
”Kamu harus terus latihan Lo sayang, biar cepat pulih," kata Gilang saat membawa Nindi ke kamar.
Karena Nindi masih menggunakan kursi roda, sebelum pulang Gilang menyuruh art untuk memindahkan kamar mereka ke bawah karena nggak mungkin mereka memakai kamar atas.
Setelah mereka berdua Nindi tidak mau dipegang Gilang, bahkan dia turun ke tempat tidur sendiri.
"Ada apa lagi sayang?" tanya Gilang heran dengan sikap Nindi.
"Nggak ada apa-apa, aku hanya ingin kita nampak baik-baik saja di depan mama," jawab Nindi.
Gilang nampak frustasi saat mendengar jawaban Nindi, dia tidak menyangka kalau Nindi berpura-pura di depan mamanya, akting Nindi sungguh hebat bahkan Gilang tidak tau kalau semua hanya akting.
"Hebat kamu Nin, seharusnya kamu mendapatkan piala Oscar atas aktingmu yang bagus," kata Gilang dengan kecewa.
"Kamu juga lebih jago dari aku kan, selama berbulan-bulan kamu menyembunyikan kenyataan bahwa kamu adalah pembunuh ayahku," sahut Nindi
"Aku tidak membunuhnya, aku tidak sengaja menabrak ayah, karena ayah juga salah kenapa langsung nyelonong saja waktu itu," timpal Gilang.
"Sama aja, kamu tetap yang membunuhnya," kata Nindi dengan menangis.
Gilang dan Nindi saling diam kini, mereka berdua kalut dengan perasaan masing-masing.
Hingga bersamaan datanglah mama yang langsung masuk karena pintu terbuka sedikit.
"Nindi Gilang," kata mama yang bergegas mendekati Nindi karena menantunya menangis.
"Kamu kenapa Nin?" tanya mama
Nindi hanya diam sambil melirik Gilang, begitu pula dengan Gilang yang melemparkan tatapannya ke Nindi.
"Gilang nyakitin kamu lagi ya?" tanya mama lagi
"Iya ma," jawab Nindi dengan menangis.
Mama melemparkan tatapan mautnya pada Gilang, "Kamu kenapa sih Gilang, kenapa jahat sekali, Nindi kan masih sakit kenapa kamu masih saja nyakitin dia," omel mama
"Bukannya jahat ma, Gilang cuma nggak mau Nindi capek. Dia meminta Gilang untuk membawanya ke taman, tentu Gilang nggak mau dong mengingat kita baru saja pulang dari rumah sakit," jelas Gilang.
Mama menghela nafas melihat Nindi sedangkan Nindi melirik Gilang.
"Kalau mau ke taman besok pagi saja ya, sekarang minum obat dan istirahat," kata mama.
Gilang segera menyiapkan obat Nindi, dia juga yang membantu Nindi minum obat setelahnya dia memeluk Nindi dan meminta maaf, lalu dia menidurkan istriya tersebut.
"Tidurlah," ucap Gilang lalu mengecup kening Nindi.
Mau nggak mau Nindi menurut dengan mengangguk.
Gilang sungguh pintar memanfaatkan momentum, dia menjadi saat ada mamanya, sedangkan Nindi dibuat mati kutu.
__ADS_1
Mama dan Gilang meninggalkan Nindi istirahat.
"Bilang aku pantas mendapatkan piala Oscar namun kelihatannya dia sekarang yang menyusul jejakku bahkan aneka piala dia borong karena pintar sekali akting," gerutu Nindi
Tiba-tiba Nindi ingin ke kamar mandi, dengan sudah payah akhirnya dia bisa naik ke kursi roda, kemudian dia menuju kamar mandi dengan hanya sekali pencet.
Saat hendak melepas celananya Nindi sedikit kesusahan, bahkan hampir jatuh untung Gilang segera memegangi tubuh Nindi.
Sejenak mereka saling pandang, kemudaian Gilang segera mendudukkan Nindi ke kursi rodanya dan membantu Nindi memakai celana.
Melihat area sensitif Nindi membuat Gilang berhasrat apalagi lama sekali dia tidak menjamah istrinya.
"Kenapa nggak manggil aku sih," protes Gilang
"Nggak usah, aku bisa sendiri," sahut Nindi
"Akhirnya akan jatuh kan?" ucap Gilang kesal dengan sikap keras kepala Nindi.
"Nindi memencet tombol di kursi rodanya dan berlalu meninggalkan Gilang yang masih di kamar mandi.
