
Hari berlalu dengan cepat, kandungan Nita semakin besar. Rio anaknya mulai bertanya yang macam-macam kenapa perut mamanya bisa membengkak.
Nita bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Rio tentu tidak mungkin kalau dia bilang yang sebenarnya.
Banyak juga pertanyaan dari beberapa tetangganya mengenai kehamilan Nita, pasalnya yang mereka tau Nita adalah seorang janda tapi kenapa sekarang bisa hamil.
Akhirnya mau nggak mau Nita berbohong kalau sebelum pindah dia telah menikah namun suaminya harus bertugas ke luar negeri sehingga dia meninggalkan Nita.
Nita mengatakan kalau suaminya adalah tentara militer Indonesia yang dikirim untuk bertugas di Palestina.
Nita yang sedikit tertekan akhirnya memutuskan untuk menjual rumahnya dan pindah ke kompleks elite supaya tidak ada tetangga yang nyinyir.
Kafe Nita sangat ramai, lima bulan buka kini dia bisa membuka empat cabang lagi.
Mungkin rejeki bayi Nita, kafe nya sungguh ramai bahan omzet Nita setipa bulannya mencapai angka ratusan juta.
*********
Semenjak Alex mengalami kehamilan simpatik perusahaan sedikit mengalami devisit, sehingga Admadja mengambil sikap.
Dia yang awalnya tidak setuju pernikahan Gilang dengan Nindi kini seiring berjalannya waktu dia menyetujuinya oleh sebab itu dia ingin meminta Gilang untuk ikut andil memegang perusahaan karena jika hanya di handle Celo perusahaan akan stagnan bahkan akan devisit.
"Bantulah kakak kamu Gilang," pinta papa
"Tapi kan sudah ada kak Alex dan kak Celo pa," sahut Gilang.
Akhirnya papa Gilang menceritakan semua hal-hal yang menimpa Alex, setiap hari Alex tersiksa dengan kehamilan simpatik yang dia alami sedangkan Celo dibuat pusing dengan nyidam Alex yang aneh-aneh oleh sebab itu Celo tidak fokus.
"Astaga kak Alex," gumam Gilang.
"Gilang, papa minta maafkan papa, mama dan juga kedua kakak kamu, kita akhiri permusuhan kita. Kita satu keluarga papa minta kamu bisa berfikir lebih dewasa," pinta Admadja dengan mata yang basah.
"Mama juga minta maaf Gilang," sahut mama tiri Gilang.
Celo juga nampak menunduk, mungkin kini waktunya untuk mengakhiri permusuhannya dengan Gilang toh memang pada dasarnya Gilang juga tidak salah sikap serakah mereka yang membuat dia dan Alex membenci Gilang.
Gilang menatap Nindi dan mamanya, bagi Gilang keputusannya kali ini atas persetujuan kedua wanita hebat miliknya yaitu Nindi dan juga mamanya.
Mama Gilang mengangguk yang artinya dia setuju begitu pula dengan Nindi.
__ADS_1
"Baiklah pa," kata Gilang
Karena tak bisa menahan rasa gembiranya papa Gilang memeluk anaknya, dia sangat kagum pada anaknya lalu dia juga memeluk istri pertamanya dia meminta ampun pada istri pertamanya karena telah mengabaikannya selama ini, setelah itu dia memeluk menantu yang sempat dia benci, Admadja juga meminta maaf atas sikapnya selama ini.
Kini mereka semua saling peluk dan minta maaf, Celo dan Gilang juga, Celo dengan tulus meminta maaf pada Gilang atas sikapnya selama ini.
Mama Gilang yang melihatnya tersenyum, dia sangat bersyukur karena semua yang bertahun-tahun saling bermusuhan kini berbaikan kembali.
"Secepatnya akuisisi perusahan papa Gilang," kata Admadja. "Sementara waktu biar Celo jadi wakil Presdir kamu karena Alex masih belum bisa diandalkan untuk saat ini," imbuh papa.
"Siap pa," sahut Gilang.
************
Keesokan harinya Gilang berpesan pada Veri untuk menghandle perusahannya dulu karena dia akan menghandle perusahaan papanya.
"Baiklah pak," kata Veri
Gilang puas sekali karena Veri selalu bisa dia andalkan.
