
Pulang dari panti asuhan Al-Hikmah. Alma tiada menghilangkan senyuman. Bahagia, dan semakin terlihat berseri-seri. Jafar bahkan sampai terpesona, karena senyuman sang istri biasanya tidak akan bertahan selama ini. Dilara pun belum pulang masih bermain-main dengan Kirana dan Inayah. Mungkin, menghabiskan waktu berdua bersama tidak apa-apa, kan?
"Mas, kenapa diam aja?"
Jafar menggeleng dengan tersenyum.
"Sini tangan kamu." Alma mengambil tangan Jafar dan menggenggamnya. "Pinjem. Saya mau cerita sambil pegang tangan kamu."
Jarang-jarang dia mau bercerita, batin Jafar.
"Kalau flashback ke dulu-dulu saya suka mikir, Mas. Kalau kamu ini ... jahat. Ya gimana, ya? Pertemuan pertama kita emang fine-fine aja. Baru untuk yang kedua kalinya, kamu bener-bener kelihatan ... sedikit ka ... sar." Netra Alma melebar dan menggeleng. "Saya nggak bilang kamu kasar yang gimana-gimana. Enggak. Tapi cuma sedikit. Sedikit aja. Karena waktu itu saya bener-bener kaget, kamu tiba-tiba aja narik saya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi yang sepenuhnya salah memang saya."
Ingatan Alma kembali berputar. "Seharusnya saat itu saya bisa nolak secara baik-baik tanpa menghina kamu. Bahkan jatuhnya saya juga jadi jahat."
Jafar mengangguk.
"Saya bener-bener kelihatan jahat?"
Jafar mengambil gawainya dan mengetik. "Bukan jahat. Hanya lisanmu saja yang terlalu menyakiti orang lain, Alma."
"Saya juga ngerasa gitu," lirih Alma.
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Itu sudah menjadi bagian dari masa lalu kita," tulis Jafar.
Alma mengangguk-angguk. Netranya mengedar memandangi setiap penjuru rumah, yang nampak sepi. Karena Ummi Salamah pun sepertinya belum juga pulang dari rumah Kiai Bashir. Momentum seperti ini sangat jarang terjadi, tetapi saat terjadi Alma merasa bingung ingin melakukan apa bersama Jafar.
"Apa saya boleh mengeluarkan pendapat?" tulis Jafar.
"Bo-leh. Ada apa memangnya, Mas?"
Jafar mengetik dengan cukup lama. Namun Alma terlihat langsung membaca. "Jangan terlalu sering menitipkan Dilara pada orang lain. Bukan saya tidak mengizinkan, tetapi saya tidak mau Dilara lebih dekat dengan orang lain."
"Orang lain yang Mas maksud ini siapa? Kirana? Inayah? Abian? Sama anak-anak panti lainnya?" Alma melepas genggaman tangannya. "Padahal menurut saya mereka bukan orang lain, Mas. Mereka itu keluarga saya. Mas ini nggak lupa kan? Kalau perempuan yang Mas nikahi ini yatim piatu? Bahkan saya tinggal di panti asuhan."
"Saya tidak bermaksud seperti itu, Alma. Saya hanya memberitahumu saja. Karena anak kecil cenderung nyaman dengan salah satu orang. Saya hanya takut Dilara akan nyaman bersama Kirana atau mungkin Inayah." Terdapat jeda di sana. "Kamu tahu mereka sudah menginjak usia remaja, kan? Mereka sibuk bersekolah, belajar dan lain-lainnya."
"Saya tahu, Mas. Kalau pekara itu, saya nggak mungkin dong ngasih Dilara terus ke mereka?" Alma menatap Jafar. "Saya paham mereka udah besar. Dan mereka bukan perawat anak. Mereka cuma ajak main Dilara karena Dilara itu adik mereka, Mas."
Jafar mengangguk, dan menggenggam tangan sesekali mengusap-usap seolah meminta maaf.
__ADS_1
"Mama tadi Dilala lihat Kak Kilana nangis," ujar Dilara saat di suapi makan oleh Alma.
"Kenapa?"
Dilala menggeleng dan mengangkat kedua bahu. "Dilala enggak tahu. Tapi kayaknya betengkal sama emas Abian. Sampai emas Abian di pukul-pukul gitu, telus Kak Nay ajak aku pelgi bial enggak lihat lagi."
Bertengkar pekara apalagi mereka, batin Alma yang langsung menyuapkan nasi pada mulut Dilara lagi. "Nanti Mama tanyai deh. Biar Kak Kirana sama Mas Abian baikan."
"Okey." Dilara mengunyah makanan. Lalu mata polos itu kembali menatap Alma lagi dan berujar, "Emang olang-olang besar kalau betengkal, betengkalin apa, Ma? Dilala penasalan."
"Ekhmm ... banyak. Sama kayak Ayah Mama. Hampir sama juga kayak Dilara sama temen-temen Dilara," jelas Alma pelan.
Dilara terlihat berpikir dengan memasukkan sisa nasi dipinggiran bibirnya. "Kalena mainan juga bisa?"
"Bisa aja, Sayang."
