Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Mulai cekcok


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Rian tersenyum puas karena dia bisa membuat Alex dan Nita percaya ucapannya.


"Bodoh sekali bisa aku bohongi," kata Rian lalu mengambil motornya.


Saat mengendarai motornya, Rian terus saja senyum-senyum sendiri sehingga dia tidak fokus di jalan dan tanpa sengaja dia menyerempet orang dan karena oleng dia terjun bebas di selokan.


"Ah sial! brengsek," umpatnya sambil memegangi tangannya yang sakit.


Orang-orang yang melihatnya mencoba menolong baik orang yang Rian serempet maupun Rian sendiri.


Orang yang diserempet mengalami luka-luka sehingga mau ga mau harus mendapatkan perawatan medis.


Orang-orang membawa mereka berdua ke klinik tentu yang harus membayar semua biayanya adalah Rian.


Karena Rian tidak memiliki uang, orang yang diserempet yang membiayai semua namun dia menyita ponsel Rian sebagai jaminan.


"Hp nya buat jaminan dulu mas, masak iya saya yang diserempet saya yang biayai semua," kata Bapak-bapak yang diserempet oleh Rian.


"Ya sudah, saya minta alamatnya besok saja ambil hp saya," sahut Rian


Setelah memberikan alamat pada Rian, bapak-bapak tersebut pamit untuk undur diri, sedangkan Rian pergi ke bengkel untuk melihat motornya.


Tadi orang-orang membawa motor Rian ke bengkel.


"Brengsek! malah nyerempet beneran." Umpatnya.


Melihat motornya yang rusak lumayan parah membuat Rian memijat pelipisnya, uang dari mana lagi untuk mengambilnya nanti.


Itulah balasan orang yang tidak tau diri berbohong untuk menutupi kesalahannya sehingga kini dia dapat batunya.


**********


Setelah kepulangan Gilang baik Nindi maupun Gilang sama-sama sibuk terlebih Nindi sejak kontes yang dimenangkan anak didiknya banyak dari orang tua menitipkan anak-anak mereka di sanggar tari milik Ratna supaya mereka belajar tari, hingga suatu ketika Gilang yang pulang terlebih dahulu merasa kesal pasalnya Nindi belum pulang.


"Nindi belum pulang ma?" tanya Gilang pada mamanya

__ADS_1


"Belum," jawab Mama


Pada dasarnya Gilang yang sudah lelah ditambah sang istri yang tidak menyambutnya membuat Gilang sangat kesal. Dia kamarnya dia membuang tas jinjingnya lalu dia merebahkan diri sambil memijat pelipisnya.


Tak lama kemudian Gilang terlelap, beberapa waktu kemudian Nindi pulang dan dia kaget saat melihat Gilang yang tidur di ranjang.


Nindi nampak tersenyum melihat Gilang lalu dia mendekati Gilang dan duduk di sisinya, Nindi mengecup suaminya tersebut hingga karena pergerakannya sang suami terbangun dari tidurnya.


"Kamu sudah pulang?" tanya Gilang agak ketus


Nindi menatap Gilang karena Gilang bertanya padanya dengan pertanyaan dengan nada yang menurut Nindi tidak selayaknya orang bertanya.


"Iya, barusan," jawab Nindi datar.


Gilang melangkahkan kakinya ke meja, dia menuangkan air putih ke gelas lalu meneguknya dan meletakkan gelas kembali dengan sedikit kasar.


Gilang menyilangkan tangannya di dada sambil menatap Nindi, sedangkan Nindi nampak gugup heran dengan sikap Gilang yang tiada angin tiada hujan tiba-tiba seperti itu.


Dengan sorotan mata yang tajam dia terus memandangi istrinya, Nindi nampak kikuk dan gak enak, dia hanya bisa menunduk tanpa melihat suaminya.


mendengar kata-kata Gilang membuat Nindi menaikkan kepalanya dan matanya memutar menatap Gilang.


Dia masih belum menjawab karena masih bingung dengan kata-kata Gilang yang menurutnya ambigu.


Lama dia terdiam lalu Gilang mengeluarkan suaranya lagi


"Sampai kapan!" bentaknya yang seketika membuat Nindi tersentak, kaget dengan bentakan Gilang.