Gilang nampak tersenyum licik, mungkin sedikit memanfaatkan mamanya Gilang bisa memperbaiki semuanya dengan Nindi.
Sore ini Mama datang ke kamar Gilang dan Nindi untuk mengantar susu.
"Sudah mandi Nin?" tanya Mama
"Kenapa nggak bareng saja sih Nin? memangnya kamu bisa mandi sendiri," ucap mama.
"Iya sayang, kalau begitu kita mandi bersama saja," sahut Gilang dengan tersenyum licik.
"Nggak usah mas, nanti aku malah merepotkan kamu," timpal Nindi
"Dengan senang hati aku akan membantu kamu mandi sayang," ucap Gilang.
Mama kemudian menyuruh Gilang untuk mandi mengingat hari sudah sore.
Gilang segera menggendong Nindi ala bridal dan segera membawanya ke kamar mandi.
Gilang meletakkan tubuh Nindi dalam bathub.
"Sudah, keluarlah," kata Nindi
"Mana boleh begitu, aku akan membantu kamu mandi," sahut Gilang bersikeras. Namun Nindi menolak bantuan Gilang dan itu membuat Gilang kecewa.
Dengan kecewa Gilang keluar kamar mandi, dia mengusap rambutnya dengan kasar, dia mondar-mandir memikirkan bagaimana cara supaya Nindi mau mandi dengannya.
Akhirnya Gilang sengaja memadamkan lampu kamar mandi dan kamarnya sehingga membuat Nindi yang sedang mandi di dalam berteriak memanggil Gilang.
"Mas Gilaaaaang," teriaknya.
__ADS_1
Gilang segera datang ke kamar mandi, dan pura-pura bertanya.
"Ada apa sayang?" tanya Gilang
"Kenapa lampunya mati?" tanya nya
"Entahlah, lampu kamar juga mati," jawab Gilang sambil menaikkan kedua pundaknya.
"Ya sudah aku cek dulu," kata Gilang
"Aku takut," sahut Nindi
Gilang pura-pura menghela nafas, kemudian dia melepas pakaiannya, akhirnya mereka mandi dengan penerangan ponsel Gilang.
Gilang membantu Nindi menggosok tubuhnya, tangan nakal Gilang meremas pengunungan kembar Nindi.
"Kondisikan tangannya," ucap Nindi kesal
"Maaf, daya magnet kedua gunungnya sangat kuat sayang, sehingga membuat tanganku selalu tertarik kesana," sahut Gilang dengan terkekeh.
Akhirnya Nindi mengusap tubuhnya sendiri dengan sabun. Namun karena dia tidak bisa menggerakkan kakinya sehingga Gilang kini yang membantu menggosok bagian kaki.
Tangan Gilang terus saja naik ke atas, dan dia menggosok bagian sensitif Nindi.
"Mau kamu apa sih mas?" tanya Nindi dengan kesal
"Nggak apa-apa sayang, aku rindu saja karena sudah lama tidak menjenguknya," jawab Gilang
Nindi tidak menanggapi kata-kata Gilang, beberapa saat kemudian mereka sudah selesai mandi, Gilang memakaikan handuk dan menggendong Nindi membawanya keluar kamar mandi.
"Bentar aku nyalakan lampunya dulu siapa tu udah nyala," kata Gilang dengan manahan tawa.
"Alhamdulilah," ucap Gilang pura-pura senang karena lampu sudah menyala.
Nindi nampak curiga kepada Gilang, "Mas ini bukan akal-akalan kamu kan?" tanyanya dengan penuh penekanan.
"Kamu tega banget nuduh aku sih sayang," jawab Gilang pura-pura sedih padahal di hatinya dia menahan tawa.
Melihat Gilang sedih membuat Nindi tidak melanjutkan aksi curiganya.
Kemudian dia meminta Gilang untuk mengambilkannya baju, Gilang nampak tersenyum sedikit demi sedikit Nindi mulai menyuruhnya dan ini bearti sebuah kemajuan.
Gilang membantu Nindi memakaikan baju, dia sungguh tak tahan melihat area sensitif istrinya.
"Astagfirullah, suami macam apa aku ini istriku dengan sakit aku malah menginginkannya," gumam Gilang yang lagi-lagi hanya bisa menelan saliva dan membiarkan tongkatnya berdiri tegak yang menyembur keluar dari handuk kimono nya.
Nindi yang memperhatikan Gilang menahan tawa
"Sukurin mang enak berdiri tapi lawannya gak mau" batin Nindi.
__ADS_1