
Seperti permintaan Rais tadi. Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, anak itu menghampiri Jafar yang tengah mengurus pembukuan dari Kedai Amanah.
"Sudah?" tanya Jafar pelan, dengan menatap tanpa ekspresi. Hingga sang anak angkat itu menunduk.
"Sudah, Ayah," jawab Rais pelan.
Jafar menutup laptop. "Sini."
Rais mendongak. Ia bingung, yang di maksud 'sini' oleh Ayahnya itu di mana? Di sisi kiri Ayah ada kertas-kertas, di sisi kanan sedikit sempit. Sebenarnya kalau ia duduk pun masih cukup. Tapi apa, tidak pa-pa oleh Ayah? Rais takut di marahi.
"Kamu dengar Ayah bilang apa?" ulang Jafar.
"Dengar, Ayah."
"Kalau begitu sini," titah Jafar.
Dengan masih menunduk Rais berjalan mendekati Ayahnya. Lalu saat sampai di dekat Jafar dan sofa, ia mendongak. "Aku boleh duduk di sini, Ayah?"
"Boleh."
Rais duduk.
"Kepalamu sakit?"
"Enggak, Ayah."
"Terus kenapa menunduk?"
Rais mendongak cepat dan duduk dengan tegak. "Enggak kenapa-napa, Ayah."
__ADS_1
"Jadi belajarnya?"
Rais mengangguk-angguk. "Jadi, Ayah."
"Bukunya?"
"O-oh iya." Rais bangkit lagi dari sofa. "Aku lupa Ayah. Aku minta maaf. Tolong tunggu sebentar."
Jafar hanya menatap.
Siapa yang pernah menyangka bahwa Alma akan menjadi seorang Ibu dari dua anak. Perempuan dan laki-laki, yang bernama Dilara dan Rais. Sebagai wanita sudah menjadi kewajibannya untuk membesarkan seorang anak. Entah anak kandung, entah anak angkat, ia menjadi Ummi Salamah panutan. Supaya Rais tidak merasa di beda-bedakan ia menyayangi anak itu setara dengan Dilara. Syukurnya pun, anak perempuannya juga begitu menyayangi sang adik.
Jadi ia tidak perlu repot-repot membujuk Dilara ini dan itu, supaya tidak bertengkar dengan adiknya. Tetapi ... Alma sadar akan sikap Jafar. Suaminya itu bilang menyukai Rais, bersedia pula membesarkan Rais. Namun sikap Jafar yang hanya berbicara singkat dan tanpa tersenyum pada Rais. Sungguh akan membuat anak angkatnya itu merasa rendah.
Alma tidak ingin Rais menganggap Jafar tidak sayang. Alma juga tidak ingin Rais merasa bahwa ia bukan lah anak kandung. Bahkan tadi Dilara bilang kalau sang adik bercerita tentang foto yang tidak di miliki Rais oleh Jafar, suaminya.
Alma menengok cepat. "Apa, Sayang?"
"Rais kok belum datang, ya Ma?" Dilara celingak-celinguk. "Aku udah nungguin hampir sepuluh menit. Kata Mas Mas santri tadi adek udah selesai bantuin bersih-bersih kamar mandi Masjid. Tapi sampai sekarang kok nggak kelihatan?"
"Memang Dilara ada janji sama Rais?"
Dilara menggeleng. "Enggak, sih. Tapi biasanya kan enggak perlu janji-janji gitu, Ma. Adek pasti bakalan dateng buat lihat aku di dapur. Pokoknya juga ... kalau aku di mana-mana adek pasti muncul."
"Kalau mau main. Mending Dilara main di luar aja, Sayang. Dapur ini tempatnya repot. Kita kan lagi masak besar buat acara Jum'at bersama," jelas Alma.
"Aku enggak niat main, Ma." Dilara menatap kerupuk yang baru di tiriskan itu. "Aku cuma nunggu adek lihat aku aja."
__ADS_1
"Siapa tahu Rais lagi di suruh Ayah? Jadi lebih baik Dilara fokus bantuin Mama sama Mbak Mbak. Tapi kalau capek Dilara bisa pulang," ucap Alma.
"Aku enggak capek. Aku bantuin Mama aja."
"Adek!"
Rais yang hendak masuk ke rumah menoleh langsung saat mendengar suara sang Kakak. "Mbak?"
"Kamu Mbak cariin!" Dilara mengerucutkan bibir. "Kamu dari mana aja, tadi?"
"Aku dari mana-mana, Mbak. Tadi bersih-bersih kamar mandi Masjid, terus itu ... tadi aku juga belajar sebentar sama Ayah, terus lagi ... aku habis selesai sholat ini," jelas Rais.
"Yaudah!"
Dilara melenggang pergi. Karena masih marah dengan Rais. Alasannya pun tidak jelas, hanya karena Rais tidak melihatnya di dapur, ia marah-marah.
"Mbak, marah?" tanya Rais yang menyusul kakaknya duduk di sofa. "Aku minta maaf udah nggak ajak Mbak main."
"Emang siapa yang mau main sama adek? Mbak aja lagi males lihat adek," ketus Dilara. "Sana jangan deket-deket Mbak."
Rais terdiam sejenak. Tidak lama matanya berkaca-kaca. "Aku ... mi-minta maaf, Mbak."
"Adek!" Dilara tiba-tiba mendekat pada Rais, salah satu tangannya menyentuh punggung Rais. "Kok kamu nangis sih?! Udah, jangan nangis gitu. Nanti kalau Mama tanya-tanya aku bingung jawab apa."
"A-aku minta maaf." ulang Rais lagi dengan saling menatap. "Aku nggak mau Mbak marah ... nanti aku nggak ada teman buat main lagi kalau Mbak marah. Aku ... aku juga takut di marahin Ayah, kalau sam-pai buat Mbak marah."
"Iya-iya udah. Mbak nggak bakalan marah. Sekarang diam, nanti Mama dengar aku bakal di marahin," bujuk Dilara.
__ADS_1
Dan Rais setuju untuk diam dengan mengangguk-angguk. Bocah itu mengusap air mata di pipi. "Iya aku berhenti nangis. Aku nggak mau Mbak di marahin Mama."