
Nindi dan Gilang sangat bahagia dengan kehamilan bayi kembarnya, begitu pula dengan mama Gilang, dia tidak sabar menunggu cucu kembarnya lahir ke dunia ini.
Sepulang dari kantor Celo dan Alex ada meeting dengan klien di sebuah restoran, seusai meeting Alex pamit dan tidak bisa menemani Celo makan karena dia harus mengantar Nita ke rumah sakit karena ada jadwal imunisasi untuk anaknya.
"Yah kak, kok aku ditinggal?" protes Celo
"Halah makan sendiri nggak papa," sahut Alex lalu dia menyeruput minumnya dan pergi.
Celo yang terlanjur memesan makanan mau nggak mau tetap tinggal.
Saat asik makan tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Kita lama nggak main sayang," bisik wanita tersebut lalu menggigit kecil telinga Celo.
Mendapat sentuhan yang seperti itu tentu membuat Celo merasakan sesuatu yang berdesir dalam tubuhnya.
Celo meletakkan alat makan yang dibawanya dan menoleh.
"Kamu," ucap Celo datar.
"I Miss you," kata wanita tersebut
"Aku enggak," sahut Celo datar.
"Bagaimana kalau kita bergoyang," ajak wanita tersebut.
"Nggak, aku sudah punya istri." Celo menolak
"Well well, tapi kan itu kalau di rumah kalau di luar kan berbeda ceritanya," bujuk wanita yang bernama Farah tersebut.
"Pergilah, jangan menggodaku," usir Celo.
Wanita tersebut nampak tersenyum.
Farah adalah bekas teman ranjang Celo, dia adalah seorang stripper, tentu dalam hal body Indira jauh berbeda meski bisa dibilang kalau Indira adalah juga memiliki tubuh yang sexy juga.
Farah memiliki masalah finansial, awalnya dia tidak kepikiran tentang Celo namun saat tadi dia makan dia melihat Celo dan Alex bertemu klien jadi entah mengapa pikiran untuk mendekati Celo muncul di pikiran Farah, di antara semua lelaki yang paling royal menurut Farah adalah Celo, untuk itu dia ingin menggoda Celo supaya mau tidur dengannya lagi dan meminta bayaran yang up pada Celo.
"Aku sangat merindukan kamu sayang, aku rindu saat menjepit tongkat sakti milikmu, aku rindu bergoyang yang men*de*sah bersama dengan kamu," bisik Farah dengan tangan yang menyusuri dada Celo.
Celo sebisa mungkin mempertahankan imannya, meski kini dalam otaknya ada Farah yang bergoyang, otak Arcelo berkelana ke masa di mana dia suka sekali jajan, bagi Celo dan Alex itu adalah hal yang biasa.
__ADS_1
Bisa dibilang mereka berdua adalah penikmat pangkal wanita.
"Lepas tangan kamu Farah, ingat aku sudah menikah." Celo mencoba memperingatkan Farah.
"Baiklah Celo," ucap Farah pasrah.
Dia kemudian duduk di seberang Celo, dia mengobrol sedikit dengan Celo.
Farah meminta Celo untuk mengantarnya pulang, awalnya Celo menolak namun karena bujukan maut dari Farah akhirnya dia bersedia mengantar Farah pulang.
Saat di mobil Farah mencoba merayu Celo lagi, tangannya mulai bergerilya kemana-mana, bahkan ke bagian bawah perut Celo.
"Farah jaga batasan kamu!" maki Celo
Bukannya berhenti Farah malah memainkannya meski masih terbungkus celana Celo.
Celo sedikit meredakan nikmat namun dia segera menyingkirkan tangan Farah.
"Lebih baik kamu turun disini Farah!" seru Celo
"Ok maaf maaf, aku hanya rindu padanya Celo," ucap Farah memelas.
"Dia sudah milik orang siapapun tidak boleh ada yang menyentuhnya selain pemiliknya!" sahut Celo dengan nada yang tinggi.
Setelah sampai di rumah Farah, Celo segera menyuruh Farah turun.
