
Seusai Mendapat sentuhan lembut dari David, Farah menangis di tepi ranjang David.
Sentuhan David benar-benar membuatnya bingung, apa dia pergi saja yang jauh, dimana dia bisa memulai hidupnya yang baru, atau tetap bertahan di kota ini sebagai penari stripper.
Lama berfikir akhirnya Farah memutuskan untuk pergi jauh. Dia ingin memiliki kehidupan seperti Indira, dicintai dan mencintai secara normal bukan hanya disentuh karena naf su.
Dia menatap David sekilas, nampak David tidur dengan tubuh polosnya.
"Terima kasih untuk semua David," Kata Farah lalu dia mengecup kening David.
"Terima kasih, meski singkat dan meski kamu menganggap aku Indira tapi sikap lembut kamu sudah cukup menawanku.
Jika aku tidak segera pergi darimu aku takut perasaanku berubah jadi cinta yang akan menyiksaku sendiri kedepannya," kata Farah lalu dia pergi dari rumah David.
Farah yang lapar memutuskan pergi ke sebuah resto kecil di sana nampak satu keluarga makan, mereka nampak bahagia dan ini membuat Farah iri,
"Tuhan sangat tidak adil padaku, sejak kecil aku sudah mendapatkan kehidupan yang keras hingga aku harus menjadi seorang wanita seperti ini," gumamnya.
Setalah makan dia sudah memutuskan untuk pergi, dengan uang pemberian David dia ingin menyewa rumah di kota barunya.
Dia ingin bekerja layaknya orang biasa, dia sudah bertekad untuk mengubah hidupnya dan semoga Tuhan masih mau memaafkannya.
"Selamat tinggal," kata Farah lalu dia masuk mobil yang disewanya. Kemana dia pergi hanya Farah yang tau.
************
Hari berlalu dengan cepat, usia kehamilan Nindi kini sudah sembilan bulan, kini waktunya untuk dia melakukan persiapan persalinan.
"Mas aku mau melahirkan secara normal saja ya," kata Nindi
"Kenapa nggak sesar saja sayang, anak kita dua Lo kalau terjadi apa-apa dengan kamu gimana?" tanya Gilang dengan mengelus perut istrinya yang seperti perut badut.
"Nggak nggak mas, seharusnya kamu tu support aku mas bukannya menakut-nakuti aku," protes Nindi
"Hehe, iya sayang. Ya udah aku dukung semua keputusan kamu, mau normal maupun sesar asal kamu janji sama aku kalau kamu dan anak kita akan baik-baik saja," kata Gilang
"Janji mas," sahut Nindi
"Oh ya sayang, katanya kalau mau melahirkan itu recom Lo buat berhubungan," ucap Gilang yang membuat Nindi menatapnya.
"Bilang saja kalau mau minta jatah, iyakan?" tanya Gilang.
"Sebelum kamu nifas sayang, aku baca artikel katanya orang nifas itu selama empat puluh hari. Gimana kalau aku pengen sayang," jawab Gilang.
__ADS_1
"Pengen ya dikeluarkan mas, kan di kamar mandi banyak persediaan sabun," goda Nindi dengan tertawa
Gilang yang kesal mencubit hidung istrinya. Melihat Gilang membuat Nindi mengabulkan keinginan suaminya yaitu bergulat.
Seusai bergulat mereka mengobrol tantang banyak hal.
"Sayang, aku nggak menyangka sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah," kata Gilang
"Iya mas, aku juga," sahut Nindi
"Udah ada nama untuk mereka apa belum mas?" tanya Nindi
"Udah dong sayang," jawab Gilang
Untuk nama-nama anaknya tentu jauh-jauh hari Gilang sudah menyiapkanya.
"Jika anak kita cewek cowok nama mereka adalah Angela dan Angelo, kalau cowok cowok nama mereka Diega dan Diego jika cewek cewek nama mereka Anindya dan Anindita." Gilang memberitahu rencana nama anak mereka.
"Bagus mas," sahut Nindi lalu mereka tidur sambil berpelukan.
