
"Sakit?" tanya Celo yang khawatir
"Nggak, rasanya nikmat-nikmat gimana gitu," jawab Indira dengan tertawa
Celo yang gemas dengan istrinya segera menaik turunkan pinggangnya sehingga membuat Indira dimabuk ke awan.
Tangannya kini menarik rambut Celo, Indira yang merasakan kenikmatan yang luar biasa menutup dan membuka matanya.
Dia terus meminta Celo memompa lebih cepat karena Indira merasakan dia akan mencapai pelepasannya.
"Terus mas, terus...." Ucap Indira dengan tubuh yang menegang.
"Sekarang giliran aku sayang," bisik Celo.
Cukup lama memompa kini dia telah sampai juga di puncak kenikmatan.
"Terima kasih sayang, sebenarnya ingin nambah karena aku masih ingin makan kamu tapi fisikku udah nggak kuat," kata Celo yang kini berada di samping Indira.
Dia membawa istrinya dalam pelukannya, Celo memainkan rambut Indira yang kini berada dalam pelukannya.
"Asal kamu tau sayang, saat kamu nggak ada di sisi aku, aku seperti orang gila. Bingung harus ngapain, terpenjara sepi, menikmati rapuhnya diriku tanpa dirimu," ucap Celo
"Sama mas, saat di sana aku mencoba kabur namun fisikku cukup lemah karena aku nggak makan," sahut Indira
"Astaga sayang," timpal Celo lalu memeluk istrinya.
Celo tidak bisa membayangkan apa yang istrinya rasakan saat di diculik, sungguh biadab penculiknya yang tega memisahkan mereka.
Meski Indira bilang kalau penculiknya bukan David tapi Celo sulit untuk percaya, karena bukti semua mengarah pada David. Tapi karena Indira bilang bukan David, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Karena lelah, akhirnya mereka memutuskan untuk tidur saling peluk.
Di sisi lain, David tersenyum ketir melihat Indira lewat CCTV yang dia pasang di rumahnya.
"Meskipun kamu tidak bersama aku saat ini namun aku merasa lega, setidaknya aku kini bisa melihat senyum manis itu lagi," gumam David lalu dia menutup laptopnya dan pergi tidur.
************
Pagi sekali Nindi sudah bangun, dia membangunkan Gilang yang masih setia dengan gulingnya.
"Mas, mas, bangun dong," kata Nindi sambil menggoyang tubuh Gilang
"Apa sih sayang," sahut Gilang tanpa merubah posisinya.
"Ayo kita beli sarapan mas," pinta Nindi
"Ini jam berapa?" tanya Gilang dengan mata yang masih tertutup.
"Jam empat mas," jawab Nindi
"Astaaga sayang, ini tu masih subuh. Adzan Subuh saja belum terdengar Lo," sahut Gilang
"Tapi aku lapar mas, aku pengen makan lontong sate di pasar." Nindi mengungkapkan keinginannya pada Gilang.
Gilang yang sangat malas untuk bangun akhirnya mau nggak mau bangun.
__ADS_1
"Apa sih maunya dua tuyul itu," umpat Gilang yang kesal sama dua bocil di perut istrinya.
"Mau makan," sahut Nindi
Melihat Nindi yang hanya memakai baju tidur pendek sekali, membuat bagian bawah Gilang bereaksi seketika.
"Sayang lihatlah," kata Gilang sambil menunjuk bagian bawahnya, dia berharap Nindi mengerti maksudnya.
"Pasti berdiri, mudah sekali sih berdiri," gerutu Nindi
"Iya, nanti kalau udah makan aku kasih jatah deh," imbuh Nindi
"Yes," kata Gilang dengan girang.
"Astaga, seperti anak kecil yang diajak pergi jalan
-jalan," sahut Nindi dengan tertawa.
Kini mereka berdua pergi ke kamar mandi guna membersihkan diri.
Setelahnya mereka bersiap untuk pulang sekalian.
"Kita pulang sekalian saja ya," kata Gilang
"Iya mas, biar nggak bolak balik," sahut Nindi lalu dia berkemas.
