
Pagi ini dalam ruangannya Celo nampak diam sambil memutar pulpen yang dia bawa.
Hingga Alex yang yang datang untuk memberikan berkas tidak dia sadari.
"Celo" panggil Alex
Celo hanya diam saja, pandangannya masih ke pulpen yang sedari tadi dia putar-putar.
"Celo," panggil Alex lagi.
Namun lagi-lagi Celo hanya diam, dia teramat sangat menikmati lamunannya sehingga enggan untuk keluar.
Alex pun menarik bangku dan duduk di depan Celo, bahkan suara kursi tidak mampu membuyarkan lamunan Celo.
Alex menghela nafas, penasaran apa sebenarnya yang membuat Celo nyaman dengan lamunannya.
Braaak
Alex menggebrak meja hingga Celo refleks melempar pulpen yang dia bawa ke Alex.
"Brengsek," umpat Alex yang kesakitan karena pulpen terlempar dan mengenai kepalanya.
"Maaf kak maaf," kata Celo.
"Maaf maaf, apa sih yang kamu pikirkan hingga aku memanggil kamu dua kali, tidak kamu gubris," maki Alex.
Celo hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak mungkin dia mengatakan kalau dia sedang memikirkan Nindi.
"Aku memikirkan tentang pekerjaan," kata Celo berbohong.
"Yakin hanya pekerjaan?" tanya Alex dengan penuh penekanan.
"Iya kak, memangnya apa yang aku pikirkan selain pekerjaan, memangnya aku seperti kamu yang gila memikirkan wanita," jawab Celo, padahal memang saat ini dia benar memikirkan wanita.
"Itu kan dulu Celo sekarang aku sudah bahagia dengan wanitaku dan juga anak-anakku," sahut Alex dengan sumringah.
"Nasibmu lebih beruntung dari aku, wanita yang aku cintai adalah milik orang, jadi tidak mungkin bisa aku sentuh," batin Celo sambil menatap Alex dengan nanar.
Lagi-lagi Celo masuk dalam lamunannya sehingga Alex hanya mampu menghela nafas, bingung apa yang terjadi dengan adik tercintanya tersebut.
"Celo!" teriak Alex yang segera membuyarkan lamunan Celo,
"Apa sih kak, gak usah ngegas gitu manggilnya," gerutu Celo.
"Habisnya melamun saja," timpal Alex
Celo hanya terkekeh dengan menatap kakaknya yang nampak kesal.
"Oh ya nanti sore aku mau menjenguk Nindi dengan Nita," kata Alex yang membuat Celo tiba-tiba bersemangat.
"Aku ikut," sahut Celo
__ADS_1
Alex mengerutkan alisnya, "Bukankah kamu sudah menjenguknya?" tanya Alex heran.
"Ya kan aku ingin menemani kak Alex siapa tau butuh teman gitu," jawab Celo beralasan.
"Ok, nanti sepulang dari kantor langsung ke rumah aku," timpal Alex.
Hati Celo yang bahagia membuatnya cengar-cengir sendiri sehingga membuat Alex heran, ada apa dengan adiknya.
Waktu terus berlalu, tak terasa jam kantor sudah selesai, Gilang yang ada urusan tdiak bisa pulang dengan cepat kemungkinan baru pulang.
Nindi yang mendapatkan pesan dari Gilang hanya membacanya saja tanpa membalasnya.
Entah mengapa Nindi kesal karena Gilang pulang telat padahal dia sudah berdandan untuk menyambut Gilang pulang.
Nindi memutuskan untuk pergi ke taman depan, dia ingin menikmati bunga yang warna warni.
Dengan beberapa bantuan art kini Nindi sudah duduk di taman.
Dia menikmati bunga yang beraneka warna, hingga tak berselang lama terdengar suara mobil.
Nindi kira itu Gilang namun ternyata itu adalah Alex, Nita dan juga Celo.
"Halo Nin," sapa Nita
"Halo Nita," sapa Nindi balik
"Halo Nindi," sapa Alex dan Celo bersamaan.
Mereka bertiga langsung duduk, Nita sengaja tidak membawa baby-nya karena nggak ingin Nindi teringat akan bayinya yang telah meninggal.
