
"Nggak bisa harus makan pokoknya," kata Gilang yang terus memasukkan makanan ke dalam mulut Nindi/Rara.
"Udah pak udah," pinta Nindi.
Gilang dan Nindi/Rara tampak bercanda bersama hingga tak sengaja Gilang merangkul bahu Nindi/Rara.
Nindi/Rara terpaku saat mendapati Gilang merangkul dirinya, jantung yang semula berdetak normal kini mulai up normal, detak nya semakin cepat, Gilang yang sadar pun melepas tangannya dari pundak Nindi/Rara.
"Maaf Ra, nggak sengaja," kata Gilang menyesal.
"Nggak apa-apa kok pak," sahut Rara/Nindi.
Setelah puas makan Gilang dan Rara/Nindi pulang, tak lupa Gilang membawakan makanan untuk istrinya yang ada di rumah.
"Rumah kamu sebelah mana Ra?" tanya Gilang.
Rara/Nindi menyuruh Gilang untuk mengantarnya di minimarket area apartemennya, karena tentu tidak mungkin bilang kalau dia tinggal di apartemen.
"Kenapa nggak langsung turun di rumah saja?" tanya Gilang heran
"Anda bagaimana sih pak, kalau suami saya tau pasti saya akan dimarahi," jawab Nindi/Rara beralasan.
Mendengar jawaban Nindi Gilang jadi terkekeh, karena benar juga apa yang dikatakan Nindi.
Setalah menurunkan Nindi, Gilang segera pulang ke apartemennya, Nindi pergi ke toilet untuk mengubah dandanannya yang cupu kembali dan setelah itu dia berjalan kaki menuju apartemennya yang nggak jauh dari minimarket.
Gilang yang lebih dulu datang jadi mengerutkan alisnya pasalnya udah malam Nindi belum datang.
Gilang meletakkan makanannya di meja lalu mengambil ponselnya, dia hendak menghubungi Nindi namun dia baru sadar kalau dirinya tidak memiliki nomor ponsel Nindi.
Tak selang berapa lama, pintu terbuka dan Nindi pulang. Dia mendekat ke arah Gilang lalu mencium punggung tangan suaminya tersebut.
Inilah kedua kalinya Nindi mencium tangan suaminya.
"Kamu baru pulang?" tanya Gilang
"Iya mas tadi aku habis makan dulu dengan bos," jawab Nindi.
Gilang mengerutkan alisnya, "Aku membawakan makanan buat kamu," kata Gilang sambil menunjuk makanan di atas meja.
"Maaf mas tapi perutku kenyang sekali," timpal Nindi.
__ADS_1
Gilang tersenyum, " Ya udah nggak papa, makananya buat besok bisa dibuang juga bisa," ujar Gilang.
"Eh jangan mas, buat besok saja. Kan bisa ditaruh lemari es," ucap Nindi.
Gilang tersenyum lalu mengusap rambut Nindi, tentu hal ini membuat Nindi kaget.
Memang semenjak dia jatuh cinta dengan Rara atau samaran Nindi, sikapnya lebih manis apa mungkin karena rasa bersalahnya atau apa yang jelas Gilang sedikit berubah.
Hari berjalan dengan cepat, rasa cinta Gilang untuk Rara semakin besar, begitu pula dengan Rara. Awalnya ingin membalas perbuatan Gilang padanya namun kini berbalik arah, dia malah terjerat dengan cinta Gilang hingga suatu malam mereka berdua menghadiri sebuah pesta teman sekaligus rekan bisnis Gilang.
Pestanya di hadiri banyak sekali tamu undangan, kebanyakan mereka anak-anak muda seumuran Gilang. Para pebisnis muda yang sukses menggapai dunia saat usia masih belia tentu itu semua tidak lepas dari campur tangan mereka masing-masing.
"Gilang," panggil seseorang
Gilang menoleh dan betapa kagetnya dia kalau yang memanggilnya adalah teman lamanya yang bernama Lucas yang baru kembali dari Australia.
"Hey bro," sapa Gilang balik lalu memeluk sahabatnya tersebut.
"Ayo kita nimbrung di sana dengan Reyhan," ajak Lucas.
