
"Jangan menangis ya Nin," kata Celo sambil mengelus rambut Nindi.
"Kak Celo bisa bilang begitu karena kak Celo nggak tau apa yang Nindi rasakan," sahut Nindi.
"Apapun yang kamu rasakan seharusnya nggak membuat kamu jadi lemah," timpal Celo.
Nindi menatap Celo dengan lekat sambil mengusap air matanya, nampak kakak iparnya tersebut tersenyum padanya.
Memang beberapa hari ini Celo yang menghibur Nindi saat Gilang mendiamkannya.
"Kamu banyak-banyak istirahat biar cepat sembuh," kata Celo
"Aku lumpuh kak," sahut Nindi
"Hanya sementara, kalau kamu rajin minum obat dan rajin terapi pasti cepat pulih dan bisa berjalan seperti sedia kala," timpal Celo.
Celo cukup mengerti dengan apa yang terjadi dengan Nindi dan Gilang, mama Gilang telah menceritakan semua pada papa Gilang dan juga Celo.
Mama meminta supaya papa dan Celo berbicara pada Nindi dan Gilang supaya mereka berdua tidak saling bertengkar lagi. Mama rindu dengan kemesraan Nindi dan juga Gilang.
Di luar Gilang mendapatkan pencerahan dari papa Gilang, "Papa tidak tau ada masalah apa kamu dengan Nindi, namun papa harap kamu tidak menyerah, jangan sampai kamu menyesal seperti papa dulu. Karena papa dan mama ada masalah kami berdua saling diam, hingga akhirnya papa dekat dengan mama tiri kamu dan papa memutuskan untuk menikahinya," jelas papa.
"Jadi apa yang harus Gilang lakukan pa?" tanya Gilang.
"Terus bersamanya," jawab papa Gilang
"Tapi Nindi benci sekali dengan Gilang pa," sahut Gilang.
"Dari cerita yang papa dengar dari mama kamu, Wajar sih Nindi marah karena kamu juga keterlaluan," timpal papa.
"Gilang yang juga menyebabkan ayahnya meninggal pa," imbuh Gilang.
Papa Gilang membolakan matanya, ternyata masalah yang dialami anaknya kompleks sekali wajar kalau Nindi membencinya.
"Sekarang tergantung bagaimana perjuangan kamu Gilang," kata papa lalu menepuk punggung Gilang.
Kini Gilang dan papanya memutuskan untuk masuk kamar kembali saat masuk nampak Nindi tertawa dengan Celo. Cemburu iya, sakit pasti tapi mau bagaimana lagi, sedikit kerelaan membiarkan Celo menghiburnya mungkin lebih baik supaya Nindi tidak stres.
Karena ada urusan papa dan Celo pamit dan Gilang mengantar sampai di luar kamar.
"Terima kasih kak, pa karena udah menjenguk Nindi," kata Gilang
"Sama-sama," sahut papa dan Celo.
__ADS_1
"Kak Celo aku sangat berterima kasih pada kak Celo karena bisa membuat Nindi tertawa," kata Gilang
"My pleasure Gilang," ucap Celo dangan tersenyum.
Lalu papa dan Celo melangkahkan kaki untuk pergi, dan Gilang masuk kembali ke dalam, nampak Nindi sudah memejamkan matanya.
Gilang mendekat dan memegang tangan Nindi namun segera Nindi menarik tangannya.
"Sayang, aku nggak akan menyerah untuk mendapatkan maaf dari kamu," kata Gilang.
Nindi hanya diam, hanya isak tangis yang terdengar keluar dari mulutnya. Hatinya masih begitu sesak mengetahui kenyataan kalau orang yang dia cintai telah menghilangkan nyawa ayah tercintanya.
Gilang berusaha memeluk Nindi mesti tubuh Nindi menolak untuk dia peluk, Gilang tidak mempedulikan penolakan Nindi, dia semakin erat memeluk istrinya dan berkali-kali mengecup kening istrinya tersebut.
Saat bersamaan ponsel Gilang berbunyi, dan ternyata Veri yang menghubunginya.
Veri mengatakan ada sedikit kendala jadi mau nggak mau Gilang harus mengurusinya sendiri.
