
Nita keluar dengan membawa minuman dan juga camilan, setelah meletakkan minuman dan camilan untuk Alex dan Rian, Nita pamit masuk ke dalam lagi karena waktunya untuk Rio tidur siang.
"Aku tinggal dulu ya, Rio waktunya tidur," kata Nita dengan tersenyum manis.
"Iya sayang, habis ini nidurin aku ya," seloroh Alex yang membuat Rian geram.
"Kamu mas bisa aja, nggak enak ma mas Rian lo," sahut Nita dengan menatap Rian.
Alex menatap Rian dengan tersenyum licik memang tujuannya membuat Rian panas.
"Rian sudah dewasa untuk apa nggak enak," timpal Alex.
Nita masuk ke dalam dengan menggelengkan kepalanya, calon suaminya sungguh pintar sekali membuat hati orang panas dalam.
Setalah kepergian Nita, mereka nampak mengobrol lagi, "Jadi kamu kerja dimana Rian?" tanya Alex dengan senyuman miringnya.
Rian yang meminum kopinya jadi tersedak karena mendengar pertanyaan Alex.
"Pelan-pelan, aku punya kopi sendiri jadi nggak akan meminta kopi kamu," kata Alex dengan menahan tawa.
"Iya," sahut Rian dengan meletakkan cangkir kopinya di meja lalu dia mengambil tisu untuk mengusap mulutnya.
Kelihatannya Alex ingin bermain-main dengan Rain, dia sungguh ingin membuat Rian mati kutu dengan pertanyaannya, sebelumnya Alex sudah menyelidiki siapa itu Rian. Alex dan Rian kini sama-sama diam suasana hening menyelimuti berdua, mereka perang batin sendiri, Alex kesal dengan Rian sedangkan Rian juga dengan Alex.
"Jadi kamu bekerja dimana?" tanya Alex lagi yang membuat Rian menatapnya.
Rian nampak bingung harus menjawab apa, karena tentu tidak mungkin dia bilang yang sesungguhnya pada Alex kalau dirinya adalah seorang pengacara yang singkatan dari pengangguran banyak acara.
Rian ini adalah korban dari angan-angan yang terlalu tinggi, malas bekerja karena mimpinya yang ketinggian ingin hidup enak tanpa susah payah bekerja nggak seperti orang-orang pada umumnya yang pagi harus bekerja sore atau malam baru pulang.
"Perusahan mana?" tanya Alex lagi yang membuat Rian semakin tertekan.
__ADS_1
"Brengsek si Alex, kenapa dia selalu mengejar aku dengan pertanyaan seperti itu." Rian mengumpat di dalam hati kesal sekali dengan Alex yang ingin tau tentang pekerjaannya.
"Aku bekerja di sebuah perusahaan rokok," jawab Rian asal, entah kenapa perusahaan rokok lah yang keluar dari mulutnya kenapa nggak perusahaan lain.
"Memangnya perusahan rokok beroperasi malam hari? setauku hanya sampe sore dan pabrik tutup," sahut Alex tersenyum menyeringai dengan tatapan yang tak lepas dari Rian.
Rian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia semakin bingung. Alex sungguh membuatnya mati kutu, "Ah brengsek banget orang ini, maunya apa sih," gerutu Rian dalam hati.
Rian semakin dibuat bingung oleh Alex, dia mau nggak mau bilang kalau dia bagian jaga mengawasi hal-hal yang mencurigakan di pabrik.
"Satpam maksud kamu?" tanya Alex lagi yang membuat Rian ingin rasanya menenggelamkan dirinya di kolam renang, dia sungguh frustasi dengan pertanyaan-pertanyaan Alex.
"Iya," Sahut Rian dengan kesal tingkat dewa.
Alex nampak tersenyum miring melihat rivalnya frustasi, memang inilah tujuan Alex. Membuat Rian mundur pelan-pelan dengan teratur tanpa oleng.
"Gaji berapa?" tanya Alex lagi yang membuat Rian semakin frustasi dan stres, rasanya dia ingin sekali menabok Alex yang sedari tadi mencari gara-gara dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya mati kutu.
