Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Terburu-buru


__ADS_3

Saat Gilang membuka apartemennya dia memanggil Nindi istrinya namun tidak ada sahutan.


Gilang juga membuka kamar Nindi namun dua juga tidak menemukan Nindi di sana.


"Kemana dia?" batin Gilang.


Tak berselang lama Nindi pulang, dia sudah kembali ke mode jeleknya lagi.


"Kamu baru pulang?" tanya Gilang dengan menatap Nindi dengan lekat.


Semakin hari kulit Nindi semakin putih, meskipun dia masih memakai kacamata dan memakai kawat gigit namun Gilang merasa kalau Nindi mirip dengan seseorang.


"Iya mas," jawab Nindi


Gilang mengajak Nindi untuk bicara, dia ingin berbicara secara face to face.


"Nin, aku tau aku bukanlah suami yang baik untuk kamu, mulai saat ini aku bebaskan dirimu. Terserah kalau kamu memiliki kekasih di luar sana aku tidak akan melarangnya dan jika kamu ingin menikah lagi aku akan segera mengurus surat cerai kita, namun jikalau kamu masih ingin tinggal di sini dan hidup denganku seperti ini aku juga tidak keberatan," kata Gilang dengan menyesal.


Dada Nindi sangat sesak mendengar perkataan Gilang, meskipun di luar sana sebagai Rara dia telah berhasil membuat Gilang mencintainya namun entah mengapa kata-kata Gilang membuatnya sakit juga.


"Apa kamu juga memiliki kekasih di luar sana?" tanya Nindi yang membuat Gilang bingung, apa dia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.

__ADS_1


Gilang hanya diam selanjutnya menatap Nindi dengan sendu dari tatapan matanya sangat terlihat kalau dia memang memiliki wanita lain yang tak lain istrinya sendiri.


"Diam kamu menunjukkan kalau memang kamu memiliki wanita lain di sana," kata Nindi sambil tersenyum miring.


Gilang semakin menunduk, dia sungguh merasa bersalah pada Nindi, menikahinya namun mencampakkannya dan kini dia malah berselingkuh dengan sekertarisnya sendiri.


"Maafkan aku Nin," kata Gilang menyesal.


"Nggak usah minta maaf, aku cukup sadar diri siapa kamu dan siapa aku. Aku hanya seorang pungguk yang sedang merindukan bulan mas," sahut Nindi.


Gilang menatap Nindi dengan lekat, setelah itu dia mengeluarkan kalung yang tadi dibelinya saat di mall bersama Rara.


"Aku ada hadiah buat kamu Nin," kata Gilang lalu membuka kotak warna merah pada Nindi.


Nindi membolakan matanya, pasalnya dia lupa melepas kalung yang tadi Gilang belikan.


"Nanti saja mas, aku pakai sendiri." Nindi menolak saat Gilang hendak memakaikan kalungnya.


"Oh ya sudah, kamu pakai sendiri ya," ucap Gilang.


Karena sudah tidak ada yang dibicarakan mereka pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Di dalam kamar baik Nindi maupun Gilang saling mengirim pesan.


Tak terasa hingga larut mereka asik chatting, Gilang yang ingin melakukan Video call namun di selalu dilarang oleh Nindi, karena Nindi takut kalau rahasianya terbongkar.


Keesokan harinya Gilang bangun pukul sembilan tentu dia sangat terburu-buru.


"Arrggg Nindi kenapa tidak membangunkan aku?" gerutu Gilang.


Setalah membersihkan diri dia memakai pakaian kerjanya lalu keluar kamar, Nindi yang tau kalau Gilang masih di apartemen akhirnya dia menyiapkan roti dan susu untuk Gilang.


Dia menulis memo yang diletakkan di bawah gelas susu.


Aku berangkat dulu mas, maaf nggak aku bangunin aku nggak berani membangunkan mas Gilang.


Sudah aku siapkan sarapan, dimakan ya😊😊😊


Bibir Gilang melengkung membaca memo yang ditinggalkan oleh Nindi.


Karena terburu-buru Gilang segera keluar apartemen dan menuju basemen untuk mengambil mobilnya.


Tak selang berapa lama dia sampai di kantor,.saat Gilang masuk seluruh mata karyawan melihat Gilang dengan menahan tawa.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Gilang dengan kesal


__ADS_2