Almahyra

Almahyra
Bagian 39


__ADS_3

"Terima kasih telah memahami istri saya."


Terdapat jeda di sana. Jafar menulis lagi dibawahnya. "Dan untukmu Azizah. Saya percaya bahwa akan segera ada laki-laki baik yang menjadikanmu istrinya."


Kedua sudut bibir Azizah terangkat, tangan kirinya pun mengusap pipi perlahan. "Terima kasih, Gus Jafar."


"D-dan Mbak Alma, sa-saya minta maaf, karena---"


Alma menggeleng. "Kamu cuma berusaha untuk membahagiakan orang tuamu, Azizah. Saya memahami itu."


Terlihat Mardiyah tersenyum, begitu pula dengan Lutfan yang tiba-tiba berujar, "Ustadz, kalau ada apa-apa, dan membutuhkan bantuan dari kita berdua Insya Allah kita akan berusaha membantu. Ustadz adalah sahabat Abi dan Paman, kebaikan yang Ustadz berikan kepada kita tidak akan pernah kita lupakan."


Pandang Lutfan beralih kepada Azizah. "Azizah, saya minta maaf atas ucapan saya yang keterlaluan tadi. Dan ... berbakti kepada orang tua nggak harus dengan menikahi orang yang sama sekali nggak kamu inginkan."


"Lebih-lebih ternyata orang itu, sudah menikah sekarang," lanjut Lutfan.


Azizah mengangguk.


"Saya dan Mas Jafar serta keluarga besar Al-Hikmah, akan menunggu kabar baik tentang pernikahanmu, Azizah."


Setelah mengucapkan itu kepada Azizah, Lutfan menyeduh teh dan camilan yang disajikan---di susul juga oleh Alma, Mardiyah serta Jafar. Beberapa menit berlalu Lutfan memutuskan untuk berpamitan, saat mereka semua hendak pergi ditahan oleh Bibi Hasna sejenak, karena ingin memberi sedikit bingkisan untuk Ummi Salamah dan Umma Sarah.


"Kalau begitu, kami pamit Ustadz, Bibi, Azizah. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Mobil daihatsu hitam yang dikendarai oleh Lutfan meninggalkan pelataran kediaman Ustaz Hasan. Kali ini duduk Jafar berdampingan dengan Alma, sedangkan Mardiyah di depan, seolah-olah Lutfan tahu bahwa Kakak sepupunya perlu berbicara dengan Alma.


"Mas, langsung ku antar ke pesantren, ya?"


"Iya," jawab Alma yang mana mewakili suaminya.


Terlihat Jafar sedang fokus mengetik, dan beberapa detik berlalu menggeser tubuhnya untuk lebih dekat pada Alma, lalu memiringkan gawainya.


"Kamu baik-baik saja?"


Alma mengangguk---mengambil alih gawai Jafar, dan mengetik di sana. "Kenapa kamu bertanya seolah-olah saya ini baru saja melewati tekanan yang berat?"


Gawai telah kembali di tangan Jafar, belum lagi tiba-tiba Alma menampilkan tawa yang tidak disukainya. Ia bertanya dengan serius. Tangan kanan Jafar mengetik secepatnya. "Jangan tertawa. Saya benar-benar khawatir. Saya takut kamu merasa sakit atas ucapan Bibi Hasna."


"Beliau nggak ngapa-ngapain, Mas. Kalau pun emang beliau secara nggak sengaja mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Itu juga karena beliau belum tahu fakta yang sebenarnya," jelas Alma.


Lutfan tiba-tiba menyahut, "Lagian gara-gara Azizah, dia nggak mau ngasih tahu langsung ke Bibi Hasna."


"Harusnya tadi kamu juga nggak nuduh-nuduh Azizah kayak gitu, Lutfan," tegur Alma.


Terlihat dari pantulan spion Mardiyah mengangguk.


"Bukannya nuduh. Tapi emangnya gitu. Gue kesel sama cewek yang---"


Mardiyah menyanggah, "Cukup. Fokus nyentir. Nggak usah ngomel-ngomel nggak jelas."


Lutfan terdiam seketika. Sebenarnya pun Alma ingin mendengar penjelasan Lutfan, namun apa yang dibilang oleh Mardiyah benar---Lutfan sedang fokus menyetir. Mentari pun mulai terik, pendingin ruangan mobil diatur lagi oleh Lutfan, supaya suhu kian dingin. Beberapa menit berlalu bangun-bangun tinggi perlahan-lahan menghilang berganti dengan rumah-rumah warga serta persawahan.