"Apa maksud kamu mas?" tanya Nindi


"Sampai kapan kamu akan terus bekerja, apa masih kurang jatah bulanan yang aku kasih," jawab Gilang


Nindi menatap Gilang dengan lekat, lalu dia berdiri mendekati suaminya


"Ini bukan soal jatah mas, tapi soal hobi aku. Kenapa kamu selalu mempermasalahkan kegiatan aku mas, meskipun aku ada aktivitas di luar aku sudah melakukan kewajiban aku lo, jadi masalahnya dimana?" sahut Nindi dengan menekankan kata-katanya dia akhir kalimat.

__ADS_1


Gilang tersenyum sinis, "Apa kamu bilang! masalahnya dimana? Kamu nggak tau masalahnya dimana?" tanya Gilang dengan nada tinggi.


Nindi menatap suaminya dengan sinis juga, sorotan matanya menunjukkan kalau dia mulai kesal dengan suaminya.


"Iya dimana masalahnya? tanya Nindi


"Kamu itu hamil! dengerin baik-baik. Kamu hamil! kamu tahu apa yang dilakukan ibu-ibu hamil muda lainnya? hah!" jawab Gilang dengan menunjuk Nindi dengan jari telunjuknya.


Nindi nampak tertawa menyeringai, "Kalau hamil memangnya kenapa? aku selalu bisa jaga kehamilan aku. Saat kamu bekerja dan aku hanya di rumah aku boring mas, dan itu membuat aku stres tapi saat aku aktivitas di luar pikiranku seneng, melihat anak-anak belajar, aku mengobrol dengan teman-temanku. Kenapa kamu mempermasalahkan hal itu," sahut Nindi. "Di luar banyak lo ibu yang sedang hamil ini mereka masih bekerja dan bahkan mungkin pegawai kamu juga ada kan?" imbuh Nindi


Gilang yang merasa Nindi membantahnya menggebrak meja sehingga Nindi lagi-lagi tersentak kaget, dan air matanya langsung terjun bebas.


"Terus saja membantah, aku mau istri yang di rumah, menjaga kehamilannya, menyambut suami pulang bukan istri yang masih di luar saat suaminya pulang," bentak Gilang.


Nindi terdiam tanpa bisa menjawab lagi, dia duduk dan menangis sambil terisak.


Ini baru pertama kalinya Gilang membentaknya, Nindi sangat sakit hati kenapa Gilang mempermasalahkan pekerjaan Nindi toh dulu dia yang memperbolehkan Nindi untuk bekerja.


Melihat Nindi menangis sebenarnya Gilang tak tega tapi dia juga bingung harus bagaimana lagi memberitahu Nindi, dia hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon bayinya yang berada dalam perut, apalagi usia kehamilannya baru menginjak trimester pertama yang artinya masih rentan-rentannya untuk gugur.


Gilang mengambil kunci mobilnya dia ingin menjernihkan pikirannya di luar daripada di rumah dia merasa frustasi.


Tanpa bilang apa-apa Gilang langsung keluar dan menutup pintu dengan keras sehingga mama yang kebetulan melihatnya ikut kaget.


Mama sudah menduga kalau mereka habis bertengkar namun mama sendiri tidak ingin menegur Gilang karena mungkin Gilang masih panas, mungkin kalau sudah adem mama akan menegurnya.


"Nindi, Gilang jangan sampai gara-gara hal kecil kalian cekcok terus," gumam Mama.


Di kamarnya Nindi terus menangis hingga dia tidak makan dan membersihkan dirinya.


Dia bingung kini, tetap bekerja atau di rumah saja sesuai permintaan Gilang.


"Apa yang harus lakukan, jika aku tiba-tiba keluar bagaimana tanggung jawab aku pada wali murid, tapi jika aku tidak keluar bagaimana dengan mas Gilang?" Nindi bermonolog dengan dirinya sendiri dia sungguh bingung apa yang harus dia lakukan.


Lama berkutat dengan pikirannya yang kemana-mana, kini Nindi sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Nindi nampak khawatir karena Gilang tak kunjung pulang.

__ADS_1


"Kamu dimana mas,"


__ADS_2