
Sesampainya di apartemen Nindi membuang tasnya lalu merebahkan dirinya di tempat tidur.
Pikirannya melayang kemana-mana ada rasa takut tersendiri, jika dibiarkan pasti Gilang dan sekretarisnya ada apa-apa, mungkin sekarang mereka tidak ada hubungan apa-apa tapi entah nanti.
"Sebelum itu terjadi aku harus bertindak, usia pernikahanku baru seumur jagung, aku baru saja bahagia tak akan ku biarkan bibit pelakor tumbuh dan berkembang menguasai suamiku," gumam Nindi.
Di sisi lain Gilang nampak tidak enak dengan Nindi, dia takut kalau Nindi pergi meninggalkannya. Gilang terus melamun dengan memutar-mutar pulpen miliknya hingga suara Nita mengagetkannya.
"Maafkan saya pak, karena saya tadi istri pak Gilang jadi salah paham," kata Nita
Gilang tersenyum, "Nggak kok, ya sudah kamu selesaikan pekerjaan kamu," ucap Gilang lalu dia pergi dengan kunci mobil di tangan.
Gilang memang ingin pulang, dia takut kalau terjadi apa-apa pada Nindi lebih tepatnya takut kalau Nindi pergi.
Sesampainya di rumah Gilang mencari Nindi di kamar namun dia tidak menemukan istrinya.
Wajah Gilang memucat seketika, "Please jangan tinggalkan aku," batin Gilang lalu pergi ke seluruh penjuru apartemennya.
Dia melihat Nindi bersantai di balkon belakang, dan itu membuat Gilang lega sekarang.
"Sayang, ngapain disini?" tanya Gilang
"Eh mas Gilang, lagi bersantai mas. Bosan di kamar terus bisa-bisa aku jadi tape," jawab Nindi dengan terkekeh
Melihat Nindi sudah mau tersenyum membuat Gilang lega, semua di luar ekspektasinya tadi.
Gilang pun memeluk Nindi, dia meminta maaf atas kejadian tadi. Dia juga menjelaskan kalau dia dan Nita tidak ada hubungan apa-apa, Nita juga bekerja secara profesional.
Mendengar penjelasan Gilang membuat Nindi tersenyum.
"Iya mas," kata Nindi.
************
Keesokan harinya Gilang sudah siap dengan pakaian kerjanya, dia memasukkan laptop dan beberapa berkas ke dalam tas.
Tak lupa dia menyemprotkan parfumnya sebelum meninggalkan kamarnya.
Di luar Nindi menyiapkan makanan di meja, dia juga membawakan bekal makanan untuk Gilang.
"Ini bawa ya, jadi nanti siang mas Gilang makannya di kantor saja, nanti kita makan bersama secara online ya?" kata Nindi
"Siap my queen," sahut Gilang terkekeh.
Begitulah tiap siang, Nindi menyempatkan melakukan video call.
Hingga suatu ketika saat Nindi pergi ke sebuah mall tak sengaja dia melihat Nita dengan Celo dan Alex di sebuah cafe yang terdapat di depan mall.
__ADS_1
Nindi akhirnya curiga dengan Nita, dia memakai masker dan mendekat ingin tau obrolan kedua Kakak Gilang dengan Nita.
"Kamu Pepet terus si Gilang, namanya kucing kalau dikasih ikan pasti tergoda juga," kata Celo
"Baik pak, lagipula saya juga tertarik dengan pak Gilang," sahut Nita.
"Buatlah dia tidur denganmu, setelah itu mintalah pertanggungjawaban darinya," ujar Alex.
Mereka bertiga nampak tertawa, memang inilah rencana Alex dan Celo, jalan satu-satunya membuat Gilang hancur adalah membuat rumah tangganya hancur.
Memang Celo dan Alex sangat licik, entah dendam apa mereka pada Gilang sehingga mereka berdua sebegitu membenci Gilang, toh semua yang Gilang miliki sudah mereka rebut.
"Ya sudah pak Celo dan Alex saya kembali ke kantor dulu," pamit Nita.
Nindi yang tau rencana busuk mereka pun berniat mengawal Gilang ke kantor, tentu dia tidak ingin suaminya direbut oleh Nita.
Keesokan harinya Nindi ikut bersiap, dia memakai pakaian bagus dan juga memakai sepatunya.