"Nanti aku sholat dzuhur di pesantren, Mas." Pandangan Lutfan beralih kepada Mardiyah sejenak. "Lo juga, kan?"


"Kamu bicara sama saya?" tanya Mardiyah.

__ADS_1


Lutfan berdecak kesal.


Lalu kembali fokus menyetir. Lima menit berlalu mobil itu memasuki pelataran pesantren. Semuanya turun di depan kediaman Ummi Salamah, sedangkan Lutfan memarkir mobil terlebih dahulu.


"Saya ke kamar dulu, Mar," ucap Alma.


Perjalanan yang melelahkan bagi Alma. Setelah benar-benar sampai di dalam kamar ia langsung membuka kerudung yang digunakannya, di susul merebahkan diri sejenak.


Jika dipikir-pikir menyakitkan, sebenarnya pun Alma lebih mengkhawatirkan Jafar, ia takut jikalau sebaliknya perkataan Bibi Hasna itu menyakiti suaminya. Namun beruntungnya saat ia tidak bisa berkata-kata lagi, Lutfan mewakili apa yang ingin ia katakan. Matanya terpejam, ia menghirup aroma di sekitar kamar yang mendominasi bunga lavender.


Ia merasa tenang.


Hingga tiba-tiba sebuah tangan menyentuh dahinya yang spontan membuat matanya terbuka.


"Mas ..."


Jafar terlihat menunduk---jaraknya cukup dekat dengan wajah Alma yang memerah padam seketika.


"Ma-maaf saya capek. Makanya rebahan sebentar," ucap Alma dengan mengambil posisi duduk.


Jafar menuliskan jawaban di buku catatan yang berada di tangan kanannya. "Kamu baik-baik saja 'kan?"


"Kamu ini ..." Dengan tawa ringan tangan Alma terangkat menyentuh pipi kiri Jafar. Dan kembali berujar, "Nggak percaya banget kalau saya baik-baik aja!"


"Lihat. Matamu memerah, dan seperti menahan tangis. Lantas sekarang, jelaskan bagaimana saya harus percaya, Alma?" tulis Jafar.


Tatapan Alma kian menelisik netra suaminya---dengan tangan yang mengusap lembut pipi tersebut. "Justru seharusnya ... saya yang tanya, kamu baik-baik aja, Mas?"


"Apa ucapan Bibi Hasna ada yang membuatmu terluka?"


Usapan Alma menjalar turun melewati leher, dan turun lagi tepat di bahu suaminya. Ia menunduk dan menghela napas pelan. "Kamu merasa lebih baik, Mas? Setelah kita bertemu dengan Ustadz Hasan dan meluruskan semuanya?"


"Rasanya ... setelah bertemu dengan Ayah dan Ibu Azizah. Sa-saya mau mengulang pertanyaan itu lagi."


Bibir Jafar bergerak. "Apa?"


"Kamu benar-benar nggak menyesal ... atau pun kecewa? Memiliki istri seperti saya?"


Jafar menggeleng.


Alma tersenyum tipis. "Saya jadi penasaran ... selama tiga hari ini saya menjadi istri kamu. Apa hal-hal yang membuat kamu menyukai saya?"


Jafar sedikit menunduk---mengeluarkan gawai dari tasnya, lalu mengetik balasan untuk Alma. "Saya menyukai pelukanmu. Hangat dan nyaman."


Spontan saja Alma tertawa kecil.


"Itu saja?"


Jafar menggeleng dan mengetik. "Banyak. Tapi itu yang utama."


Terjadi kebisuan beberapa detik. Tatapan Alma pun menjadi sendu kembali, dan dengan lirih ia berujar, "Mas, apa kamu menyesal kecelakaan itu terjadi?"


"Kecelakaan itu ... membuat kamu kehilangan begitu banyak mimpimu."


Tangan kanan Alma terangkat untuk mengusap pipi kanan suaminya. "Kira-kira jika kecelakaan itu tidak terjadi ... kamu sekarang akan seperti apa, ya?"


Bahkan saat kamu menjadi tunawicara pun masih begitu banyak gadis di pesantren dan di panti asuhan yang menyukaimu.

__ADS_1


Bagaimana jikalau kamu begitu sempurna?


Saya yakin.


Saya pun nggak akan pernah bertemu denganmu, Mas.