"Kalian kesini kok ngga bilang-bilang sih, mama dan mas Gilang belum pulang," kata Nindi
"Kami kan ingin menjenguk kamu jadi ya nggak papa kalau Gilang dan mama belum pulang," sahut Alex.
Akhirnya mereka semua mengobrol kemana-mana, kehadiran kakak-kakaknya membuat Nindi sedikit terhibur.
"Kak Celo nggak bawa coklat panas lagi?" tanya Nindi
"Coklatnya expired semua, memangnya kamu mau aku kasih coklat expired," jawab Celo dengan tertawa.
"Kak Celo jahatnya, ya belikan dong," sahut Nindi
Celo nampak memandangi Nindi, dia ingin sekali memeluk adik iparnya tersebut.
"Kaki kamu bagaimana perkembangannya Nin?" tanya Nita
"Masih sama Nit, mungkin kurang latihan kali ya," jawab Nindi dengan sedih.
Tanpa berucap apa-apa Nindi mencoba meletakkan kakinya di tanah, dia ingin berdiri.
"Kamu mau apa Nin?" tanya Nita
__ADS_1
"Mencoba berdiri," jawabnya lalu berdiri
Karena kakinya masih kaku Nindi pun roboh dan dengan cepat Celo menangkap tubuh Nindi.
"Jangan berdiri sendiri," kata Celo lalu dia mengembalikan Nindi ke kursi roda.
"Maaf kak," kata Nindi menyesal, dia menangis karena kakinya tak kunjung bisa digerakkan, dia ingin seperti semula. Melihat Nindi yang bersedih membuat Celo berjongkok di depan Nindi dan menghapus air mata adik iparnya tersebut.
"Jangan menangis, untuk pulih itu butuh proses. Semua nggak instan, yang terpenting kamu rajin berlatih dan terapi serta minum obat, aku yakin cepat atau lambat kamu kembali seperti sedia kala," ucap Celo.
Celo nampak menatap Nindi, dia juga ikut merasakan apa yang Nindi rasakan dan Alex yang memperhatikan sedikit curiga dengan Celo.
"Terima kasih kak Celo," sahut Nindi dengan memegang tangan Celo.
Celo nampak bahagia, bagi Celo melihat Nindi tersenyum sudah cukup baginya.
"Melihat cara kamu menatapnya, berbicara padanya sangat tampak kalau kamu mencintainya Celo," batin Alex.
Celo yang capek berjongkok pun beranjak dan mengusap rambut Nindi dengan gemas.
Mereka kemudian melanjutkan mengobrolnya hingga tak terasa matahari sudah terbenam, Alex, Nita dan Celo pamit untuk undur diri.
"Kamu bisa masuk ke dalam?" tanya Celo
"Nanti aku minta bantuan art kak," jawab Nindi
"Mereka kayake sibuk di dalam, sini aku bantu,' kata Celo menawarkan diri.
Nindi mengangguk, saat menaiki tangga Celo bertanya, "tadi gimana turunnya?"
"Art mengangkat kursi rodanya dan aku kak," jawab Nindi
Karena bingung bagaimana akhirnya Celo mengangkat tubuh Nindi dan meminta Alex membawa kursi rodanya.
Nindi nampak gugup saat Celo mengangkat tubuhnya, dia sungguh merasa tak enak pada Kaka iparnya tersebut.
"Maksih kak Celo, maaf merepotkan," kata Nindi tak enak
"Ngga papa Nin, lagian tubuh kamu nggak berat kok," sahutnya dengan tertawa.
Setelah meletakkan Nindi di kursi rodanya kembali, mereka semua pamit dan menuju mobil masing-masing.
Mobil mereka mulai berjalan dan Nindi melambaikan tangannya.
Sepanjang perjalanan pulang Celo nampak senyum-senyum sendiri, dia sungguh bahagia bisa sedekat tadi dengan Nindi.
"Gilang maafkan aku mencintai istri kamu," gumam Celo dengan pandangan ke depan.
Setalah kepergian kakak kakak iparnya Nindi berputar hendak masuk namun terdengar bunyi klakson mobil Gilang, karena masih dalam mode merajuk dia langsung masuk tanpa menunggu Gilang.
Gilang mengira kalau Nindi menunggunya hingga saat turun dari mobil dia sudah senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Ketahuan nungguin aku ya," gumam Gilang yang mengira Nindi menunggunya.