
"Keturunan?" tulis Jafar.
Alma memutuskan kontak matanya dengan Jafar. "Orang-orang yang saya maksud banyak, Mas. Ada sepasang suami istri yang saling mencintai, ada juga sepasang insan manusia yang menikah hanya keterpaksaan orang tua, ada pula yang menikah hanya ingin melanjutkan keturunan."
"Jadi ... menurut kamu tujuan pernikahan kita adalah itu?" imbuh Alma.
Alma tak tahu Jafar menggeleng atau tidak. Tetapi yang pasti Alma tahu Jafar tengah menulis, hingga tujuh detik berlalu Jafar mendekat buku catatannya. "Itu bukan tujuan pernikahan saya, Alma. Saya hanya menjawab yang biasanya orang umum inginkan saat menikah."
"Ehm ..." Alma menengok menatap Jafar. "Jadi hanya jawaban umum."
Jafar mengangguk.
"Kalau begitu, tujuan kamu untuk pernikahan ini apa?" Alma tahu, ia bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan Jafar tadi. Tetapi entah mengapa ia sangat butuh jawaban Jafar terlebih dahulu barulah ia sanggup memberikan jawabannya.
"Kamu selalu seperti ini, menjawab pertanyaan saya dengan pertanyaan pula," tulis Jafar.
"Maaf. Tapi saya emang butuh jawaban kamu dulu."
Jafar mengangguk dan menulis. "Kamu langsung baca, ya? Saya akan menulis sedikit lebih dekat dengan kamu."
"Iya." Alma sedikit menggeser duduk. Supaya bisa langsung melihat tulisan Jafar.
"Alma, tidak salah bukan? Jika sepasang manusia menikah untuk memiliki keturunan? Saya sedikit menganggap hal itu wajar, tapi tidak sepenuhnya saya merasa itu benar untuk menjadi tujuan seseorang menikah." Jafar menjeda, dengan membalikkan halaman.
"Jadi?"
Jafar kembali menulis. "Awal saya menikahimu saya hanya memiliki tujuan untuk menikah saja. Saya tidak peduli kelak istri yang Ummi pilihkan mencintai saya atau pun tidak."
Terdapat jeda lagi. "Saya sudah sangat sadar diri, Alma. Namun seiring berjalannya waktu, tujuan saya berubah. Selain untuk menyempurnakan separuh agama, saya ingin hidup hingga akhir hayat bersamamu."
Alma terenyuh.
Entah kenapa semenjak hari di mana ia memaafkan Jafar perihal perilaku yang sedikit menyakitinya, hingga membuat tangannya sedikit memerah. Lelaki di depannya ini berubah. Jafar tak pernah berjanji untuk selalu bersikap lembut, Jafar juga tak pernah berjanji selalu memaafkannya, semua hal, Jafar tak pernah berjanji. Namun lelaki itu, membuktikan semua hal tak seharusnya tersirat saja, tindakan Jafar selalu terlihat jelas di matanya.
"Kamu bikin terharu," lirih Alma.
Jafar tersenyum tipis dan mengusap pipi kanan Alma sejenak.
"Tujuan saya menikah sama kamu pun, juga nggak jelas di awal, Mas. Saya bahkan takut." Alma menjeda saat Alma melihat Jafar melebar netranya seakan-akan bertanya apa yang ia takuti. "Saya nggak mau mengingat perlakuan kamu di panti asuhan. Tapi ... adanya memang seperti itu, Mas."
"Saya sempat berpikir, bagaimana kiranya nanti setelah lewat tujuh bulan ini?" Alma menghela napas pelan. "Apa saya akan langsung menikah? Apa saya akan diperlakukan baik oleh kamu? Apa kamu akan marah? ... Semua prasangka buruk memenuhi otak saya, Mas."
"Nggak salah 'kan, Mas? Saya berpikir seperti itu?"
Jafar menggeleng.
"Itu semua karena pertemuan di panti asuhan dan juga salah saya karena menghina kamu." Alma hendak terkekeh, namun ia tahan, ingin sekali ia menertawai diri sendiri. "Saya ini emang bodoh, ya Mas? Harusnya dulu saya langsung mau menikah sama kamu."
Jafar menggeleng.
__ADS_1
"Jadi ... tujuan pernikahan saya sekarang ..." Alma tersenyum tipis. "Hidup bersamamu, Mas. Entah sampai kapan nanti, saya selalu ingin bersama kamu."