Untuk apa coba bertanya hal-hal seperti itu.
"Kan aku ingin tau berapa gaji seorang satpam seperti kamu Rian, apa lebih besar dariku atau tidak," jawab Alex dengan senyum mengejek Rian.
"Gaji aku tentu UMR kota ini," ucap Rian dengan melemparkan tatapannya ke sembarang.
Alex nampak tertawa sinis, bagaimana bisa dengan gaji seperti itu bisa membiayai bayi, Nita dan juga Rio apalagi Rian hanya berbohong.
"Begini Rian, aku mohon sudahi saja keinginan kamu untuk mengejar-ngejar Nita lagi, aku adalah ayah dari bayi Nita dan aku pasti akan bertanggung jawab penuh pada Nita maupun Rio jadi kamu nggak usah khawatir," kata Alex yang membuat Rian terdiam.
"Mohon maaf sebelumnya tapi gaji UMR dengan dua anak itu nggak akan cukup, apalagi satpamnya model seperti kamu yang seorang pengacara yang tak lain pengangguran banyak acara," imbuh Alex
Rian semakin kesal dengan Alex, bahkan dia sudah mengepalkan tangannya, Alex sungguh keterlaluan kalau mengejeknya.
__ADS_1
"Tapi Rio membutuhkan aku," sahut Rian yang masih belum menyerah.
Alex tertawa keras mendengat sahutan Rian,
"Rian, Rian gini, Rio sudah terbiasa hidup tanpa kamu karena kamu sendiri yang meninggalkannya waktu itu lalu bagaimana kamu bisa bilang kalau Rio membutuhkan kamu, yang Rio butuhkan itu Nita bukan kamu," timpal Alex
"Aku tau tapi aku adalah ayah kandung Rio dan kamu malah orang lain," ucap Rian masih tak mau kalah.
"Ingat Rian, aku juga ayah kandung dari bayi yang baru dilahirkan Nita, dia lebih butuh aku. Kalau Rio sendiri aku rasa dia juga menerima aku," sahut Alex.
"Ya sudah gini saja, kalau kamu bisa menjatah Nita seratus juta perbulan aku akan melepas Nita untuk kamu, namun jika kamu nggak bisa jadi mohon pergilah dan jangan ganggu kami lagi," imbuh Alex
"Alex, Rio adalah anakku, tentu aku amat sangat menyayanginya oleh sebab itu aku selalu datang kesini karena sangat merindukan anakku," timpal Rian.
Alex hanya bisa tertawa, bagaimana bisa Nita dulu menikah dengan Rian yang memiliki karakter yang super menjijikkan seperti ini.
Sudah jelas-jelas kalau kesini dia tidak pernah bawa apapun, itukah yang dibilang sayang?? karena memang tujuan awal dia kembali untuk menumpang hidup pada Nita.
Rian jadi kesal karena Alex seolah memojokkannya,
"Aku mungkin kalah darimu Alex tapi aku tulus ingin membahagiakan Nita, Rio dan bayi kamu," ucap Rian yang membuat Alex ingin sekali menabok dan mendonorkan organ Rian pada pasien rumah sakit yang sedang sekarat.
"Jangan bilang tulus Rian, apakah kamu sendiri sudah tulus?" tanya Alex yang membuat Rian bingung, dia tidak menyangka kilau Alex bermain dengan dirinya.
"Tentu," sahut Rian.
Karana tidak ingin berdebat dengan Alex, Rian pamit undur diri.
Alex hanya bisa tersenyum miring melihat Rian, dia juga heran sekali dengan lelaki kadal seperti Rian.
"Kamu pikir aku nggak tau rencana busuk kamu Rian, selama ada aku jangan harap kamu bisa memanfaatkan Nita," gumam Alex
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Rian menggerutu dia sungguh kesal sekali dengan Alex yang telah menjatuhkan harga dirinya.
"Memangnya siapa kamu Alex, jangan mentang-mentang bekerja di perusahaan bisa menghina aku seenaknya." Rian memaki-maki Alex di atas motor.