
Nindi menatap Gilang dengan tatapan memohon berharap Gilang segera memadamkan api dalam tubuhnya, api yang terus membesar yang membuat Nindi kepanasan, hanya Gilang lah air yang mampu memadamkan api tersebut.
Gilang mendekati Nindi yang menggeliat di tempat tidur, nampak kemolekan tubuhnya yang membuat Gilang menelan saliva.
"OMG," gumam Gilang, bagian bawahnya sudah berdiri tegak siap untuk bertempur dalam Medan perang.
Melihat Gilang yang hanya terbengong di tepi ranjang membuat Nindi menarik Gilang.
Nindi membawa Gilang dalam pelukannya insting yang bermain sekarang, Nindi mencium bibir Gilang dengan rakus, hingga Gilang agak kewalahan mengimbangi naf su Nindi yang tidak terkontrol.
Obat apa yang telah diberikan sehingga Nindi seperti ini.
Nindi bermain di atas Gilang, kali ini dialah yang memimpin. Gilang hanya pasrah mendapat serangan nikmat dari istrinya tersebut.
Dengan ganas, Nindi menciumi tubuh Gilang bahkan banyak tanda cinta dengan warna kebiruan terjejer rapi dileher maupun di dada.
Bibir Nindi seperti vakum cleaner yang menghisap dan menyedot dengan kuat kulit Gilang.
ah ah ah
lenguhan dan desa han terdengar dari keduanya, mereka hanyut dalam kenikmatan dunia yang memabukkan.
Gilang mengganti posisinya sekarang, dia pun ingin memimpin permainan panas ini.
Kini gantian Gilang yang menikmati tubuh istrinya, bibirnya dengan nakal melukis di leher dan dada Nindi, bahkan lidah nakalnya sudah menari-nari di atas pucuk dada Nindi sesekali sensasi gigitan yang semakin membuat Nindi dimabuk kepayang.
Baik Nindi dan Gilang yang sudah tidak sabar segera melakukan penyatuan, karena baru buka segel jadi agak sulit untuk masuk.
Nindi memekik kesakitan saat Gilang mencoba menerobos melewati selaput dara yang masih terjaga dengan baik.
Tiga kali hentakan akhirnya membuat Gilang mampu memasukkan Rusal Jerico miliknya masuk gawang sempit milik Nindi.
Nindi mencengkeram sprei dengan kuat. Perih, sakit dan nikmat itulah yang kini Nindi rasakan sedangkan Gilang men desah hebat karena rudal miliknya diapit dan dijepit oleh otot otot area sensitif Nindi.
"OMG sayang, nikmat banget," bisik Gilang
Nindi mengangguk dan meminta Gilang melakukan lebih, meski sakit namun api dalam tubuh Nindi masih berkobar sehingga meminta Gilang untuk melakukan lebih.
Perlahan Gilang memaju mundurkan pinggulnya, membuat Nindi semakin menggila.
Dia mende sah sekeras kerasnya, menikmati permainan Gilang.
"Mas lebih cepat mas," pintanya
Gilang semakin memompa dengan cepat, dan beberapa saat kemudian mereka berdua sama sama mendapat pelepasan mereka.
__ADS_1
Gilang tumbang di samping istrinya dengan nafas yang memburu seperti habis lari maraton tiga puluh kilometer, begitu pula dengan Nindi.
Mereka mengulangi hal yang sama hingga beberapa kali dan akhirnya membuat mereka tak berdaya.
Nindi terlelap dahulu, Gilang menatap wajah istrinya tersebut dan menyibakkan anak rambut Nindi kebelakang.
"Maafkan aku jika aku menyakitimu, mulai sekarang aku janji akan jadi suami yang terbaik untuk kamu," gumam Gilang lalu mencium kening istrinya.
Seolah tau Nindi tersenyum dalam tidurnya dan membuat Gilang semakin gemas.
Akhirnya tak selang lama Gilang ikut terlelap juga.
**********
Mentari datang dengan cepat, Perlahan mata Nindi terbuka. Dia memutar matanya mengelilingi setiap sudut ruangannya.
"Kapan aku pulang," gumamnya
Saat hendak beranjak Nindi merasakan ada yang berat, dia melihat tangan Gilang melingkar sempurna di perutnya.