Jafar menumpuhkan tangan kanannya di atas tangan Alma, lantas mengusapnya perlahan. Kemudian dengan menunduk---dan tangan Alma yang masih mengusap pipinya, Jafar mengetik jawaban. "Jangan pernah mengandaikan sesuatu seperti itu, Alma."


"Maaf," lirih Alma.


Ternyata Jafar kembali mengetik lagi. Di aplikasi note Jafar memberi jeda dan mengetik di bawahnya. "Jika kamu tanya saya menyesal, tentu saya menyesal, Alma. Sebagai manusia yang tiada sanggup menyaksikan kehilangan, tiba-tiba saja saya harus melewati masa-masa buruk seperti itu."


Terdapat jeda lagi di sana. "Tentu itu sangat menyakitkan. Tetapi ini semua telah menjadi ketetapan."


Jafar mendongak sejenak menatap Alma. Dengan tersenyum tipis serta tatapan yang kian sendu, Jafar kembali menunduk dan meng-klik enter untuk kembali mengetik. "Selama beberapa tahun ini saya selalu mengeluh akan takdir yang menimpa saya, Alma. Kamu tahu karena apa? Jelas, karena satu kekurangan saya ini. Saya menjadi laki-laki cacat yang tidak berguna."


Alma menggeleng kuat.


"Namun ketetapan ini, tidak lah seutuhnya menyedihkan dan menyakitkan."


Jafar memberi jeda lagi di note. "Pernikahan saya dan kamu, membawa kebahagiaan kembali di kehidupan saya yang suram. Kamu bersedia menikah dengan orang bisu ini, Alma. Kamu seakan-akan menjadi bukti nyata, dari kebaikan yang saya cari-cari selama ini."


"Kamu ini ... " Jafar mengusap air mata yang mengalir di sisi pipi kiri Alma. Dengan tersenyum tipis Alma berujar lirih, "Kamu tahu? ..."


Alma mencondongkan tubuhnya---mendekatkan wajah kepada telinga kiri Jafar dan berbisik, "Kamu juga termasuk bukti nyata dari tempat peristirahatan ternyaman yang cari-cari selama ini."


Sedetik kemudian Alma menyadarkan kepalanya di bahu Jafar---untuk pertama kalinya ia melakukan ini. Aroma tubuh Jafar, hangat tubuh suaminya seakan-akan menjalar kepada diri Alma.


"Pelukan kamu juga hangat."


Jafar meletakkan gawainya, lantas menarik pinggang Alma untuk kian mendekat, supaya kenyamanan akan semakin dirasa oleh istrinya.


"Nyaman lagi."


Deru napas Alma terdengar di sisi telinga kiri Jafar, yang mana tangan mungilnya juga ikut memeluk erat punggung Jafar.


"Saya jadi sadar, apa makna yang kamu tuliskan kemarin."


Dibalik pelukan hangat itu Alma tersenyum tipis dan berujar, "... bahwa ungkapan cinta tiada artinya dibandingkan penerimaan."


"Kamu benar, Mas. Ternyata ... rasanya diterima oleh seseorang itu seperti ini."


Terdengar suara ketukan pintu tiba-tiba yang spontan saja membuat Alma memisahkan pelukan hangat itu---disusul ocehan panjang kali lebar kali tinggi oleh Lutfan.


"Ini ngapain aja ya di kamar? Tolong dong! Ayo, keluar. Sebagai seorang adik dengan segala tata krama kesopanan gu---aku udah ngerasa capek Mas, nungguin Mas beberapa menit nggak keluar-keluar."


Alma berdiri mengambil kerudung yang ia letakkan tadi di ranjang. Lantas berjalan ke meja rias---memakai kerundungnya hingga rapi. Dan sedetik itu pula Jafar membuka pintu kamar.


"Alhamdulillah! Akhirnya, keluar. Capek Mas aku nungguin," ucap Lutfan.


Alma yang baru saja keluar, langsung mengambil duduk di samping Mardiyah.


"Ma-maaf, Mar. Kalau kamu nunggu lama."


Mardiyah mengangguk. "Santai aja."


Pandangan Mardiyah beralih pada Lutfan yang hendak mengambil duduk juga. "Masmu sudah keluarkan? Jadi yaudah sana ke Masjid jangan duduk lagi!"

__ADS_1


Dengan wajah cemberutnya Lutfan menarik pelan tangan Jafar. "Ya udah, ayo Mas! Kesel aku lama-lama di sini."


__ADS_2