Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
positif


__ADS_3

Mendengar perkataan Mama membuat Nindi menghela nafas, dia sendiri nggak PD memakai baju warna warni seperti ini.


Dengan rasa yang tidak nyaman dia ikut Gilang masuk mobil, kemudian mereka menuju rumah sakit untuk periksa.


Beberapa menit berlalu mobil Gilang sudah memasuki area rumah sakit, "Kamu turun dulu ya sayang, aku mau parkir mobil," kata Gilang.


"Nggak mas, aku ikut kamu parkir mobil," sahut Nindi, dia tidak mau kalau saat turun mobil dia menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah sakit.


"Ya sudah, tapi agak jauh. Nggak apa-apa ta?" tanya Gilang.


"Nggak papa mas," sahut Nindi.


Mobil Gilang masuk ke dalam parkiran mobil yang letaknya lumayan jauh dari pintu masuk rumah sakit.


Setelah parkir mobil Gilang dan Nindi turun, Nindi yang kurang PD menyembunyikan separuh tubuhnya di tubuh Gilang, apalagi saat memasuki rumah sakit banyak mata yang menatapnya.


"Astaga, rasanya aku mau pingsan saja," gerutu Nindi


Gilang yang samar-samar mendengar gerutu Nindi jadi panik.


"Apa sayang kamu mau pingsan?" tanya Gilang dengan membalikkan badan.


"Nggak mas," jawab Nindi dengan terkekeh.


Kemudian mereka bertanya pada resepsionis ruangan praktek dokter umum, kemudian resepsionis meminta Gilang untuk daftar terlebih dahulu.


Setelah mendapatkan kartu mereka pergi ke praktek dokter umum.


Karena sepi mereka berdua langsung disuruh masuk oleh perawat yang ada di sana.


"Silahkan masuk Pak, Bu!" kata perawat tersebut.


Gilang dan Nindi masuk ke dalam ruang praktek dokter umum.


"Keluhannya apa Bu?" tanya sang dokter.


"Perut saya ngilu dok," jawab Nindi


"Kronologinya bagaimana Bu, kenapa kok bisa ngilu?" tanya Dokter lagi


"Tadi kami habis melakukan hubungan suami istri, dan setelah itu perut saya jadi ngilu," jawab Nindi


Dokter hanya tersenyum, kemudian beliau meminta Nindi untuk berbaring untuk dilakukan pemeriksaan.


"Memangnya gaya apa Bu tadi saat berhubungan?" tanya dokter.


Gilang yang agak sensitif, merasa nggak nyaman dengan pertanyaan dokter tersebut. Lalu dia menyahuti pertanyaan dokter tersebut dengan menjawab asal.


"Gaya dada dok," jawab Gilang.


"Selera humor anda tinggi juga ya pak, maksud saya saat berhubungan tadi kalian melakukan gaya, women on top, atau men on top atau mungkin gaya yang lain," jelas dokter


"Saya di bawah dok," sahut Nindi


"Bearti penetrasi suami anda terlalu dalam Bu, sehingga anda merasakan ngilu pada bagian perut," timpal Dokter.

__ADS_1


"Anda seharusnya tidak melakukan sodokan yang terlalu kencang, karena dikhawatirkan janin ibu akan jatuh mengingat kandungan masih dalam trimester pertama, rawan rawannya gugur," jelas dokter lagi.


Nindi dan Gilang membolakan matanya, sedangkan dokter meminta Nindi untuk bangun.


"Apa dok?" tanya Nindi


"Hati-hati Bu, janin anda rawan gugur," jawab Dokter


"Saya ha mil?" tanya Nindi lagi dengan terbata, dia masih tidak percaya dengan jawaban dokter yang mengatakan kalau dirinya hamil.


"Iya, memangnya ibu belum tau?" tanya Dokter lagi


"Belum dok," jawab Nindi


"Sesuai pemeriksaan saya Bu, anda memang hamil, namun untuk lebih jelasnya anda bisa pergi ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut karena di sana ibu akan di USG," saran dokter.


Gilang yang sangat senang akhirnya memeluk Nindi, dia sangat bahagia begitu pula Nindi.


Mereka seakan lupa dengan dokter yang ada di depan mereka.


Gilang yang saking senangnya mengecup kening Nindi beberapa kali.


"Kamu hamil sayang," ucapnya


"Iya mas, aku hamil," timpal Nindi.


