
"Nggak usah takut, rasanya ya seperti saat kamu buang air besar." Mama mencoba menenangkan menantunya meskipun dia sendiri juga sangat takut.
"Beda ma, rasanya sungguh sakit," ucap Nindi lirih.
Gilang yang sudah dalam perjalanan saat Mama menghubunginya segera melajukan mobil ke rumah sakit. Gilang yang mendapat firasat kalau Nindi akan melahirkan pagi tadi sudah berangkat pulang.
"Dok ini gimana mantu saya?" tanya mama
"Sebentar Bu, nunggu dokternya," jawab suster
Mama Gilang mengajak ngobrol mantunya supaya dia bisa melupakan rasa sakitnya.
"Mas Gilang mana ma?" tanya Nindi
"Gilang masih otw, sudah jangan mikir Gilang pikirkan diri kamu sendiri, dan banyak berdoa," pesan mama.
Nindi mengangguk, tak berselang lama, Gilang datang, dia segera menciumi istrinya.
"Mana ini dokternya?" teriak Gilang
"Masih nunggu katanya," sahut mama
Gilang menggenggam erat tangan istrinya, Nindi yang sudah nggak kuat pun mengejan, dan suster yang tau melarang Nindi untuk mengejan.
"Jangan mengejan dulu Bu," kata Suster
"Nggak boleh gimana, la istri saya mau mengejan," maki Gilang
"Pak nggak boleh sembarang mengejan sebelum jalan bayi buka semua," kata Suster.
"Kenapa begitu?" tanya Gilang
"Satu, bisa membuat robekan serviks, dan kedua bisa membuat bayi stres pak," jawab suster
Gilang yang nggak begitu paham hanya mengangguk, dan menggenggam tangan Nindi.
Tak berselang lama dokter datang, mama diminta keluar karena tidak boleh banyak orang yang menunggui melahirkan.
Kini setelah jalan bayi sudah membuka semua, Dokter meminta Nindi untuk mengejan.
"Ayi terus sayang," kata Gilang dengan memegang kuat tangan Nindi
"Sakit mas, coba kamu yang gantikan aku," sahut Nindi dengan terus mengejan
"Iya ini ada aku di sini," kata Gilang
"Ada di sini saja tapi nggak merasakan apa yang aku rasakan kamu mas," sahut Nindi
"Ikut kok sayang, la ini rambutku kamu tarik-tarik," ucap Gilang yang mencoba menahan sakit.
Dokter dan suster tertawa mendengar ocehan Gilang dan Nindi
"Mas sakitnya nggak ada apa-apanya dengan rasa sakit yang aku rasakan," ucap Nindi
"Iya sayang, tapi rasanya kepalaku panas-panas gimana dan tu lihat rontok semua," sahut Gilang
__ADS_1
Tak berselang lama tangis bayi pun terdengar Nindi sangat bahagia kini dia telah menjadi ibu, begitu pula dengan Gilang.
Dokter meminta Nindi bersiap lagi untuk kelahiran anak keduanya.
"Tarik nafas Bu, lalu buang," kata Dokter
"Ayo mulai mengejan," imbuhnya
Nindi kini mulai mengejan, tidak seperti tadi kini beberapa kali mengejan anaknya sudah keluar.
Dokter dan suster membersihkan bayi-bayi Gilang dan Nindi, kemudian mereka membersihkan Nindi dari sisa-sisa darah.
Kini Nindi sudah di pindahkan ke ruang perawatan,
"Ini pak, mereka sehat, cantik dan tampan," kata perawat
Gilang menggendong anaknya, dan yang satunya mama Gilang yang menggendongnya.
"Cantik sekali Gilang," kata mama dengan menciumi cucunya.
"Iya ma," sahut Gilang
Gilang mengadzani satu persatu anaknya, dia memberikan nama Angela dan Angelo.
"Nama yang indah mas," kata Nindi.
Lengkap sudah kebahagian Nindi dan Gilang setelah lama menunggu hadirnya sang buah hati kini mereka hadir juga dan memberi warna dalam hidup mereka.
Di sisi lain Celo dan Alex datang ke rumah orang tua mereka. Celo dan Indira sudah resmi menikah secara agama dan negara.