"Mas Gilang," gumamnya
Nindi memindahkan tangan Gilang, dan betapa kagetnya dia saat menyibakkan selimut, dia polos tanpa memakai penutup apapun, selain itu Nindi merasakan sakit di pangkal pahanya.
"Apa mungkin semalam kami sudah melakukannya?" Nindi bertanya pada dirinya sendiri, namun memorinya tidak menyimpan apapun yang dia ingat kemarin hanyalah saat seorang pria mengikutinya ke toilet setelah itu entah apa selanjutnya.
Dengan menahan sakit Nindi memunguti baju yang berserakan di lantai kemudian pergi ke kamar mandi, dia melihat pantulan dirinya di cermin nampak barisan warna merah berjejer rapi di sana.
"Akhirnya," gumam Nindi
Nindi nampak melamun di depan cermin, entah apa yang dipikirkannya.
Di ranjangnya Gilang juga mulai terbangun, dia tersenyum sambil mengingat kembali kejadian semalam.
Pagi ini dia bangun dengan hati yang berbunga-bunga.
Gilang menoleh ke sampingnya namun dia tidak melihat Nindi.
Gilang menyibakkan selimutnya dan beranjak, saat Gilang membuka pintu kamar mandi dia melihat Nindi yang masih polos mematung di depan cermin.
Gilang langsung saja mendekat dan memeluk istrinya dari belakang.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Gilang yang membuat Nindi tersentak kaget.
"Kamu ngagetin aja mas," protes Nindi
__ADS_1
"Maafkan aku, semalam kak Celo kelihatannya memberimu sesuatu yang membuat kamu berapi-rapi, tidak ada cara lain selain bergulat," jelas Gilang.
"Karena kamu datangnya lama mas, aku nggak bisa bayangin jika dia yang membantuku memadamkan api dalam tubuhku kemarin,"sahut Nindi dengan raut wajah yang berubah.
"Yang terpenting sekarang, aku yang memadamkannya," timpal Gilang
Nindi mengangguk lalu tersenyum tipis, entah apa yang membuatnya nampak kurang bahagia berbeda dengan Gilang.
"Mulai saat ini aku akan janji akan selalu menjagamu sesuai janjiku dulu pada mendiang ayah," ujar Gilang yang membuat Nindi menatapnya lewat pantulan kaca.
Nindi tersenyum lalu mereka berdua mandi bersama di bawah guyuran shower.
Setelah selesai mandi, Gilang segera bersiap ke kantor sedangkan Nindi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Gilang.
Dia tidak menemukan apapun di kulkas yang ada hanya roti dan selai.
"Astaga, aku lupa kalau aku belum belanja," gumamnya.
"Nanti kita belanja bersama di supermarket sayang, oh ya mulai sekarang pindahkan baju-baju kamu ke kamarku ya? aku harap kamu sudah mau menerima aku dan kita bersama membina rumah tangga kita, kita lupakan kejadian yang telah berlalu," ucap Gilang.
Nindi nampak berfikir, memang apa yang dikatakan Gilang benar adanya, mungkin sekarang saatnya membina rumah tangga. Toh inilah yang dia inginkan dari awal, membina rumah tangga dengan Gilang.
"Baik mas," sahut Nindi.
Gilang sangat bahagia mendengar pengakuan Nindi, akhirnya Nindi mau menerimanya dan memaafkannya.
Gilang berangkat ke kantor dengan senyum merekah di bibirnya, meski banyak tanda kecupan di lehernya namun Gilang tak malu sedikitpun sehingga tak ada niatan untuk menutupinya.
Bila perlu dia akan menunjukkan pada Dunia kalau kini dia bahagia.
"Pagi semuanya," sapa Gilang dengan senyuman yang mereka bak bunga Raflesia yang mekar sempurna.
Semua pegawai nampak heran dengan sikap Giang namun Meraka bahagia karena atasan mereka nampak bahagia pagi ini.
"Pagi pak," sahut Meraka barengan.
Gilang memanggil Veri ke ruangannya,
"Ver nanti siang traktir semua pegawai kita ya, aku ingin syukuran atas anugerah yang telah aku terima," kata Gilang yang membuat Veri nampak bingung.
"Anugerah apa pak?" tanya Gilang
Gilang menunjukkan beberapa bekas kecupan Nindi kemarin, dan mata Veri membulat sempurna
"Mati aku, pak Gilang sudah tidak waras," batin Veri dengan tertawa.
__ADS_1