Dokter melihat kebahagiaan mereka dengan tersenyum, karena mereka tak kunjung berhenti peluk dan ciumnya sehingga dokter berdehem


"Hem Hem, Pak Bu. Sudah apa belum?" tanya Dokter


Dokter menuliskan resep obat pada Gilang dan Nindi, dan untuk lebih jelasnya mereka diminta periksa ke dokter kandungan.


"Terima kasih dok, kami pamit dulu," pamit Nindi dan Gilang.


Setelah di depan ruang praktek dokter kandungan nampak berjejer ibu-ibu hamil yang sedang mengantri.


"Mas antri," kata Nindi


"Iya sayang, nggak papa kita tunggu saja," sahut Gilang.


Nindi harus daftar terlebih dahulu untuk mendapatkan kartu.


Setelah itu mereka kembali antri, mata ibu-ibu tertuju pada Gilang dan Nindi mungkin karena baju pelangi yang mereka pakai.


"Mas lihatlah, mereka pada melihati kita," bisik Nindi


"Biarin saja, mungkin mereka terpesona dengan kita sayang, kamu cantik dan aku ganteng," sahut Gilang.


"Mereka itu melihat baju kita mas," ucap Nindi.


"Nah kan mereka pengen, nanti lama-lama akan jadi trend sayang," kata Gilang.


"Iya trend yang norak," sahut Nindi kesal.


Lama menunggu akhirnya kini Giliran Nindi untuk diperiksa.

__ADS_1


Kini mereka masuk ke dalam ruang dokter kandungan.


Dokter bertanya pada Nindi apa keluhannya, dan Nindi bilang kalau ngilu.


Dokter tersenyum karena pasti itu karena penetrasi yang terlalu dalam.


"Lain kali jangan melakukan penetrasi terlalu dalam, kasihan janin yang di dalam," pesan dokter


"Kami nggak tau dok kalau ada janin di dalam perut," sahut Gilang.


Dokter kemudian meminta Nindi untuk berbaring di bed karena dokter akan melakukan USG.


Saat alat USG menyusuri perut Nindi, nampak dua titik, di layar yang tandanya ada dua janin di perut Nindi.


"Selamat pak dan Bu, anda hamil kembar," kata Dokter yang membuat Nindi dan Gilang membolakan mata.


Nindi nampak menangis, "Mas Tuhan mengembalikan anak kita yang meninggal dulu," kata Nindi


"Iya sayang," sahut Gilang dengan mata yang basah juga.


Kini Gilang teringat kembali sikapnya pada Nindi saat itu, rasa bersalah kini menggerogotinya kembali.


"Tuhan mengembalikan anakku yang telah meninggal namun perlakuanku padanya saat itu sungguh kejam hingga dia kecelakaan yang lumpuh, maafkan aku sayang," batin Gilang dengan menatap Nindi.


Setelah dokter mengusap sisa sisa gel di perut Nindi, Nindi bangun dan langsung memeluk Gilang.


"Aku janji mas, akan menjaga anak ini dengan baik supaya mereka tidak meninggalkan kita lagi," kata Nindi dengan menangis.


"Iya, sayang. Kita jaga bersama-sama ya," timpal Gilang.


Mereka sangat bahagia, hingga tak sabar untuk memberitahukan berita baik ini pada mama Gilang.


Seusai menebus dan membayar biayanya Gilang dan Nindi segera pulang karena mereka tidak sabar untuk memberitahukan kalau Nindi hamil anak kembar. Pasti mamanya akan senang sekali.


Dan setibanya di rumah Gilang memanggil manggil mamanya,


"Ma, ma," panggil Gilang


Mama yang mendengarnya segera mendekat.


"Ada apa sih Gilang, teriak teriak," omel mama


"Nindi hamil ma, dan hamil anak kembar," kata Gilang dengan senang.


Mama membolakan matanya, dia sungguh bahagia mendengar kalau dia akan memiliki cucu kembar.


"Alhamdulilah Gilang dan Nindi, Tuhan mengembalikan anak kalian yang telah meninggal," ucap mama lalu beliau memeluk Nindi.


"Iya ma," sahut Nindi.


Mereka pun mengobrol di ruang keluarga, "Apa keluarga kamu memiliki riwayat hamil kembar?" tanya mama


"Iya ma, katanya dulu Nindi punya saudara kembar tapi saudara Nindi meninggal saat masih bayi," jawab Nindi dengan raut wajah sedih.


Kini kenangan akan ibu dan ayahnya menari di otak Nindi, Nindi berharap semoga orang tuanya ditempatkan di tempat terindah di sisinya.

__ADS_1


__ADS_2