Almahyra

Almahyra
Part III POV Jafar


__ADS_3

Saya menyakitinya.


Bahkan bertindak seperti manusia yang tak berperasaan.


Sungguh kebohongan besar. Saat saya mengatakan bahwa saya menerima segala hal yang terjadi sampai saat ini. Bertahun-tahun pun telah berlalu, namun sulit sekali hati menerima takdir yang seharusnya terjadi.


Sakit.


Saya merasa tidak berguna.


Dan hanya menjadi beban untuk orang lain.


Saya bodoh, tidak bisa sedikit saja menahan emosi yang membara di depannya. Perempuan itu ... baru saja kehilangan, lantas dengan teganya saya memperlakukan dia dengan tidak baik. Apa dia akan memaafkan saya? Bahkan beberapa kali dia sudah berbicara bahwa tangannya kesakitan.


Namun apa?


Nyatanya saya menuli.


Kucuran air dingin dari shower tetap tidak bisa membuat pikiran saya membaik. Ingatan saya lagi-lagi berputar di mana dengan kasar saya menggenggam pergelangan tangannya. Jika saja Ummi melihat, detik itu juga satu tamparan keras akan mengenai pipi saya.


Empat puluh menit berlalu, saya ingin memutuskan untuk keluar meninggalkan kamar mandi. Namun saya sedikit ragu, saya tidak akan pernah sanggup menatap mata dia lagi. Apakah Alma sudah pergi dari kamar ini?


Saya membuka pintu kamar mandi perlahan, dan melihat keadaan sekeliling ruangan ini sepi. Namun saat baru saja keluar dua langkah, saya melihat di ranjang terbaring Alma sedang tidur membelakangi kamar mandi---yang mana tepatnya, membelakangi saya.


Terdengar suara pintu kamar terketuk. Sepertinya Alma pun tidak akan bangun, saya berjalan perlahan menuju ambang pintu dan membukanya.


"Jafar, istrimu mana?" tanya Ummi.


Saya membuka pintu kamar sedikit lebar---memperlihatkan Alma yang sedang terbaring.


"Tidur?"


Saya mengangguk.


Ummi hendak masuk dan mendekat, namun spontan saja saya menahan beliau.


"Kamu ngapain? Ummi mau masuk lihat Alma, kok dia kelihatan pucat gitu," ucap Ummi.

__ADS_1


Pucat?


A-apa saya benar-benar membuatnya takut?


Tanpa penahanan lagi, Ummi memasuki kamar---dengan sedikit menunduk beliau membelai sisi pipi kiri Alma. Lima belas detik dari yang saya hitung tiba-tiba saja Ummi berbalik, menatap saya dengan aneh.


"Kalian habis bertengkar?"


Pada akhirnya, tiada satu hal pun yang bisa saya sembunyikan dari Ummi. Bahkan mengenai pertengkaran yang saya mulai sendiri, karena emosi tak tertahan pun telah beliau ketahui.


"Ummi tanya, apa kamu nggak bisa jawab?"


Saya tetap diam.


"U-ummi, ada apa?"


Suara itu terdengar dari Alma. Dia terbangun, mungkin suara Ummi yang cukup nyaring sedikit menganggu waktu tidurnya.


"Kebetulan kamu bangun. Ummi mau tanya, apa kalian habis bertengkar?"


Dia berbohong ... Sungguh Alma, kamu tidak akan pernah bisa membohongi Ummi semudah itu. Beliau lebih mengetahui segalanya tentang saya dibanding kamu. Dan dengan mudah beliau akan tahu apa pun tentang saya tanpa diharuskan saya untuk berbicara.


"Terus kenapa pipi kamu ini basah? Ada sisa-sisa air mata juga? Kamu habis nangis kan? Lihat mata kamu juga," ucap Ummi.


Alma menunduk sejenak, terdengar dia menghela napas pelan dan mendongak kembali menatap Ummi lantas berujar, "Alma cuma kangen sama Bibi Maryam, Ummi."


Raut wajah Ummi kembali semula. Netra beliau pun menjadi teduh dan beberapa saat sendu, menatap Alma dengan kasihan. Saya katakan bahwa kamu hebat, masalah pertengkaran kita tidak akan pernah beliau ketahui.


