Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Semakin membaik


__ADS_3

Celo segera masuk ke dalam kamarnya, keringat dingin mulai keluar, tubuh polos Indira terekspos sempurna, bahkan dia sangat ingat dengan jelas lekuk tubuh Indira bahkan ukuran dan bagaimana dada Indira pun dia tau kini.


"Celo fokus," ucapnya lalu pergi ke kamar mandi namun tanpa di duga tongkat sakti miliknya terus berdiri tegak tanpa mau tidur.


Otak Celo selalu memikirkan tubuh polos Indira, hingga tidak ada cara lain untuk menidurkan tongkat saktinya selain bersolo karier.


Dengan gerakan yang perlahan, memorinya mengingat Indira yang polos tadi, meski dengan menggunakan bantuan pelicin alias sabun Celo cukup menikmatinya.


Di dalam kamar mandi Celo men des ah, dia merasakan nikmatnya sentuhan tangannya sendiri hingga dia menuntaskan hasratnya yang telah lama tak tersalurkan.


"Oh, lega sekali," katanya lalu mencuci tangannya kemudian dia membasuh tubuhnya dengan air yang turun dari pancuran.


Setelah selesai mandi, Celo bersiap untuk ke kantor.


Indira sungguh malu bertemu dengan Celo, karena Indira tidak kelihatan salah satu Art memanggilnya.


"Indira!" panggilnya dengan sedikit ketus.


Pelayan ini usianya sama seperti Indira, dia lama berkerja di sini, saat tau kalau Celo memberinya kamar tamu dia sangat iri pasalnya sejak dulu dia menyukai Celo namun tidak berani mengungkapkannya, selain tidak akan digubris oleh Celo dia juga sadar diri.


Mendengar suara ketukan, Indira bergegas membukakan pintu.

__ADS_1


"Kamu ngapain saja, bantu bersih-bersih sana kek, bantu masak dan lain-lain, enak sekali dirimu cuma santai santai di kamar, kamu pikir ini rumah suami kamu," omel art yang bernama Sri tersebut.


"Maaf mbak, ini baru mau turun," sahut Indira kemudian ikut turun Sri.


Setalah di bawah Indira menyiapkan sarapan untuk Celo.


Tak berselang lama Celo turun, dia nampak gugup bertemu Indira.


Saat melihat Indira, otak Celo kembali traveling hingga ada sesuatu yang mengeras di bawah.


"Sh*it, is Facking Indira," batinnya mengumpat


Indira yang malu tidak berani bertanya apa-apa pada Celo bahkan dia sangat gugup hingga jantungnya selalu berdegup kencang.


Celo segara menghabiskan makannya, setelah itu dia berangkat ke kantor tanpa salaman dari Indira.


*************


Waktu cepat berlalu, Nindi yang sudah empat kali menjalani terapi semakin menunjukkan kemajuan. Perlahan dia sudah bisa sedikit sedikit menggerakkan kakinya meski untuk bisa berdiri dia harus bersusah payah sekali, tak hanya terapi Nindi juga belajar di rumah, dia selalu melatih kakinya sendiri pagi dan Sore setelah dan sebelum Gilang pulang.


Awalnya Gilang selalu melatihnya namun karena dia tidak ingin merepotkan Gilang, akhirnya Nindi berlatih sendiri.

__ADS_1


Sore itu, Nindi dengan sudah payah meletakkan kakinya di atas karpet kamarnya, perlahan dia mulai berdiri meski dengan susah payah dan akhirnya Nindi bisa berdiri sendiri.


"Mas Gilaaaang, sebentar lagi aku bisa jalan," teriak Nindi dengan riang.


Gilang yang ternyata sudah datang mengintip Nindi di depan pintu, dia tersenyum puas karena istrinya akan segera sembuh.


"Terima kasih ya Tuhan, engkau telah mengembalikan Nikmat yang sempat engkau ambil," ucap Gilang dengan mata yang basah, karena dia sungguh terharu melihat Nindi.


Setelah Nindi selesai latihan dia ingin mandi, dia mulai melepas pakaiannya dan ini tentu membuat Gilang menelan saliva dan segera masuk untuk mandi bersama istrinya.


"Kita mandi bersama ya," bisik Gilang dengan tersenyum licik


Meskipun tau kelicikan suaminya tak membuat Nindi menolak mandi dengan Gilang.


Di sisi lain Celo yang baru pulang segera masuk rumah, dia bergegas masuk kamarnya untuk mandi karena habis ini dia ada janji dengan Klien.


Saat hendak mandi dia sungguh kaget karena ada Indira di dalam yang sedang membersihkan kamar mandinya.


Entah bagaimana dia membersihkan kamar mandi Celo hingga tubuhnya basah semua. Karena tipisnya kaos yang dia kenakan sehingga terlihat jelas sebuah br*a yang membungkus dadanya, dada Indira termasuk dalam kategori pegunungan besar hingga Celo yang melihatnya tak kuasa menahan hasrat.


Otak Celo traveling lagi, ingatan akan tubuh polos Indira kini muncul bermain di otaknya.

__ADS_1


Dia kemudian menyuruh Indira untuk keluar kamarnya karena dia ingin segera melepaskan hasratnya yang selalu muncul saat melihat Indira.


"Indira bisakah kamu keluar sekarang,"


__ADS_2