Karena belum ada yang bangun, Nindi pamit pada art, "Mbok saya pulang dulu ya, ni lagi pengen makan di pasar, daripada bolak balik saya sekalian pulang," pesan Nindi
"Oh ya, tolong sampaikan ke mama ya," imbuh Nindi
Kini Nindi dan Gilang pergi ke pasar untuk membeli lontong sate yang Nindi pengen.
"Anak itu benar-benar menyiksaku, awas saja kalau udah lahir," ancam Gilang
"Eh eh, berani mengancam anakku," sahut Nindi tak terima
"Bercanda sayang, kalau udah lahir pasti aku gendong," timpal Gilang dengan terkekeh
"Situ enak tinggal buang benih la aku harus mengandung sembilan bulan, terus belum nanti melahirkan, menyusui dan lain-lain, seenaknya ngancam-ngancam," omel Nindi
"Astaaga mak lampir sudah mulai mengamuk kata Gilang lirih supaya Nindi tidak mendengarnya namun Nindi masih bisa mendengarkannya sehingga membuat Nindi marah.
"Apa? Mak lampir!" seru Nindi dengan menatap suaminya yang menyetir.
Gilang hanya terkekeh tanpa berkata-kata.
"Kamu grandong!" ucap Nindi
Gilang yang tidak tau apa itu grandong pun bertanya
"Grandong tu apa sayang?" tanya Gilang
"Grandong tu suami Mak lampir," jawab Nindi
"Oooo," kata Gilang dengan tertawa.
__ADS_1
Tak berselang lama mereka sampai di pasar, nampak sudah banyak pedagang yang menjajakan dagangan mereka di depan pasar.
Nindi dan Gilang muter kesana kemari mencari lontong sate.
"Kelihatannya nggak ada deh sayang," kata Gilang
"Ada kok mas, kita cari yang sebelah sana yuk," ajak Nindi
Memang benar, ternyata ada pedagang yang menjual lontong sate.
"Itu mas," ucap Nindi dengan menunjuk pedagang sate.
Kini mereka berdua mendekati pedagang tersebut dan memesan sate.
"Pak sate 20 tusuk ya," pesan Gilang
Awalnya Gilang tidak setuju tapi takut kalau Nindi marah akhirnya dia setuju saja.
Positif thinking, semoga anak dan istrinya baik-baik saja makan di pasar.
"Mas aku mau dua puluh tusuk" kata Nindi
"O ya sudah," sahut Gilang lalu meralat pesanannya.
"Kamu yakin, habis dua puluh tusuk sayang?" tanya Gilang
"Yakinlah mas, perut aku sungguh lapar," jawab Nindi
Setelah pesanan mereka datang, Nindi langsung melahap satenya.
"Mas, satenya enak banget Lo," ucap Nindi dengan mulut yang penuh sate
"Iya, tapi pelan-pelan kalau makan," sahut Gilang yang ikut memasukkan sate dalam mulutnya.
Tak berselang lama semua sate ludes, "Bungkus mas buat mama, dan buat aku juga," kata Nindi dengan terkekeh.
Gilang memesan lagi lima puluh tusuk, setelah pesanan siap Gilang membayar semua dan mereka pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, Celo dan Indira bangun dari tidur mereka.
"Pagi my beloved husband," sapa Indira
"Pagi juga my beloved wife," balas Celo dengan tersenyum
Mereka saling mengecup sebelum pergi ke kamar mandi.
Hari ini Celo meminta orang kepercayaannya untuk mendaftarkan dia dan Indira ke KUA, dia ingin segera meresmikan hubungan mereka, jadi jika mereka memiliki anak mereka tidak bingung dengan akte dan lain-lain.
Indira yang tidak ingin lepas dari suaminya pun ikut ke kantor, dia ingin terus menempel pada Celo itung-itung mengganti waktu mereka yang terbuang saat terpisah.
Dalam ruangannya Indira mengambil kursi dan meletakan di samping kursi kebesaran suaminya.
Dia nempel terus seperti perangko.
"Mas meskipun udah seperti ini, tapi aku masih kangen Lo," kata Indira
__ADS_1
"Sama, ingin rasanya aku meninggalkan pekerjaan aku dan bersua denganmu di sofa sayang," timpal Celo.