
"Bukankah itu suara mas Gilang," kata Nindi
"Iya, bukankah itu juga suara mas Celo," sahut Indira
Kemudian mereka memutar bola mata mereka ke sumber suara dan betapa kagetnya mereka Gilang dan Celo saling berdebat tak jauh dari meja mereka.
"Ngapain mereka ada disini?" tanya Nindi lalu beranjak pergi ke meja Celo dan Gilang.
"Kak Celo, mas Gilang!" teriak Nindi
Celo dan Gilang menoleh bersamaan, mereka nampak sedikit kaget pasalnya para istri mengetahui keberadaan mereka.
"Ini semua karena kak Celo akhirnya mereka tau kalau kita ada disini," kata Gilang dengan lirih
"Lo Lo, kok kamu nyalahin aku. Jelas-jelas kamu juga salah," sahut Celo tak terima.
"Sudah sudah, jangan berbisik-bisik," ucap Nindi.
Indira pun mendekati suaminya, "Kamu ngapain mas ada disini? bukannya seharusnya kamu berada di kantor?" tanya Indira
"Aku lagi ada meeting dengan Gilang sayang," jawab Celo berbohong.
"Begitukah mas Gilang?" tanya Nindi pada Gilang
"Iya," jawab Gilang berbohong juga.
Indira dan Nindi kini bergabung dengan Celo dan juga Gilang.
Karena sudah bersama sang istri mereka akhirnya malas untuk kembali ke kantor, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Kok nggak kembali ke kantor sih mas?" tanya Indira
"Nggak, aku mau meminta jatah aku karena semalam aku ketiduran jadi lupa nggak minta jatah," jawab Celo.
Celo kini mengungkung istrinya, tangannya sibuk melepas penutup baju istrinya, setelah istrinya benar-benar polos, gantian Celo yang menyusul.
__ADS_1
Mereka akhirnya berpadu, saling berpaut dan saling memburu hasrat yang semakin liar.
Kini posisi Indira berada di atas Celo, Celo memang memiliki hasrat yang liar, mungkin karena sebelumnya sering celup sana sini sehingga wanita-wanita yang tidur dengannya benar-benar memanjakan tongkat saktinya, apalagi kalau Celo tidur dengan seorang stripper yang jagonya bergoyang di atas Celo.
"Mas aku lelah," kata Celo
Celo segera mengubah posisi mereka, hingga kini dia memimpin permainan panasnya.
Beberapa saat kemudian sampailah pada titik dimana mereka berdua saling mengejang karena ada sesuatu yang keluar.
Tak jauh berbeda dengan Gilang dan Nindi mereka juga sama-sama bergulat
"Mas, mas, lebih cepat aku mau keluar," kata Nindi dengan terengah
Tubuhnya semakin ke atas karena sodokan tongkat Gilang, "Aku juga sayang," sahut Gilang lalu tak berapa lama cairan hangat keluar dari tongkat Gilang.
"Mas perut aku kok ngilu ya," kata Nindi
"Kok bisa," sahut Gilang
Karena tak kunjung reda akhirnya Gilang berencana membawa Nindi ke rumah sakit.
"Kita harus periksa sayang," kata Gilang yang mulai cemas dengan keadaan Nindi.
"Nggak usah mas, nanti pasti hilang sendiri," sahut Nindi
Gilang nggak mau ambil resiko hingga dia memaksa Nindi untuk pergi ke dokter.
Setelah membersihkan dirinya, Gilang mengambilkan baju untuk Nindi, dan seperti dirinya dia mengambilkan Nindi bahu warna warni.
"Nggak nggak, nggak mau pake baju itu, biar aku sendiri yang memilih bajuku," kata Nindi
"Nggak, kita sudah senada dengan berpakaian warna-warni jadi jangan protes," sahut Gilang.
"Nggak! pokoknya nggak." Nindi menolak baju yang dipilihkan Gilang.
__ADS_1
Gilang nampak sedih, lalu dia duduk di tepi ranjangnya dan memegang baju yang tadi dia pilihkan.
"Aku nggak minta apa-apa lo sayang, aku cuma kamu untuk memakai baju ini saja," ucap Gilang dengan raut wajah sedih
"Kamu kenapa sih mas? sikap kamu tu lebay banget," protes Nindi
"Aku nggak lebay, kenapa sih kamu nggak mau menuruti keinginan receh seperti ini," sahut Gilang.
Nindi hanya bisa membolakan matanya, "Kamu lagi kemasukan peri pelangi ya mas," ucap Nindi heran.
Mendengar ucapan Nindi membuat Gilang terdiam lalu dia beranjak menuju jendela, dia melemparkan tatapannya ke luar jendela.
Melihat Gilang yang sedih akhirnya Nindi menuruti keinginan Gilang untuk memakai baju warna warni.
"Udah mas, ayo berangkat," kata Nindi yang kini sudah siap dengan baju warna-warninya.
Gilang tersenyum puas melihat Nindi menuruti keinginannya untuk memakai baju warna warni.
Setelah siap mereka berpapasan dengan Mama.
"Kamu kok sudah pulang?" tanya Mama
"Iya ma, ini mau ke rumah sakit untuk periksa," jawab Gilang
"Siapa yang sakit?" tanya mama lagi
"Nindi ma, perutnya sakit," jawab Gilang.
"oh, ya sudah sana berangkat, tapi apa kalian yakin pergi dengan baju warna warni seperti ini?" tanya mama
"Yakin dong ma, bagus kan Ma bajunya warna warni seperti pelangi," jawab Gilang.
Mama Gilang tertawa sambil menggeleng kepala, "Dasar pasangan nyentrik," lalu beliau pergi.
Mendengar perkataan Mama membuat Nindi menghela nafas, dia sendiri nggak PD memakai baju warna warni seperti ini.
__ADS_1