"Tidak main sebentar?" tanya Farah
"Nggak," jawab Celo lalu menyuruh Farah turun.
Dengan kecewa Farah turun kemudian Celo melajukan mobilnya kembali, akibat sentuhan-sentuhan dengan Farah membuat Celo berhasrat. Dia melajukan mobilnya supaya cepat sampai di rumah.
Setibanya di rumah dia segera ke kamar istrinya, kebetulan sekali Indira baru saja selesai mandi, Celo langsung saja memeluk Indira dari belakang.
"Jangan menggodaku," bisik Celo
"Aku nggak menggoda kamu mas, kamu memang selesai mandi," Sahut Indira dengan sedikit mende*dah karena tangan Celo bergerilya memberikan sentuhan pada dada Indira.
Indira merasakan tongkat sakti Celo sudah berdiri
tegak, dia siap memberikan kenikmatan pada lawan gulatnya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Celo membawa Indira ke tempat tidur, dia membuka lilitan handuknya terlebih dahulu.
"Oh, Mon*tok sekali," ucap Celo yang membuat Indira tertawa
"Apanya yang montok mas?" tanya Indira
"Itu, tubuh kamu," jawab Celo dengan melepas semua penutupnya.
Celo mulai menjelajahi tubuh istrinya yang molek, bibirnya yang nakal mengobrak abrik bagian bawah Indira sehingga Indira menarik rambut Celo dan mencoba menenggelamkan wajah Celo ke bagian sensitifnya.
"Sayang, aku tidak bisa nafas," protes Celo
Kemudian dia melanjutkan aksinya lagi, Indira dibuat menggeliat seperti cacing kepanasan, hingga dia merasakan sesuatu yang nikmat keluar dari bagian sensitifnya.
"Ah, mas aku udah sampai," ucap Indira dengan nafas yang tersengal.
"Sekarang giliran aku, karena Celo sudah memberinya kepuasan yang luar biasa kini gantian Indira yang ingin membalas kenikmatan itu, dia mengungkung Celo di bawahnya, dia mengarahkan bibirnya tepat tongkat sakti Celo.
Ini pertama kali Indira melakukan hal itu, awalnya dia jijik tapi Indira mencoba menyenangkan Celo.
Perlahan Indira memasukkan tongkat sakti Celo ke mulutnya, Celo yang tak kuasa memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang lama tidak dia rasakan.
Kini Indira ikut terbawa nafsu hingga dia semakin cepat memompa tongkat sakti Celo menggunakan mulutnya, Celo yang tak kuasa langsung menarik Indira dan mengungkungnya.
Dia segera memasukkan tongkat saktinya di goa milik istrinya, mereka saling bergulat dan mengejar untuk segara sampai dan beberapa saat kemudian mereka sama mengejang yang artinya sama-sama keluar.
Setelahnya mereka sama-sama membersihkan diri, Celo yang heran dengan permainan Indira pun bertanya
"Kamu kok bisa-bisa bermain seperti itu sayang?" tanya Celo
"Mengimbangi kamu saja mas, supaya gulat kita semakin berwarna, tidak hanya monoton. Entah mengapa aku memiliki firasat yang nggak enak, takut kalau kamu selingkuh," jawab Indira dengan tertawa.
"Mana mungkin aku jajan di luar jika yang di rumah memberikan service yang begitu memuaskan, ada yang halal kenapa cari yang haram," sahut Celo.
"Janji ya mas, jangan duakan aku." timpal Indira
"Janji," sahut Celo lalu memeluk istrinya.
Di sisi lain Alex dan Nita nampak cemas, setelah di imun anaknya mengalami demam yang sangat tinggi, "Bagaimana ini mas?" tanya Indira
"Tenang sayang, nggak kan terjadi apa-apa dengan Dania." Alex mencoba menenangkan istrinya meski dia sendiri sangat cemas dengan anaknya.
__ADS_1
Tapi memang imunisasi ini memberikan efek panas tinggi pada anak.
Nita mengeratkan pelukannya pada Alex, dia benar butuh dada suaminya untuk bersandar.