Namun saya tahu, tangisanmu itu bukan sekadar saja merindukan Bibi Maryam, tetapi tangisan itu juga melambangkan rasa sakit atas perbuatan saya tadi.


"Nak ... jangan kayak gini. Nanti dada kamu sakit lagi, jangan meratapi, Bibimu pasti sedih lihat kamu nangis terus," ucap Ummi.


Dia terlihat menggeleng. "Alma cuma kangen Bibi bentar, Ummi. Insya Allah Alma nggak akan nangis lagi."


Ummi mencetak senyum tipis, seusia membelai pucuk kepala Alma, beliau kembali berucap, "Harusnya, kalau kamu mau tidur nggak perlu pakai kerudungnya, Nak. Itu pasti nggak nyaman, lagian di rumah ini yang laki-laki cuma Jafar, dan kalau di kamar pun kalian cuma berdua."


"Iya, Ummi."

__ADS_1


Hanya jawaban sesingkat itu yang dia berikan kepada Ummi. Sungguh saya tidak memaksa dia harus membuka penutup kepalanya saat kita hendak tidur satu ranjang. Semua sesuai dengan kenyamanan dia.


"Ya udah. Ummi keluar, kamu tidur lagi. Istirahat yang cukup. Jangan lupa kerudungnya dilepas biar tidurnya nyaman," ucap Ummi.


Seperdetik Ummi menutup pintu, sedetik itu juga dia membuka kerudungnya---surai hitam legam panjang miliknya langsung tergerai hingga pinggang. Dia ... terlihat mempesona. Tiba-tiba saja pandangan dia yang semula fokus menatapi kerudungnya beralih menatap saya, maka secepatnya saya memutuskan kontak mata sepihak.


Saya berjalan ke arah meja rias, meletakkan kembali, pena dan buku catatan ke dalam laci. Sungguh saya beruntung, karena Ummi tidak sempat melihat bekas pukulan saya yang menghancurkan pembatas dinding kayu itu.


Saat saya mendongak, menatap cermin, netra saya melebar. Dia ... berdiri di belakang saya. A-apa yang Alma lakukan? Saya menunduk sejenak, kemudian hendak berjalan menyamping supaya bisa menghindarinya. Namun ternyata tiba-tiba saja tangan lembut itu menyentuh lengan saya.


"Jafar ... sa-ya minta maaf," ucapnya lirih.


Saya yang salah.


Kenapa harus kamu yang meminta maaf, Alma? Tolong maafkan saya, saya menjadi orang yang sangat buruk karena telah memperlakukan kamu dengan sekasar itu.


Sentuhan tangannya menjalar turun ke arah punggung tangan milik saya---yang mana tadi saya gunakan untuk memukul pembatas kayu. Dan dengan sedikit menunduk, dia menatapi luka yang terlihat seperti goresan di jari-jari tangan saya--- lantas mengusapnya perlahan.


"Saya obati, ya?" tanyanya dengan lirih.


Dia menuntut saya mundur untuk duduk di kursi meja rias, kemudian membuka laci kedua mengambil P3K di sana. Dan dengan perlahan-lahan dia memberi betadine pada luka-luka gores di punggung tangan saya, disusul sela-sela jari, setelahnya dia mengambil perban, lantas menutup luka dengan memutar rapi.


Dan selesai. Luka itu telah tertutup.


"Sedikit pun, saya nggak merasa malu. Sa-saya cuma belum bisa membaca situasi dengan cepat, Jafar. Saya ... saya nggak tahu kalau ternyata Bapak itu ... nggak tahu tentang keadaan kamu yang sekarang," ucapnya dengan terbata-bata.


Saya yang salah Alma, karena tidak bisa menerima diri saya sendiri. Bahkan mengacuhkan segala hal tentang orang lain, dan terburu-buru menyalah pahami dirimu.


Tolong ... maafkan saya.


Note:


• Jangan lupa, kalau yang satunya api, yang satunya lagi harus air. Dan dalam rumah tangga (dari yang saya dengar) nggak harus yang salah yang minta maaf, semua masalah bisa terselesaikan kalau-kalau salah satunya bisa menjadi penenang.


Be-benerkan?


• Akan saya kasih POV Jafar di saat-saat tertentu, yang benar-benar dibutuhkan. Selanjutnya Bagian 23~

__ADS_1


__ADS_2