
Pagi sekali Nita dan Alex bersiap untuk mengantarkan Rio ke sekolah, saat Alex dan Nita hendak berangkat ke sekolah datanglah Rian, dia hendak mengantar Rio juga.
Tiba-tiba good mood Alex berubah jadi bad mood saat ada Rian.
"Pulanglah Rian karena kami akan mengantar Rio," kata Alex
"Biar aku saja, kebetulan aku satu arah dengan sekolah Rio," sahut Rian yang tetap bersikeras ingin mengantar Rio ke sekolah.
Nita yang tidak ingin ada debat mencoba menenangkan Alex supaya membiarkan Rian saja yang mengantar Rio.
"Udah mas gak papa, biar papanya yang mengantar Rio ke sekolah," ucap Nita.
Mendengar ucapan dari calon istrinya membuat Alex membiarkan Rian mengantar Rio.
Setelah berpamitan dengan mama dan calon papanya Rio pergi ke sekolah bersama Rian.
Nita dan Alex yang tidak jadi pergi mengantar sekolah kembali ke dalam. Alex mengekori Nita yang pergi ke kamarnya, berbeda dengan dulu saat ini Alex dan Nita tidak tidur sekamar, Alex cukup mengerti batasannya yang kini statusnya di rumah Nita adalah tamu.
"Sumpah sayang, aku tu heran dengan mantan kamu itu," kata Alex
"Heran kenapa sih sayang?" tanya Nita
"Pengen rasanya aku buang dia ke segitiga Bermuda biar hilang tanpa bisa kembali," jawab Alex
Nita nampak tersenyum, namun dia cukup salut dengan perubahan Alex coba Rian cari gara-garanya saat Alex belum berubah sudah dipastikan dia akan menghilang secara misterius.
Nita mendekat ke arah Alex dan mengelus punggung Alex supaya emosinya turun.
"Kapan nifasnya selesai sayang?" tanya Alex lalu dia membawa Nita dalam pangkuannya.
"Masih lama, sabarlah lagi pula aku ingin kita sudah halal saat kita melakukan itu kembali," jawab Nita.
Alex yang tidak kuasa melihat bibir Nita langsung saja Melu mat habis bibir pujaan hatinya. Nita juga membalas pautan Alex mereka akhirnya saling berpaut satu sama lain untuk menguraikan rindu mereka yang masih tertahan di dada.
Tak hanya bibir, Alex juga menciumi leher Nita bahkan dia melukis senja di sana, warna merah seperti matahari yang akan tenggelam.
__ADS_1
"Aku menginginkannya sayang," kata Alex dengan terus mengecup untuk memperbanyak lukisan senjanya di leher Nita.
"Aku juga, namun kita harus tahan sampai aku selesai nifas dan status kita yang sudah halal mas," sahut Nita dengan nafas yang memburu menahan hasrat yang terpendam di dalam dirinya.
Seusai berpaut Alex dan Nita bersiap untuk ke kafe Nita. Sudah lama Nita tidak mengurusi cafenya namun manager yang dia angkat selalu melaporkan keadaan kafe dan Alhamdulillah meski tanpa pengawasan darinya kafe masih tetap profit dan bahkan pengunjung semakin ramai sehingga membuat manager memutuskan untuk mengambil pegawai lebih banyak lagi.
Sesampainya di kafe Nita segera ke ruangannya, dia mempersilahkan Alex untuk duduk. Kemudian dia meminta pegawainya untuk menyiapkan kopi dan juga camilan.
Mata Alex memutar, ini pertama kalinya Alex masuk dalam ruangan Nita, dia sungguh salut dengan Nita meski hidup tanpa suami apalagi keadaanya saat itu sedang hamil namun dia mampu mengelola beberapa kafe dan semua luar biasa, omzet perharinya sungguh fantastis.
"Aku salut padamu sayang," kata Alex
"Terima kasih mas," sahut Nita lalu ikut duduk di sofa.