"Sayang pagi ini kamu cantik sekali, kamu juga memakai baju formal memangnya mau kemana?" tanya Gilang lalu memeluk istrinya tersebut.
"Kamu ngawal kamu lah," jawab Nindi
Gilang bingung dengan jawaban ambigu dari istrinya tersebut, apa maksud dari mengawal.
"Maksudnya?" tanya Gilang lagi lalu melepas pelukannya.
"Kamu nggak capek kalo ikut ke kantor?" tanya Gilang
"Aku lebih capek kalau di rumah karena pasti pikiranku terbang kemana-mana, daripada pikiran aku terbang kemana-mana dan membuat aku lelah hati mending aku ikut kamu," jawab Nindi.
"Kamu cemburu sama Nita sayang?" tanya Gilang
"Nggak, cuma mencoba melindungi milik aku dari intaian serigala betina," jawab Nindi.
"Kejahatan tu bukan karena niat dari pelakunya namun juga karena adanya kesempatan, jadi aku tidak mau ambil resiko," imbuh Nindi kemudian.
Gilang tidak menyangka kalau Nindi posesif juga.
Gilang nampak tersenyum, dia sangat senang itu artinya Nindi sangat mencintainya.
Gilang yang gemas memeluk istrinya lagi dengan erat.
Setelah sarapan Nindi dan Gilang pergi ke kantor, semua pegawai lagi-lagi dibuat bingung oleh Gilang dan Nindi, bukankah Rara sudah resign kenapa bisa datang ke kantor lagi?
Kenapa Gilang secara terang-terangan mengumbar kemesraannya dengan Rara padahal Gilang sudah memiliki istri?
Tanya tanya besar di kepala para pegawai.
__ADS_1
Saat masuk ruangan Gilang, Nindi masih melihat Nita satu ruangan dengan Gilang.
Nindi nampak kesal karena Gilang tidak segera bertindak.
"Kamu duduk ya sayang, aku mau ngecek pekerjaanku dulu," kata Gilang yang menyuruh Nindi duduk di sofa.
Dari sofa Nindi mengawasi Nita, ternyata Nita diam-diam curi-curi pandang sehingga membuat Nindi kesal.
Nindi yang kesal dengan Nita mendekati Gilang yang sibuk dengan pekerjaannya, dia ingin membuat Nita panas. Nita dari mejanya melihati Nindi, tampak rasa tidak senang di raut wajahnya.
"Mas," panggil Nindi
"Ada apa sayang?" tanya Gilang lalu menghentikan pekerjaannya.
Nindi langsung saja duduk dipangkuan Gilang, sehingga membuat Gilang gemas dengan tingkah istrinya.
Tanpa malu Gilang langsung saja memeluk istrinya mereka bermesraan di depan Nita.
Nindi nampak tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi Nita nampak kesal.
"Mangkanya jangan macam-macam," batin Nindi.
"Mas sudah ya, tidak enak dilihat Nita," kata Nindi sambil melihat Nita.
Gilang menoleh ke arah Nita dengan polosnya dia berkata," Maaf Nita, aku kebablasan," Gilang terkekeh.
Nita memaksakan senyumannya, dia sudah sangat kebakaran jenggot.
Ingin rasanya dia menarik rambut Nindi dan menyuruhnya pulang.
"Kamu seharusnya memindahkan mejanya dengan segera mas, lagian kan ini ruangan privasi kamu kalau kita bermesraan seperti ini kan nggak enak," ucap Nindi pura-pura.
"Iya besok aku pindahkan ya,"sahut Gilang.
Nindi seperti perangko yang terus lengket dengan Gilang, saat bersamaan Veri datang untuk memberikan laporannya.
"Kalian ini membuat orang iri saja," kata Veri
"Mangkanya cepatlah mencari jodoh Ver, supaya dapat bermesraan seperti kami," sahut Gilang
"Fokus kerja dulu pak, saya trauma dengan wanita," timpal Veri.
"Jangan lama-lama traumanya pak Veri, ingat usia semakin tua," ucap Nindi.
Veri hanya terkekeh, lagipula dia belum mau buru-buru karena usia juga masih dua puluh lima tahun.
Nita yang tidak sanggup melihat kemesraan Gilang dan Nindi ditambah dengan komporan dari Veri memilih pamit keluar sebentar.
__ADS_1