelah oli putihnya keluar semua Celo mencabut tongkat saktinya.
"Terima kasih Indira," ucap Celo
"Sama-sama mas," sahut Indira.
Kemudian mereka tidur dengan menghadap ke atas, masih pertama jadi masih belum saling peluk.
Karena kelelahan mereka berdua bangun kesiangan, sehingga Sri art Celo menggedor-gedor pintu kamar Indira.
Celo yang merasa terganggu kemudian beranjak lalu memakai celananya saja sehingga dia bertelanjang dada, kulit Celo yang lumayan putih membuat dadanya yang kemarin dicakar dan dihisap Indira kelihatan.
Sri sangat kaget ternyata yang membukakan pintu adalah Celo.
"Ada apa? pagi-pagi mengganggu tidur ku,"
__ADS_1