"Ooh. Makanya itu ada minta maaf, ya Ma? Bial saling maaf enggak betengkal-betengkal lagi."
Alma mengangguk. "Iya. Kalau udah saling maaf berarti udah baikan nggak bertengkar lagi."
Terdengar suara mesin mobil berhenti. Dilara langsung turun dari sofa dan berlari tergesa-gesa ke depan teras. Jafar datang, suaminya itu memang libur. Tapi tadi ada masalah di outlet terdekat, jadi mau tidak mau ia harus datang untuk mengecek.
"Ayah! Ayah! Ayah!"
"Ayah! Ayah! Dilala mau cerita!"
Jafar menggerakan bibir. "Apa?"
"Tadi Dilala lihat Kak Kilana nangis." Mata bulat Dilara memandang Ayahnya serius. "Kayaknya betengkal sama emas Abian. Tapi nanti kata Mama bakal saling maaf-maaf lagi, Ayah. Itu benelan enggak?"
Jafar hanya mengangguk, pertanda setuju. Salah satu tangannya menyentuh pinggang Dilara, salah satunya lagi merogoh saku dan mengeluarkan gawai, lalu mengetik. "Bilang pada Dilara, nanti Ayah akan tanya ke Mas Abian, kenapa bisa sampai membuat Kak Kirana menangis? Dan kalau Mas Abian salah, Ayah akan memarahinya."
"Kata Ayah, nanti Ayah bakal tanya ke Mas Abian. Kalau Kak Kirana nangisnya gara-gara Mas Abian, nanti Ayah bakal nasihati Mas Abian biar minta maaf sama Kak Kirana," jelas Alma pada Dilara.
Dilara terdiam sejenak dengan duduk di pangkuan Jafar. "Gitu itu ... yang minta maaf halus laki-laki ya Ayah, Mama?"
"Enggak, Sayang. Yang salah yang harus minta maaf, terus juga kalau suatu saat ... misal Dilara bertengkar sama teman Dilara, terus Dilara sedih bersalah juga, Dilara nggak pa-pa buat minta maaf." Usapan lembut pada surai hitam Dilara berhenti. "Karena kata Ayah, saling memaafkan itu akan mengeratkan tali persaudaraan. Jadi, kalau bisa dibicarakan baik-baik nggak perlu sampai bertengkar, Sayang."
Dilara mengangguk-angguk. Entah mengerti ataupun tidak, Alma hanya ingin menjawab saja segala pertanyaan sang Anak.
"Ma, Dilala ngantuk."
__ADS_1
Alma mengambil alih Dilara dari pelukan Jafar. "Ya sudah. Ayo tidur, Sayang."
Dua hari berlalu. Setelah pulang dari klinik terapi Jafar berniat menghampiri Kedai Bersama. Namun pesan singkat sang istri mengurungkan niatnya. Alma mengirim pesan berisi, jangan datang ke mari, Mas. Saya sedang meeting. Saya takut Dilara mengganggu. Seketika membuatnya diam. Mengapa Alma terkesan menyatakan bahwa Dilara datang hanya untuk mengganggu? Padahal sebenarnya, Dilara hanya ingin bertemu dengan sang Ibu.
^^^Kapan kamu selesai?^^^
Alma
Nggak tahu, Mas.
Nanti saya kabari.
^^^Ya sudah.^^^
"Ayah! Jadi ke Mama?"
Jafar menggeleng. Jujur saja, ia sangat sulit untuk berkomunikasi dengan Dilara. Karena anaknya ini masih tidak bisa membaca apa yang ditulisnya. Sedangkan jika ia berbicara terbata-bata, apakah Dilara akan mengerti?
"Kenapah, Ayah? Mama esibuk enggak bisa di ganggu?"
Jafar mengangguk lagi. "Ma-ma si-buk."
"Oh esibuk." Wajah Dilara menampakkan raut kesedihan. "Padahal Dilala mau ke sanah. Mau lihat lihat tempat kelja Mama. Pelasan dulu Dilala seling di ajak ke sanah."
Jafar mengusap-usap lembut kepalanya anaknya. Ia mengambil dan menghela napas beberapa kali, lalu membuka mulut berusaha berbicara.
"Ema-u ma-in?"
Mata bulat itu nampak bingung mendengar suaranya. Apa suara Ayah aneh? Apa Dilara tidak tahu maksud Ayah? batin Jafar seolah-olah mengatakan semuanya.
"Ayah ajak Dilala main? Benelan?"
Jafar mengangguk.
Dilara yang tadinya cemberut berdiri menepi di dekat jendela mobil kini memeluk sang Ayah erat-erat. Bahkan saat melepas pelukan, Dilara menyentuh kedua pipi Jafar. "Ayah udah esembuh? Ayah bisa bicala kayak Dilala sama Mama."
"I-ya."
Senyuman Dilara semakin lebar. "Hore! Dilala seneng, Dilala bakal bisa bicala banyak-banyak sama Ayah! Dilala seneng banget."
__ADS_1
Ayah juga senang, Dilara. Ayah juga ingin berbicara banyak hal dengan kamu, Nak, batin Jafar.
[.]