
Kedua sudut bibir Jafar terangkat, dan tangannya kembali menulis. "Jika pada akhirnya saya tergoda. Apa kamu bersedia bertanggung jawab?"
Tangan Alma menarik buku catatan itu dan menutupnya. "U-udah udah. Kamu lanjut minum jusnya sana. Habisin, Mas. Saya belinya pakai uang hasil dari keringat kamu, jadi jangan sampai sisa."
Saat tangan Jafar terbuka---seperti hendak meminta buku catatan kembali.
"Apa?"
Jeda tiga detik Alma lagi berujar, "Kamu mau nulis lagi?"
Jafar mengangguk.
"Nanti dulu. Habisin dulu jusnya, Mas."
Sesuai dengan permintaan istrinya, Jafar meneguk habis jus alpukat, setelah ia meletakkan semua bekas makan di wastafel cuci piring, diurungkannya niat untuk mencuci, ia lebih memilih kembali duduk dan meminta buku catatan itu.
"Kamu mau nulis apa sih, Mas?"
Lihai tangan kanan Jafar menulis. "Cincin dan kalung yang kamu pakai sekarang juga saya beli mengunakan uang. Jadi tolong jaga baik-baik jangan sampai hilang."
Spontan Alma mengangguk dengan senyuman lebar. "Pasti. Saya bakal jaga baik-baik, kok."
"Kecuali kalau lepas terus tiba-tiba hilang sendiri. Ya ... ya gimana? Bukan kehendak saya."
Jafar tercengang dengan ucapan Alma. Bahkan ia menggeleng tak percaya. "Maka usahakanlah untuk tidak lepas dari jari dan lehermu sedetik pun, Alma," tulisnya.
"Iya-iya. Saya cuma becanda kok. Saya tahu cincin ini belinya pakai uang juga. Apalagi kalung ini ya ... ng jadi mahar pernikahan kita."
Jafar tak menggubris perkataan Alma, karena lagi-lagi ia merasa sepertinya perempuan---ah, bukan wanita di depannya ini mencoba mengodanya berkali-kali. Bukan menyebalkan, tapi sedikit membuat tak nyaman bagi Jafar, karena harus melihat senyum semanis itu dari bibir sang kekasih. Sedetik ia memandangi Alma, ia beranjak menuju wastafel untuk mencuci beberapa piring dan gelas kotor.
"Ka ... mu ngecek dua outlet aja butuh waktu banyak banget, mungkin tadi kisaran kamu berangkat jam setengah sebelas, dan sampainya di rumah bada ashar. Gimana setiap harinya kalau kamu ngecek semua outlet, ya?"
Alma nimbang-nimbang. "Apa kamu pulangnya ba'da isya terus, ya Mas?"
"Sebelum ... kamu nikah juga. Apa kamu sering ninggalin Ummi sendirian?"
Ditatapnya punggung dan juga kepala belakang Jafar, barang kali suaminya itu akan menjawab dengan gerakan menggeleng atau yang lainnya.
"Soalnya saya perhatikan selama ... lima hari saya tinggal di sini, saya lihat rumah ini sepi banget. Yang tinggal di sini cuma ... kamu berdua aja sama Um---maksud saya gini ya saya tahu kamu emang tinggal berdua sama Ummi, karena Abi udah nggak ada. Sa-saya cuma tanya, apa sebelum saya tinggal di sini kamu beneran cuma tinggal berdua aja sama Ummi?"
Setelah mengucapkan itu Alma menggeleng kuat, ia sebal mengapa bicaranya berbelit-belit sekali? Padahal inti dari pernyataan itu sudah ia ajukan dia awal. Bahkan suaminya pun tak beraksi.
Jafar terlihat mendekat, dan mengambil duduk di tepat di kursi samping Alma. Sepertinya Jafar hendak menulis, karena buku catatan telah dibukanya lagi.
"Eh? Tinta penanya habis? Bentar-bentar Mas, saya ambilin di kamar." Saat hendak berdiri, Jafar menahan pinggang Alma dengan satu tangan. "Ke-kenapa?"
"Duduk."
Gerakan bibir Jafar terbaca oleh Alma.
"Saya mau ambil pena dulu. Gimana kita mau ngobrol kalau tinta penanya habis? Atau saya ambilin handphone aja?"
Jafar menggeleng.
"Ada."
__ADS_1
Kening Alma mengerut, sentuhan tangannya pada tangan Jafar yang berada di pinggang mengendur. "Ada? Kamu bawa pena?"
Jafar mengangguk.
"Ya-ya udah a-ayo lanjut kita ngobrolnya."
Tangan Jafar terlepas dari pinggang Alma---dengan kembali lihai menulis, menjawab segala tanya istrinya. "Outlet di kota ini memang saya yang mengatur. Di kota lain Lutfan."
"Dan benar. Sebelum saya menikah, saya memang terkadang terlalu sering meninggalkan Ummi sendiri, karena outlet waktu itu belum bisa saya kerjakan secara online," lanjut Jafar dengan ada jeda di buku catatan itu.
"Terus kalau ... Ummi sendirian kamu nggak suruh orang gitu jagain Ummi?"
"Ada." Jafar menggerakkan bibir dan membalikan halaman lantas kembali menulis. "Mbok Isna saja. Beliau akan pulang sewaktu saya pulang. Karena saya benar-benar tidak ingin Ummi sendirian."
