Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Sindrom kangen


__ADS_3

"Itu kenapa pak lehernya?" tanya Veri pura-pura tidak tau.


"Biasalah tanda cinta dari istri tercinta," jawab Gilang bangga.


"Dulu saja bilang kalau nggak bisa mencintai Bu Nindi sekarang saja setelah tau kalau Bu Nindi jadi cantik langsung kesengsem," sahut Veri dengan terkekeh.


"Jaga mulutmu Ver, yang penting sekarang aku cinta mati ma istriku," timpal Gilang


Gilang dan Veri nampak mengobrol, mereka berdua saling curhat dan Veri juga nampak tidak enak pada Rara karena sempat menasehati Rara untuk tidak mendekati Gilang yang ternyata Rara adalah istri atasannya sendiri.


Puas mengobrol Veri pamit kembali ke ruangannya, sedangkan Gilang senyum-senyum sendiri mengingat pergulatan panas mereka semalam.


"Aarrggg aku sudah merindukannya," gumam Gilang.


Ingin sekali Gilang menghubungi Nindi istrinya namun dia agak sungkan, pasalnya yang dia simpan bukan nomor Nindi melainkan nomor Rara.


Gilang yang tidak bisa menahan rindunya memutuskan pulang padahal baru saja dua jam pergi meninggalkan istri tercintanya di rumah.


Nindi yang sedang bersih-bersih rumah dikagetkan dengan kedatangan Gilang.


"Lo kok sudah pulang mas," kata Nindi dengan menatap Gilang yang sibuk melepas sepatunya.


"Iya, aku kurang enak badan sayang," sahut Gilang pura-pura lemas.


Nindi segera menuntun Gilang dan membawa suaminya tersebut ke kamar.


"Apa mungkin gara-gara pergulatan kita kemarin mas," ucap Nindi yang membuat Gilang tertawa


"Ya nggak sayang, mungkin karena lelah bekerja. Aku sepertinya mau ambil cuti seminggu," sahut Gilang.


Nindi mengerutkan alisnya, tak biasanya Gilang ambil cuti bekerja, biasanya dia sangat giat sekali bekerja.


"Ya sudah kamu istirahat saja di rumah, mungkin besok aku ke kantor kamu mas sebelum resign aku mau menyelesaikan pekerjaanku," timpal Nindi yang membuat Gilang melongo


Padahal cuti sakit adalah akal-akalannya saja supaya bisa di rumah dengan istrinya namun Nindi malah mau ke kantor untuk masuk kerja.


"Lo kok malah masuk padahal suami di rumah," kata Gilang.


"Ya katanya kamu mau istirahat mas, kan aku bisa bantu-bantu pak Veri," sahut Nindi.


"Nggak-nggak nanti Veri naksir kamu lagi," cegah Gilang.


Nindi menatap Gilang dengan kesal, heran dengan sikapnya yang aneh. Bagaimana mungkin Veri bisa naksir istri atasannya sendiri.


"Mana mungkin sih mas, kamu tu mikirnya kejauhan," oceh Nindi dengan tertawa, "Ya sudah mas, kamu istirahat dulu. Aku lanjut beres-beres rumah," imbuh Nindi kemudian.

__ADS_1


Gilang menarik tangan Nindi, " Kamu tu gak peka sama sekali, tau suami sakit ditemenin kek dipijat to apa malah ditinggal beres-beres," omel Gilang, " Besok tak panggilkan art jadi kamu nggak usah bersih-bersih," kata Gilang lagi.


Nindi berdecak kesal, "Kan mang belum beres mas, nanti aku buatkan teh hangat, aku juga harus belanja," sahut Nindi.


Gilang yang tadinya ingin berduaan harus berduaan dengan guling di tempat tidur.


Tiga puluh menit berlalu, Gilang yang merasa bosan akhirnya keluar untuk mencari istrinya.


Dia melihat Nindi bersih-bersih dapur dengan manja Gilang memeluk istrinya tersebut dari belakang.


"Sayang beri aku obat dong," kata Gilang


"Eh iya mas, ni teh nya sudah jadi, ayo ke kamar tak ambilkan obat," ajak Nindi.


"Tapi aku maunya obat yang lain," sahut Gilang


"Apa mas?" tanya Nindi


"Kamu?" jawab Gilang.


Nindi hanya geleng-geleng kepala, sebenarnya dia bingung dengan maksud Gilang yang menurutnya ambigu namun Nindi mengabaikannya.


