Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Semakin keterlaluan


__ADS_3

Sikap Gilang masih sama dengan kemarin, meski mencoba bersikap seolah tak ada apa-apa tapi hati Nindi sakit atas ketidakpedulian Gilang.


Pagi ini seperti biasa Nindi membantu memasak di dapur, mama juga ikut membantu.


"Kamu pucat sekali Nin?" tanya mama


"Mungkin kelelahan ma, kemarin Nindi menanam banyak sayur dan juga buah, terus malam harinya Nindi begadang baca novel hingga dini hari," jawab Nindi seolah dirinya tidak ada apa-apa.


Meskipun berbohong tapi mama mertuanya cukup tau apa yang terjadi.


"Gilang pulang jam berapa?" tanya mama


"Entah ma, saat mas Gilang pulang Nindi sudah tidur," jawab Nindi dengan tersenyum.


"Dia pulang dini hari ya?" tanya mama lagi


Nindi serba bingung mau jawab apa, kalau mamanya tau Gilang pulang dini hari pasti dia akan marah pada Gilang dan Nindi tidak mau itu terjadi karena pasti Gilang berfikir kalau dia mengadu pada mamanya.


Nindi hanya tersenyum dan tak bilang apa-apa dan mama cukup tau itu.


Mama Gilang terus saja melihat Nindi hingga akhirnya tangis Nindi pecah, dia sungguh bingung harus bagaimana, Gilang masih saja setia pada diamnya lalu sampai kapan akan seperti ini terus.


Mama mengusap punggung Nindi mencoba menenangkan menantunya tersebut.


Beberapa saat kemudian masakan sudah tersaji di meja makan, Nindi pamit ke kamar dulu karena dia ingin mengecek Gilang sudah bangun atau belum.


Saat Nindi masuk Gilang sudah siap dengan baju yang kerjanya.


Nindi menghela nafas, dia ingin menyudahi perangnya dengan Gilang meski dia yang harus menurunkan egonya.


"Mas, nanti malam pulang jam berapa? kita keluar yuk" tanya Nindi lalu mendekat dan memperbaiki dasi Gilang yang sudah rapi.


"Maaf, aku ga ada waktu," jawab Gilang lalu dia mengambil tas nya dan keluar kamar.


Mendengar jawaban Gilang membuat Nindi terduduk di tepi ranjangnya, air mata tumpah membanjiri pipinya.


"Kalau kamu sudah tak menginginkan aku sebaiknya kamu bilang sehingga aku bisa pergi dari hidup kamu." Nindi bermonolog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Gilang segera menuju meja makan, kebetulan mama sudah di sana, beliau sengaja menunggu Gilang karena dia ingin menasehati Gilang.


"Gilang, kamu jangan bersikap seperti itu pada Nindi. Mama tau kamu kecewa tapi nggak gini kamu memperlakukan istri kamu, seharusnya kamu itu mensupport dia bukannya malah menyalahkan dia Gilang!" kata mama dengan menatap anak semata wayangnya tersebut.


"Mama, Gilang nggak kan gini kalau dia nurut sama Gilang, sudahlah ma biar Nindi bisa belajar akan kesalahannya," sahut Gilang.


Mama hanya bisa menghela nafas, anaknya persis sekali dengan suaminya Admadja.


Daripada di rumah dia semakin stres Nindi memutuskan untuk pergi jalan-jalan rencananya dia ingin pergi ke taman kota untuk mencari udara segar, cukup lama Nindi menikmati lamunannya hingga cacing di perutnya mengadakan konser dan mau nggak mau dia memutuskan untuk mencari kafe dekat taman.


Saat di sana ternyata ada Gilang, Celo dan juga Veri, Nindi mencoba menyapa suaminya namun Gilang hanya cuek, hingga Nindi sangat malu pada Celo maupun Veri.


Nindi memilih duduk sendiri daripada bergabung dengan suaminya, dia memesan makanan ringan dan minuman. Sambil menunggu pesanan dia memainkan ponselnya, dia melihat Gilang sedang memainkan ponselnya sehingga Nindi mencoba mengirim pesan.


"Padahal online tapi pesanku tak dibaca," gumamnya.


Nindi meletakkan ponselnya karena makanan yang dia pesan sudah datang, Saat asik makan tanpa sengaja ada seorang yang menumpahkan kuah panas ke tangan Nindi sehingga Nindi berteriak karena kepanasan.


