
Orang ini ... mentang-mentang anak Juragan Antasena. Dia pikir bisa semena-mena? batin Rais yang menatap tajam Baswara.
"Orang kalau udah buat salah biasanya tobat. Lah anda? Ndak mikir dosa, toh? Atau kurang kesadaran diri?" Rais berucap dengan pelan.
Baswara menghamburkan tawa. "Ndak usah bicara salah dan dosa, Le. Kamu sendiri sadar ndak kalau lahirmu saja itu dosa, bahkan di anggap salah sama kedua orangtuamu."
Rais langsung membisu.
Ia baru mengetahui fakta bahwa dirinya anak angkat di malam hari. Sakit memang rasanya. Tetapi entah mengapa ia merasa lega. Maksudnya, ia akan bisa leluasa menjaga Dilara, dengan hubungan yang lebih dari sekadar adik dan kakak.
"Kaget toh? Baru tahu?" ulang Baswara. "Kalau mau adu semenjijikan apa aku dan kamu. Jelas kamu yang lebih banyak lumuran dosa, Le. Kalau bukan karena Gus Jafar mungkin kamu bakal jadi bagian dari anak panti asuhan yang---"
"Rais, masuk!"
Perintah dari dalam itu membuat Baswara terdiam. Sedangkan Rais langsung menoleh. Suara milik Dilara yang memintanya masuk.
"Mbak bilang, masuk Rais!"
Rais menatap Baswara sejenak. "Pulang, Mas. Ndak usah ganggu mbak saya lagi."
__ADS_1
Jafar baru saja sampai di Kedai Amanah. Matanya menatap serius saat melihat cctv ruang tamu, di mana Dilara dan Rais duduk berjarak sofa dengan sofa. Keduanya nampak diam. Rais menatap lurus. Sedangkan Dilara menunduk dalam.
Ada apa dengan mereka? batin Jafar.
Tangannya mulai bergerak mengganti-ganti bagian cctv lain yang belum di lihatnya. Hingga kini ia mendapatkan cctv di bagian teras depan rumah. Bapak Budi masuk, dan tidak lama Dilara keluar. Ternyata di luar ada seseorang laki-laki, saat Jafar tamatkan ternyata adalah Baswara---orang-orang menyebutnya Juragan muda, penerus Juragan Antasena.
Untuk apa dia datang ke rumah? batin Jafar, lagi.
Cctv teras tidak ada semacam speaker. Ia hanya menyiapkan di dalam rumah saja. Jafar melihat dengan jelas bahwa Dilara berbicara dengan Baswara. Selang beberapa menit Rais datang dan Dilara memasuki kamar.
Jafar mengganti fokus pada cctv ruang tamu, saat melihat pergerakan Dilara. Untung saja, ia telah menyiapkan cctv yang dilengkapi oleh speaker. Hingga telinganya dapat mendengar percakapan kedua anaknya.
"Kamu bohongin aku, Rais? Kamu bilang ndak terjadi apa-apa. Nyatanya orang gila itu datang ke rumah. Dia berani ancam-ancam aku," ujar Dilara.
Rais menengok. "Maaf, Mbak."
"Mbak ndak butuh maafmu. Kita bukan saudara kandung. Jadi ndak usah kamu lindungin aku seakan-akan kamu takut Mbakmu ini celaka." Dilara menjeda, putrinya itu terlihat mencengkram pinggiran sofa. "Ini terakhir kalinya aku bicara sama kamu. Seterusnya kamu ndak usah ada urusan lagi sama aku!"
__ADS_1
"Saya minta maaf---"
"Ndak usah bicara sama aku lagi! Dan juga ..." Dilara bangkit dari duduknya, putrinya itu sempat membisu beberapa saat. "Pergi dari rumah ini. Ayah bilang keluargamu itu orang berada. Hidup di lingkungan perkampungan ndak enak, kan? Jadi lebih baik kamu pergi, dan ndak usah kembali ke rumah ini selamanya!"
Rais terlihat mematung, hanya menatap ke pergi Dilara yang memasuki kamarnya kembali.
"Kenapa bisa mereka berdua bertengkar sampai sebegitunya?" gumam Jafar, lagi.
Selang beberapa detik berlalu. Terdengar suara ketukan pintu. "Mas Jafar, ada yang cari," ujar seseorang di luar pintu.
Jafar menutup laptopnya. Lalu memerintahkan stafnya masuk dan bertanya, "Siapa?"
"Kurang tahu, Mas. Tapi orangnya bilang kenal sama Mas Jafar." Staf itu menjeda. "Saya suruh masuk atau Mas nyambut tamunya di luar?"
"Saya saja yang keluar."
Note: Jadi Bapaknya Baswara yang bisa di kenal dengan nama Juragan Antasena ini, kayak semacam bangsawan jawa atau keluarga ningrat gitu. Kalau kalian tanya kaya yang mereka kaya, ada marganya juga tapi saya belum mikirin marga. Dan informasi lagi, Rais, Dilara, dan Baswara ini sekolah di desa. Jadi bukan di kota, kayak Lutfan dan Jafar dulu.
__ADS_1