Gilang terus saja memeluk Nindi sehingga membuat Nindi sedikit risih dengan tingkah lebay suaminya.


"Mas lepas dong mas, kenapa kamu peluk aku terus sih mas," protes Nindi


Nindi menghela nafas, "Mangkanya kalau sakit istirahat mas," ucap Nindi


"Sakitnya sindrom kangen dan pengen dekat dengan istri sayang," timpal Gilang yang membuat Nindi tertawa.


Gilang yang kesal langsung saja menyambar bibir istrinya daritadi dia menahannya namun Nindi tidak peka sama sekali.


Tangannya membuka kancing baju istrinya tentu hal ini membuat Nindi membolakan matanya.


Sempat memberontak tapi Gilang memegangi tangan Nindi dengan tangannya.


Lalu Gilang membawa Nindi ke tempat tidur, kali ini dia akan melakukan serangan dadakan pada istrinya.


"Kamu mau apa mas?" tanya Nindi


"Gulat," jawab Gilang


Gilang melakukan yang seharusnya dilakukan, dia mencium, mel umat, menghisap, menjilat dan menggigit tubuh Nindi, dalam sekejap istrinya kini dikuasai dengan kobaran api akibat ulah Gilang.


"Itu ku masih sakit mas," bisik Nindi

__ADS_1


"Maka dari itu harus sering-sering bergulat supaya tidak sakit sayang, sekali bergulat tiap hari harus bergulat supaya ahli dan lihai," kata Gilang mencoba membodohi istrinya.


Nindi dan Gilang fokus kembali dengan aksi gulat mereka, permainan Nindi kali ini tidak seperti kemarin, dia lebih pasif tak seaktif kemarin namun Gilang tetap menikmati permainannya.


Di bawah kungkungannya, Nindi mengeluarkan suara merdunya yang mempu membuat Gilang semakin melayang.


Tak ingin berlama-lama dia pun melakukan penyatuan, kedua insan ini saling menikmati rasa nikmat yang terjadi, terutama Gilang yang sangat menikmati goa sempit milik istrinya.


Lama bergulat akhirnya mereka sama-sama mendapatkan pelepasan mereka.


Dengan nafas yang tersengal Gilang tumbang di samping istrinya.


"Makasih ya sayang," kata Gilang lalu mengecup kening Nindi.


"Iya mas," sahut Nindi.


"Kamu sudah sembuh?" tanya Nindi


"Sudah, kan baru saja dapat obatnya," jawab Gilang sambil terkekeh.


Di kantor Veri bingung mencari Gilang, pasalnya para pegawai sudah siap menerima traktiran dari Gilang.


"Pak Gilang mana sih, dua yang ngadain acara malah menghilang," gumam Veri.


Veri yang sedari tadi menghubungi Gilang namun tidak diangkat, hingga Veri akhirnya menggunakan uang perusahaan dulu untuk mentraktir pegawai satu kantor.


Setalah membersihkan diri Gilang mengecek ponselnya dan benar saja banyak panggilan tak terjawab dari Veri.


"Astagfirullah bagaimana aku lupa kalau siang ini aku kan akan traktir mereka semua," gumam Gilang.


Gilang segera menghubungi Veri dan ternyata Veri sudah mengatasinya, tinggal Gilang yang memiliki hutang pada perusahaan.


Sore ini Gilang mengantar Nindi belanja keperluan rumah, setelah berbelanja mereka memutuskan untuk makan di sebuah cafe yang tak jauh dari tempat mereka belanja.


Tepat di depan meja Nindi dan Gilang ada Celo dan juga kakaknya Alex lalu mereka ikut bergabung dengan Nindi dan Gilang.


"Halo adikku, bagaimana kabar kamu?" tanya Alex basa basi


"Baik," jawab Gilang singkat.


"Maafkan aku Gilang, aku tidak tau kalau dia adalah istri kamu jadi aku menggodanya," kata Celo dengan tersenyum licik dan curi-curi pandang ke Nindi.


Gilang yang tau menjadi marah, "Jauhkan pandanganmu dari istriku," maki Gilang lalu mengajak Nindi pergi dari sana.


Celo dan Alex tersenyum licik melihat kepergian adik tirinya tesebut, dari dulu mereka memang mereka tidak suka pada Gilang karena Gilang lah pewaris satu-satunya harta Atmadja.

__ADS_1


Saat ini mungkin papa Gilang mempercayakan perusahaannya pada mereka namun berbeda lagi saat dia meninggal kelak karena bagaimanapun juga Alex dan Celo adalah anak tiri.


__ADS_2