Celo dan Indira juga sudah pindah ke rumah impian Indira yaitu rumah elite di kawasan pondok indah.
"Kalian nggak bekerja?" tanya mama
"Nggak ma, Alex kurang enak badan, sudah beberapa hari ini Alex merasa gimana gitu," kata Alex
"Iya betul ma, keinginannya Lo aneh-aneh. Sampai heran Nita," sahut Nita
"Kenapa ya Alex?" tanya Mama dengan tersenyum.
"Entah ma," sahut Alex
"Kalau kamu Celo?" tanya mama
"Celo enggan ma pergi ke kantor, Celo juga merasa nggak enak badan. Pagi ini tadi tiba-tiba Celo mual," jawab Celo
"Coba nanti aku kerik mas," kata Indira
"Eh apaan tu kerik?" tanya Celo
"Punggung kamu aku kerik dengan uang," jawab Indira
"Aku tu udah sakit, kalau kamu kerik dengan uang yang ada aku itu tambah sakit," sahut Celo
"Sudah, sudah lebih baik kalian pergi ke rumah sakit untuk periksa," saran mama
__ADS_1
Celo dan Alex tertawa mendengar pesan mamanya, "Ma ma kami hanya sakit ringan nggak perlu ke rumah sakit," sahut Alex
"Siapa yang menyuruh kalian, mama hanya ingin kalian mengantar para istri kalian untuk periksa ke dokter kandungan.
Semua netra mereka menatap mama, bingung kenapa mama menyuruh Nita dan Indira pergi ke rumah sakit.
"Memangnya kenapa harus ke dokter kandungan ma, seperti mereka hamil saja," ucap Celo dengan tertawa
"Memang mereka hamil," sahut mama
Lagi-lagi mereka berempat melemparkan tatapannya kepada mama mereka
"Benarkah ma?" tanya Celo dan Alex
"Cek saja," jawab Mama lalu beranjak dari tempat duduknya.
Celo dan Alex segera pergi ke rumah sakit guna memeriksakan para istri.
"Gimana dok?" tanya Celo
"Istri anda positif hamil pak," jawab Dokter
Celo yang sangat senang segera memeluk istrinya hal ini juga berlaku untuk Alex, dia juga sangat bahagia akan kehamilan Istrinya.
"Astaga di usia aku yang akan menginjak kepala tiga, aku sudah memiliki tiga anak," kata Alex
"Iya mas," sahut Nita.
Setelah membayar biaya periksa dan menebus obat mereka memutuskan pulang lagi ke rumah mama dan papanya.
"Ma ma," teriak Celo dan Alex barengan.
"Gimana? positif kan," tebak mama
"Iya ma," sahut Alex
"Bertambah lagi cucu mama," timpal mama
"Mama kok tau, seperti dukun saja," ledek Celo
"Iya ma, lumayan tu kalau buka praktek dukun pasti laku dan mama jadi Viral," sahut Alex dengan tertawa.
"Dasar anak durhaka, masak mamanya suruh jadi dukun," omel mama
Celo dan Alex lalu memeluk mamanya.
"Hehe becanda ma, mama mungkin kami membiarkan mama tercinta kami jadi dukun," kata Celo dan Alex.
Tak berapa lama kemudian papa keluar dengan memberi kabar kalau Nindi telah melahirkan anak kembar cewek dan cowok.
"Nambah lagi cucunya," kata mama
"Iya," sahut papa
Mendengar Gilang memiliki anak membaut Papa senang, bagaimana pun juga Gilang adalah anak kandungnya berbeda dengan Alex dan Celo yang hanya anak tiri namun papa Admadja sangat menyayangi anak-anak tirinya, kedua anak tirinya bisa seperti saat ini juga karena dirinya.
__ADS_1
Oleh karena itu Alex maupun Celo juga menyayangi papa Admadja seperti papa kandung mereka sendiri.
"Besok kalau mereka sudah di rumah kita jenguk, untuk saat ini biarkan papa kalian yang menjenguk cucunya, sebaiknya kita memberi waktu mama Gilang dan papa bersama," kata Mama dengan tersenyum.