Gilang, Celo dan Veri menoleh, melihat istrinya yang kesakitan dia hanya melihat tanpa berusaha menolong.


"Gilang istri kamu lihatlah," kata Celo


Celo yang tidak tega mendatangi Nindi, dia marah pada orang yang menumpahkan kuah panas pada adik iparnya tersebut.


Orang tersebut berinisiatif membawa Nindi ke rumah sakit, karena tangan Nindi nampak merah dan sudah dipastikan itu akan melepuh.


Celo kembali ke mejanya dan meminta Gilang menemani Nindi ke rumah sakit biar klien dia dan Veri yang menangani namun Gilang enggan mengantar Nindi hingga Celo mau nggak mau mengantar adik iparnya.


"Ver, aku tinggal dulu. Kasian tangan Nindi melepuh dan suaminya ga peduli," kata Celo kesal dengan Gilang.


Celo, Nindi dan orang yang menumpahkan kuah panas segera ke rumah sakit, Nindi mencoba menahan rasa panas di tangannya.


Celo sungguh kesal dengan Gilang bisa-bisanya dia tidak peduli dengan istrinya padahal Nindi sangat kesakitan.


Beberapa saat kemudian mereka semua sampai di rumah sakit, dokter segera menangani tangan Nindi. "Sementara saya oles salep dulu, nanti tolong resep ini ditebus," kata dokter


Setalah semua kelar orang yang menumpahkan kuah di tangan Nindi pamit, dia minta maaf yang sebesar-besarnya pada Nindi, dia juga memberikan kartu nama jika ada apa-apa Nindi disuruh menghubunginya.

__ADS_1


"Saya pamit, dan sekali lagi saya minta maaf mbak Nindi," kata orang tersebut.


"Iya, nggak apa-apa kok mas," sahut Nindi.


Orang tersebut pamit untuk undur diri, begitu pula dengan Celo yang ingin mengantar Nindi pulang awalanya Nindi menolak namun Celo memaksa hingga Nindi akhirnya mau nggak mau menerimanya.


Setibanya di rumah, Celo membantu Nindi keluar dari mobil dan ini membuat mama Gilang kaget kenapa Nindi pulang bersama Celo.


"Nindi kenapa Celo?" tanya mama


"Ketumpahan kuah panas ma," jawab Celo.


Nindi pamit ke kamar untuk istirahat dan Celo mengobrol sebentar dengan mama Gilang.


"Ceritakan pada mama apa yang terjadi Celo?" tanya mama.


Celo menceritakan semua pada mama Gilang, mama sungguh menyayangkan sikap Gilang.


"Anak itu sungguh keterlaluan Celo," kata Mama dengan sedih


"Iya ma, Celo juga tidak menyangka Gilang nggak peduli pada Nindi, Celo nggak tau apa penyebab Gilang seperti itu namun seharusnya Gilang tetap care pada istrinya," ungkap Celo.


Karena Celo ada pekerjaan dia pamit pada mama Gilang untuk kembali.


Di cafe Gilang sangat kesal dengan Celo karena tadi membantu istrinya. Karena klien tak kunjung datang dan Gilang juga tidak fokus, dia memilih pulang dan menyuruh Veri untuk menunggu kliennya sendiri.


Sesampainya di rumah Gilang naik ke atas, dia membuka pintu agak kasar sehingga membuat Nindi yang tidur jadi bangun.


Kali ini Nindi sungguh sakit hati pada Gilang sehingga dia tidak bicara apa-apa dan memejamkan matanya kembali meski dia masih bisa mendengarkan sekitarnya.


"Ada hubungan apa kamu dengan kak Celo," tanya Gilang.


Mendengar pertanyaan Gilang membuat Nindi membuka matanya dan beranjak dari tidurnya.


"Kamu keterlaluan mas, seharusnya kamu pulang bertanya keadaanku, bukan bertanya hal yang konyol seperti itu," jawab Nindi


"Konyol!" seru Gilang, "Celo sangat perhatian padamu dan kamu mau diantar olehnya, apa menurut kamu, aku konyol!" maki Gilang yang membuat Nindi menangis.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan kamu! hanya duduk melihat aku kesakitan tanpa berusaha menolong, apa itu nggak konyol!" seru Nindi, "Sudahlah mas, aku malas bicara dengan kamu," sahut Nindi kemudian.


Gilang yang kesal membuang semua benda yang ada di meja rias, sehingga membuat Nindi tersentak kaget.


__ADS_2