"Oh ya sayang setelah kita nikah, kita kembali ke kota ku kan?" tanya Alex
"Lalu bagaimana dengan cafe aku mas?" tanya Nita balik
"Sayang, kita kan bisa memantaunya dari sana, kalau kamu di sini dan aku di sana, aku takut kalau tikus got itu akan mengganggu kamu," jawab Alex dengan menangkupkan tangannya ke wajah Nita.
Menikah dan memiliki keluarga yang utuh adalah impian Nita, kini impian itu ada di depan mata, tentu dia harus berpikir ulang untuk selalu di samping Alex atau LDRan.
Nita menghela nafas, lalu dia tersenyum dengan menatap suaminya.
"Baiklah mas, aku akan ikut kamu. Karena setelah nikah titah suami adalah mandat yang harus istri penuhi. Aku sudah cukup tersiksa selama ini. Aku nggak mau hidup tanpa kamu lagi, u are my dream," ungkap Nita.
Alex terharu dengan kata-kata Nita, "U are my dream too sayang," sahut Alex.
Di sisi lain ternyata Rian tidak mengantar Rio ke sekolah, dia mengajak Rio ke rumah kontrakannya.
"Kenapa kita kesini pa?" tanya Rio
"Papa ingin bersama kamu Rio, papa sungguh sedih sekali karena kamu lebih sayang dengan dia daripada dengan papa, sebenarnya kamu itu anak siapa sih Rio? Jawab Rian lalu dia bertanya pada Rio.
Rio nampak heran dengan papanya tersebut, menurut Rio, mereka sama-sama Rio sayang baik papa kandungnya maupun Alex.
__ADS_1
"Papa jangan lebay dong, Rio itu sayang semua, karena bagaimanapun mama mengajari Rio untuk saling menyayangi," kata Rio yang membuat Rian kesal.
Rian yang kesal menghela nafas panjang lalu dia memegang bahu Rio.
"Dengar Rio, kamu adalah anak papa seharusnya kamu mendukung papa untuk bersama dengan mama bukannya Alex jelek itu," sahut Rian
"Papa Alex nggak jelek pa, bahkan gantengan papa Alex daripada papa," timpal Rio dengan polosnya.
Rian hanya bisa memijat pelipisnya, memang sari segi manapun dia kalah dengan Alex.
"Papa tiri itu kejam lo Rio, nanti setelah mama dan Alex menikah bisa saja dia memarahi kamu saat kamu nggak sama mama kamu," Ucap Rian menakut-nakuti Rio.
Rio menatap Rian dengan lekat dengan polosnya dia berkata
"Tapi yang di cerita-cerita bukan papa tiri yang jahat pa tapi mama tiri," sahut Rio
Rian yang semakin kesal mengusap rambutnya dengan kasar kelihatannya rencana untuk menikah dengan Nita pupus sudah, Rio tidak mendukungnya, Nita dan Alex juga saling mencintai,
"Aaarrrgggggh sial, hutangku juga banyak sekali bagaimana aku melunasinya jika aku tidak jadi menikah dengan Nita," gerutu Rian.
Melihat Rian yang frustasi membuat Rio semakin takut, dia mengajak Rian untuk mengantarkannya ke sekolah.
"Pa ayo antar aku ke sekolah," pinta Rio
"Nanti saja, lagian kamu juga sudah terlambat," sahut Rian.
Rio nampak murung, dia menyesal kenapa tadi ikut papanya daripada Alex.
Meski Alex adalah papa tiri Rio namun Rio dapat merasakan kalau Alex lebih tulus daripada Rian papa kandungnya.
Rian dan Rio hanya diam, dari mereka tak ada yang bersuara, hingga ada suara ketukan pintu menguraikan keheningan diantara mereka.
"Ada tamu pa," kata Rio
"Iya," sahut Rian.
__ADS_1
Dengan malas Rian membuka pintu, ternyata yang datang adalah tetangga Rian yang menagih hutangnya pada Rian