Keesokan harinya, perusahaan mengharuskan Gilang untuk pergi ke luar kota, dia sungguh bingung harus keluar kota apa menunggui istrinya yang mendekati hari-hari kelahiran anaknya.
"Pergilah mas, waktu aku melahirkan masih seminggu lagi," kata Nindi mendekati suaminya yang bingung.
"Ya aku akan menghubungi kamu," jawab Nindi dengan tersenyum.
"Baiklah sayang, kalau ada apa-apa hubungi aku ya, aku juga akan standby by online," sahut Gilang.
Di sisi lain, Alex dan Nita sedang cekcok kecil, mereka cekcok gara-gara hal sepele yaitu karena cela na da lam yang dipakai Nita.
"Kamu ngapain sih sayang, pakai CD warna merah. Nggak-nggak aku nggak setuju," protes Alex
Nita yang kesal ingin sekali menabok suaminya, kenapa hanya karena ****** ***** jadi masalah.
Biasanya Alex tidak pernah protes, lagian juga nggak penting sekali, toh letaknya juga di dalam.
"Udahlah mas, lagian kenapa sih," omel Nita
"Aku ingin melihat kamu tidur dengan pakaian yang menggoda jadi aku nggak mau ya kamu memakai CD warna merah," sahut Alex
"Kenapa sih harus seperti itu," kata Nita dengan marah.
"Sudahlah sayang, jangan banyak protes. Kepalaku pusing sekali, aku hanya ingin melihat kamu seperti itu. Please turuti ya." Alex memelas memohon Nita menuruti kemauannya.
__ADS_1
Nita yang malas meminta Alex untuk mengganti CD yang telah dipakainya, dia juga boleh mengganti baju tidur dengan baju yang menggoda.
Alex yang sangat senang langsung saja, menarik CD istrinya lalu dia memakaikan pakaian yang menggoda.
"Setalah aku sudah berpakaian seperti ini kamu mau apa mas?" tanya Nita
"Tidur lah dengan memeluk kamu," sahut Alex
Nita hanya menggelengkan kepala, makin kesini sikapnya seperti anak kecil, berbeda dengan dulu saat Alex masih jadi bos nya, sikapnya dulu sangat dingin, diktator, kejam dan licik serta jahat namun kini berubah jadi 180 derajat.
Baru sebentar saja Alex sudah tidur dengan memainkan pucuk Dada Nita. Meski geli tapi Nita tidak ingin mengganggu suaminya tidur.
"Terima kasih mas, sudah mau berubah demi aku," gumam Nita dengan mengecup kening Alex.
************
Dua hari berlalu, Nindi yang pagi ini sedang jalan-jalan merasakan sakit di perutnya.
"Aaaaaa," teriaknya
Para art yang mendengar teriakan Nindi jadi kaget, beberapa dari mereka menghampiri Nindi yang memegangi perutnya.
"Nyoya kelihatannya air ketubannya pecah," kata salah satu art.
Art lain yang panik langsung memanggil mama Gilang. Mama yang kaget segera menghubungi Gilang, beliau ingin menyampaikan kalau Nindi sudah waktunya melahirkan.
Mama yang dibantu art dan sopir segera membawa Nindi ke rumah sakit, sedangkan yang lainnya di suruh mama untuk menyiapkan keperluan untuk jabang bayi dan baju ganti Nindi.
Art yang sudah berpengalaman tentu tau apa saja yang harus dibawa.
Dengan menggunakan mobil lainnya art pergi bersama tukang kebun ke rumah sakit menyusul Nindi dan mama Gilang.
Setibanya di rumah sakit sopir segera berlari untuk meminta bantuan dari perawat di sana untuk membawa brankar.
Nindi yang kesakitan memegang tangan mertuanya dengan erat.
"Sakit ma," kata Nindi
Nindi segera dibawa ke ruang bersalin, Sementara para suster, bidan dan dokter menyiapkan persalinan Nindi, Mama menemani menantunya tersebut.
"Nindi takut ma," kata Nindi
"Nggak usah takut, rasanya ya seperti saat kamu buang air besar." Mama mencoba menenangkan menantunya meskipun dia sendiri sudah sangat takut.
__ADS_1