Gilang sempat memaksa Veri untuk menanganinya tanpa dirinya namun tidak bisa, akhirnya mau nggak mau Gilang meminta mamanya untuk menjaga Nindi.
Mama segera ke datang ke rumah sakit untuk menjaga Nindi.
"Maafkan Gilang ma, karena membuat mama repot," kata Gilang dengan menyesal.
Gilang mengangguk, lalu dia mendatangi istrinya yang berbaring dengan memalingkan wajahnya.
"Aku pergi ya sayang, maaf aku tinggal," kata Gilang lalu mengecup kening Nindi,
"Kalau mau pergi, pergi saja! nggak usah pamit atau mencium kening aku, biasanya juga begitu kan," sahut Nindi.
Gilang menghela nafas, dia sadar kalau dia sungguh keterlaluan.
"Maaf," timpalnya lirih.
"Maafmu nggak ada gunanya, toh nggak akan mengembalikan semuanya," cerca Nindi dengan menangis. Lagi-lagi dia teringat akan ayah tercintanya dan ingat akan perlakukan Gilang padanya.
Gilang menatap Nindi dengan lekat, dia mengusap kepala istrinya kemudian pergi keluar kamar.
Mama yang melihatnya ikut bersedih kapan masalah anaknya akan selesai.
Mama mendekat ke bed Nindi, "Nin, mama tau apa yang kamu rasakan, mama mewakili Gilang memohon maaf padamu, maafkan anak mama," kata mama dengan menangis.
Nindi yang tak tega menoleh dan memegang tangan mama mertuanya yang amat dia sayangi.
__ADS_1
"Maaf ma, untuk saat ini Nindi belum bisa memaafkan mas Gilang hati Nindi terlalu sakit," sahut Nindi dengan menangis.
"Kasihanilah wanita tua ini Nindi, di usia mama yang senja ini mama hanya ingin melihat kalian bahagia dan memberi mama cucu bukan sikap yang seperti ini, kemarin Gilang dan sekarang kamu lalu kapan akan berakhir semua ini," timpal mama yang semakin terisak.
Tiba-tiba mama Gilang pingsan, Nindi yang bingung segera menekan tombol untuk memanggil dokter.
Dokter segera datang dan memeriksa mama Gilang.
"Tekanan darahnya sangat tinggi," kata dokter
Nindi nampak sedih, Nindi menatap mama mertuanya yang berbaring dengan memejamkan matanya, nampak terlihat wajah yang menanggung beban.
"Maafkan Nindi ma," gumam Nindi dengan menangis.
Nindi mengambil nomor Celo dari ponsel mamanya, kemudian menghubunginya, karena saat ini hanya Celo lah yang bisa menjaga mamanya mengingat keadaan Nindi yang tidak bisa menggerakkan kakinya.
Saat dihubungi Nindi, Celo sedang membuta coklat panas di rumah, akhirnya dia meminta art untuk memasukkan coklat panasnya di termos kecil supaya bisa dia minum saat di rumah sakit nanti.
Beberapa waktu kemudian Celo sudah sampai di rumah sakit, dia segera menuju kamar Nindi.
"Mama kenapa Nin?" tanya Celo
"Tadi mama pingsan kak," jawab Nindi
"Celo mengambil Minyak dan mengusapkan ke hidung mamanya dan juga pelipisnya.
Setalah itu Celo, meletakkan coklat panas yang dia bawa ke meja.
"Mama seperti ini karena aku kak," kata Nindi dengan menyesal.
"Bukan," sahut Celo mencoba menenangkan Nindi
"Iya kak," timpal Nindi dengan menangis.
"Lalu?" tanya Celo yang membuat Nindi bingung.
"Apa maksud kamu kak?" tanya Nindi balik
"Kamu bilang mama seperti ini karena kamu, lalu apa yang akan kamu lakukan," jawab Celo yang membuat Nindi bingung.
"Entahlah Kak," sahut Nindi bingung.
Celo hanya tersenyum, lalu dia memberikan coklat panas yang dia bawa pada Nindi, "Minumlah," titah Celo, "Coklat ini mampu menenangkan dan memberikan efek positif pada mood seseorang serta menghilangkan stres," imbuh Celo.
__ADS_1
"Makasih kak," ucap Nindi dengan tersenyum.