Gilang menyuruh Lucas untuk kesana dulu karena dia akan mengajak Rara.
"Ra, ayo ikut nimbrung dengan teman-temanku," ajak Gilang
"Ya udah aku tinggal dulu ya," kata Gilang dan berlalu.
Rara duduk sendirian di tepi kolam, karena memang pesta ini di adakan di halaman belakang salah satu vila milik teman Gilang.
Dari jauh ada dua bola mata yang mengawasi Rara, dia pun mendekat dan membawakan Rara minuman.
"Halo," sapa lelaki tersebut.
"Halo," sahut Rara/Nindi.
Lelaki tersebut aktif bertanya pada Rara/Nindi, awalnya Rara sedikit canggung namun lama-lama dia merasa nyaman juga.
Lelaki tersebut memberikan minuman pada Rara, "Minuman apa ini?" tanya Rara.
"Minuman ringan, supaya tubuh kamu hangat. Udara malam ini sangat dingin," jawab lelaki tersebut.
Rara/Nindi yang sudah haus akhirnya meminum minuman yang diberikan lelaki tersebut, sambil mengobrol tak terasa kalau dia habis lima gelas kecil minuman yang bawakan teman ngobrolnya.
__ADS_1
Entah mengapa meski pahit namun Rara/Nindi tetap saja meminum minuman tersebut.
Rara/Nindi yang nggak pernah minum minuman beralkohol sontak saja langsung pusing, kepalanya berputar.
"Hey, are you okay?" tanya lelaki tersebut.
Saat dia hendak membawa Rara masuk untuk istirahat Gilang datang.
"Dhika apa yang kamu lakukan pada kekasihku?" teriak Gilang dengan rahang yang sudah mengeras.
"Maaf bro, dia mabuk jadi aku ingin membawanya kedalam," jawab Dhika.
Nggak perlu biar aku yang membawanya,' sahut Gilang ketus lalu membopong Rara/Nindi.
Dhika menatap Gilang, lalu dia menaikkan kedua pundaknya, yang mengartikan dia bodoh amat.
Gilang ingin membawa Nindi/Rara pulang namun dia tidak tau rumahnya, kalau dia membawa Rara ke apartemennya tentu Nindi akan marah. Daripada bingung akhirnya Gilang membawa Rara ke hotel.
Setalah memesan kamar, Gilang segera membawa Rara untuk istirahat.
"Tidurlah aku pulang dulu," kata Gilang.
"Jangan, tidurlah denganku," sahut Rara yang membuat Gilang membolakan matanya.
Otak Gilang traveling saat Rara mengajaknya untuk tidur bersama.
Rara/Nindi memeluk Gilang dengan erat, "Asal kamu tau mas, aku sudah lama mencintaimu," kata Rara.
Gilang tersenyum, hatinya juga berbunga-bunga ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Tanpa aba-aba Gilang mencium bibir Rara, dia ******* bibir mungil Rara yang tak lain adalah istrinya sendiri.
Gilang ingin melakukan lebih namun belum saatnya, dia tidak ingin melakukan hal itu dengan orang mabuk.
Puas menciumi bibir Rara, Gilang pun memeluk Rara dengan erat.
Dia sungguh mencintai Rara, meski sempat ada perasaan bersalah karena telah mencintai Rara, namun kembali lagi dia adalah mahkluk yang tak berdaya tak bisa menolak saat cinta datang padanya.
Gilang berperang dengan pikirannya sendiri, sisi lain dirinya mengatakan kalau dia telah memenuhi wasiat pak Slamet waktu itu, dia sudah menikahi Nindi dan memberinya kehidupan yang layak namun sisi dirinya yang lain menyayangkan sikap Gilang uang telah mencintai wanita lain.
Gilang sendiri condong ke perasaannya, rasa cinta yang begitu besar untuk sekertaris barunya tersebut.
__ADS_1
"Maafkan aku Nin, tapi aku tak bisa mencintaimu, aku kini mencintainya," batin Gilang. "Mulai saat ini akulah kekasihmu, masa bodoh dengan istriku ataupun suami kamu yang penting adalah cinta kita sekarang," kata Gilang dengan mengecup kening Rara/Nindi.