Alma tersenyum tipis membayangkan betapa dalamnya kasih sayang Jafar terhadap Ummi Salamah.
"Kamu sayang banget, ya sama Ummi?"
Mendengar itu spontan Jafar menatap Alma---dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan, anak mana yang tidak menyayangi Ibunya? Jafar menunduk, lanjut untuk menjawab. "Saya menyayangi semua keluarga saya, Alma."
Alma mengangguk kecil. "Iya. Tapi saya tahu, rasa sayang kamu itu condong kepada Ummi. Karena beliau adalah orang tuamu."
"Kamu berbelit. Sebenarnya kamu ingin mengatakan, apa saya lebih menyayangimu atau Ummi 'kan?"
Setelah membaca tulisan Jafar spontan Alma menggeleng kuat, netranya melebar, tangan kiri dan kanannya terangkat. "A-apa? E-enggak-enggak. Ke-kenapa kamu menyimpulkannya kayak gitu sih Mas?"
"Ma-na bisa saya tanya gitu."
Mana bisa juga saya saingan sama Ummi, beliau itu Ibumu, Mas.
"Baca."
Alma menggeleng.
"Baca."
Dengan terpaksa, Alma menunduk membaca apa yang Jafar tuliskan.
"Jika kamu bertanya kepada saya, tentu jawabannya saya lebih menyayangi Ummi, Alma."
Terdapat jeda di buku catatan itu."Tentu kamu tahu alasannya. Karena beliau adalah Ibu saya. Kelak jikalau kita memiliki anak, berilah pertanyaan antara sebesar apa rasa sayang dia terhadap kamu dan saya. Saya yakin jawabannya pun akan sama, dia akan lebih menyayangimu dibandingkan saya."
Alma mengangguk kecil. "Ta-tapi kan beda Mas ..."
Jafar mengambil alih buku catatan itu. "Atau kamu ingin memberi pertanyaan kepadanya kelak apa dia lebih menyayangimu atau istrinya. Begitu?"
"Enggak-enggak. Ngapain juga? Sa-saya tanya-tanya gitu?"
"Kamu adalah istri saya. Jika kamu bertanya, apakah saya menyayangimu? Tentu saya menyayangimu, Alma."
Membaca itu kedua pipi Alma tiba-tiba memanas. Netra Alma kembali fokus melihat tulisan apa yang akan Jafar lanjutkan.
"Seseorang pernah berkata, jangan pernah merebut kasih seorang anak pada Ibunya."
Alma mengangguk.
__ADS_1
Jafar membalik halaman buku catatan itu. "Apa kamu berniat seperti itu?"
"Astaghfirullah. Enggaklah Mas!"
Jafar tersenyum simpul dan kembali menulis. "Saya bercanda. Tentu kamu tidak akan seperti itu. Kamu terlihat sangat menyayangi Ummi."
Alma berdiri---mendorong kursi lebih mundur. "Udah, Mas. Kamu ini ... sekali becanda nggak lucu!"
"Saya mau ke ka ..." Tarikan spontanitas dari Jafar membuat Alma terduduk kembali, bukan di kursi. Melainkan di pangkuan suaminya. " ... mar."
Kedua tangan Jafar tiba-tiba menguncinya, jatuh terduduk yang menghadap samping sungguh menjadi keberuntungan untuk Alma. Karena ia bisa menghindari tatapan Jafar.
"Mas ... lepas."
Beberapa kali Alma mencoba menyingkirkan tangan Jafar. Namun gagal. Tangan itu tak bergerak sedikit pun.
"Mas jangan erat-erat. Sesak ini," keluh Alma.
Jafar tak menghiraukan ucapan istrinya. Tiba-tiba saja kebiasaannya kembali lagi, ia mendekatkan wajahnya pada leher samping Alma yang tertutup kerudung.
"Sa ... saya belum mandi Mas."
" ... jangan gini."
Alma waspada. Bahkan berusaha beberapa kali mendorong Jafar menjauh.
"Kamu nggak lupa kita lagi di dapur 'kan?"
Duduk Jafar kembali tegak dan menggeleng.
"Kalau nggak lupa. Ya udah. Tolong lepasin."
Jafar menggeleng.
"Harum."
Kening Alma mengerut, mencoba memahami arti dari gerakan bibir Jafar. "Harum? Apanya yang harum?"
Tangan kanan Jafar terangkat menyentuh lehernya.
"Leher? Leher kamu harum?"
Jafar hendak menggeleng. Namun kalah cepat oleh Alma yang telah mendekat mengendus-endus lehernya. sepuluh detik pun tak kunjung usai, sedangkan Jafar hanya terdiam membiarkan perilaku itu. Bahkan ia menengadah ke atas, memenjamkan netranya seakan sangat menikmati.
"Harum sih, Mas. Kayak biasanya. Parfum kamu biasanya gitu." ucap Alma dengan menjauh diri.
Netra Jafar terbuka, ia menggerakkan bibir. "Berdiri."
Lagi-lagi kening Alma mengerut mencoba membaca gerakan bibir Jafar. "Apa?"
"Berdiri."
Alma spontan berdiri. "I-iya-iya. Saya berdiri."
Tangan Jafar menulis lagi di buku catatan. Sedangkan Alma fokus menatap apa yang dituliskan oleh suaminya. "Saya bilang lehermu harum. Bukan leher saya, Alma."
__ADS_1