Nindi sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Gilang mulai sibuk dengan memegang dua perusahaan sekaligus hingga merek jarang meluangkan waktu untuk bersama. Gilang yang sibuk juga jarang minta jatah begitu pula dengan Nindi dia terkadang sudah tidur saat Gilang belum pulang.
"Ini Nin, durian Montong kesukaan kamu," kata Ratna
Nindi menutup mulutnya, dia sangat mual lalu Nindi bergegas ke kamar mandi untuk memuntahkan isi dalam perutnya.
Ratna yang khawatir menyusul Nindi, dia memijat tengkuk Nindi, lalu Ratna bergegas membeli minyak angin di toko sebelah.
Nindi yang sedikit lemas terduduk di lantai, dia menyandarkan kepalanya ke dinding karena dia pusing sekali.
"Sini Nin aku oles pakai minyak angin ini," kata Ratna lalu mengoles pelipis Nindi dengan minyak.
"Pusing sekali kak," ucap Nindi lirih
"Kenapa bisa mual gini, bukankah durian adalah buah kesukaan kamu ya," sahut Ratna heran.
Tiba-tiba Ratna membolakan matanya dan berteriak
"Nindiiiiii! kamu hamil," teriak Ratna yang membuat Nindi terpaku.
__ADS_1
"Apa? aku? aku hamil?" kata Nindi tak percaya
Ratna mengangguk dan tersenyum, dia turut bahagia pasalnya inilah yang ditunggu-tunggu oleh Nindi.
Sontak Nindi langsung memeluk Ratna, dia sangat bahagia. Dia tidak sabar untuk memberitahu Gilang pasal kehamilannya.
"Coba kamu cek ke dokter dulu Nin, takute dugaan aku salah," ucap Ratna.
"Nanti aku mampir apotek saja untuk beli testpack," sahut Nindi.
"Mas Gilang pasti sangat senang mendengarnya, ya Tuhan terima kasih," kata Nindi kemudian dengan tersenyum.
Karena lemas dan pusing, Nindi pamit pulang. Tak lupa dia mampir apotek terlebih dahulu untuk membeli testpack.
Sesampainya di rumah Nindi segera mengecek urinnya, sebenarnya hasil testpack akan akurat jika dilakukan pada pagi hari namun Nindi sudah tidak sabar, dia ingin segera tau kalau dia itu hamil apa nggak.
Beberapa saat menunggu ternyata ada dua garis itu tandanya memang benar kalau Nindi hamil. Dia sungguh bahagia, dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Gilang tapi Nindi urungkan karena dia ingin memberitahu Gilang langsung.
"Akhirnya mas kita akan menjadi orang tua," kata Nindi dengan tersenyum. Tangannya terus saja mengelus perutnya, Nindi tak henti-hentinya mengucap syukur atas kehamilannya.
Nindi menunggu Gilang di balkon kamarnya, hingga pukul sepuluh namun Gilang belum juga pulang. Nindi juga berkali-kali menghubungi suaminya tersebut namun tidak diangkat.
Wajah senang kini jadi cemberut, padahal dia sungguh tidak sabar memberitahukan berita gembira ini tapi Gilang tak kunjung pulang.
Pukul satu dini hari Nindi masih menunggu di balkon kamarnya, dia nampak sedih karena Gilang tak kunjung pulang. Saat akan masuk tiba-tiba sebuah tangan menyusup di perut Nindi.
"Kok belum tidur sih sayang, ini jam berapa?" tanya Gilang dengan mengendus leher istrinya.
"Aku nungguin kamu mas," jawab Nindi dengan menggeliat.
"Maaf aku sibuk sekali sayang," sahut Gilang, "Memangnya ada apa?" tanya Gilang sesudahnya
Nindi membalikkan badannya lalu mengambil testpack di sakunya dan menunjukkan pada Gilang. Gilang bingung dia masih belum paham kalau Nindi hamil hingga akhirnya Nindi menjelaskan.
"Apa sayang?" tanya Gilang tak percaya
"Iya mas, aku hamil," jawab Nindi
Gilang yang sangat senang memeluk istrinya dengan erat, dia sungguh bahagia. Lengkap sudah kebahagiaan rumah tangga mereka dengan kehamilan Nindi.
__ADS_1