"Saya tidak pernah mengharapkan hal lebih selain itu, Alma," tulis Jafar.
Alma menggeleng. "Kenapa gitu?"
"Kalau pun kamu mengharapkan seorang anak dari pernikahan ini juga nggak pa-pa, Mas." Jeda tiga detik Alma kembali berujar, "Sudah sewajarnya laki-laki ingin meneruskan keturunan."
"Mas, pikir saya nggak mau jadi Ibu? Dan ... Mas jadi Ayah?"
Jafar tersenyum tipis dan mengangguk.
"Saya menyerahkan semua kehendak ini ke Allah, Mas." Alma menghela napas pelan, membenarkan sandarannya pada bantal. "Dan maaf ..."
"Saya menunda sesuatu yang seharusnya sudah saya berikan dari awal pernikahan ini, Mas."
Alma menatap ke arah lain tak sedikit pun menatap Jafar. Dari samping dapat terlihat bahwa Jafar tengah menulis. Setelah beberapa detik, suaminya mendekatkan buku catatan. "Tidak perlu meminta maaf. Apa kamu pikir saya akan marah? Sampai-sampai kamu meminta maaf seperti ini? Sungguh tidak, Alma."
Terdapat jeda di halaman. "Saya suamimu dan kamu adalah istri saya, kan? Tidak perlu tergesa-gesa. Saya bisa menunggu."
"Ka-kamu nggak keberatan?"
Jafar menggeleng.
"Ta-tapi saya tetap minta maaf, Mas." Alma menelan ludah beberapa kali, ia sedikit gugup. "Tertundanya pasti lama ..."
"Saya tahu, Alma. Kamu pikir saya menikahimu hanya untuk berhubungan intim?" tulis Jafar.
"Maaf," cicit Alma.
Terjadi kebisuan karena Jafar pun tidak menulis apa-apa. Bahkan Alma terdiam dengan menatap lurus ke layar televisi, semua jadi canggung karena pertanyaan frontal Jafar tadi. Alma pun juga bingung ingin memulai obrolan apalagi.
"Ingin makan? Atau minum? Jangan diam saja," tulis Jafar setelah dua menit sama-sama membisu.
Alma merasa sedikit dahaga, sepertinya ia membutuhkan air. "Minum," jawabnya.
Jafar membantu Alma untuk minum secara perlahan. "Udah, Mas."
"Makasih."
Jafar telah meletakkan kembali gelas. Lelaki itu menulis lagi. "Kamu ingin tidur?"
Alma menggeleng.
"Nggak bisa."
"Ingin lanjut menonton?" tulis Jafar.
Alma teringat Attack on Titan S1 baru ia dan Jafar tonton tiga episode saja. Kalau dipikir-pikir lagi, lebih baik menonton, lagi pula malam semakin larut barang kali ia bisa mengantuk.
__ADS_1
"Boleh." Alma membuka telapak tangannya. "Tolong ponsel saya, Mas."
Jafar memberikan gawai, dan Alma sedikit bergeser, semoga saja perawat tidak masuk tiba-tiba karena ia berencana meminta Jafar untuk duduk bersebelahan dengannya, ranjang ruang rawat inap kelas III yang dipilih oleh Ummi Salamah memang nyaman dan berkualitas sesuai dengan harga rawat inapnya.
"Duduk sebelah saya, Mas."
Jafar menurut dan Alma telah siap melanjutkan menonton. Dan seperti biasa, lampu telah dimatikan bak menonton di bioskop. Selanjutnya, Alma dan Jafar serius menonton, di pertengahan menit Jafar tiba-tiba saja menjeda saat melihat scene antara Eren, Mikasa, dan Armin.
"Kenapa?"
Jafar mengambil pena dan buku catatannya yang berada di saku---dalam remang ia menulis. "Eren beruntung, bukan?"
Alma tahu arah pembicaraan Jafar dan mengangguk. "Dia punya Mikasa yang selalu melindunginya dan punya Armin yang selalu mendukungnya."
Alma hendak memutar lagi. Namun ia urungkan saat melihat suaminya menulis. "Saya merasa Mikasa seperti kamu. Saya tadi sempat searching di google bahwa Eren akan menjadi Titan."
"Terus?"
Alma penasaran. Apalagi yang dituliskan oleh Jafar. "Mikasa tetap menerima, Eren."
Terdapat jeda di sana. "Saya tahu Attack on Titan bukan genre romance tetapi saat melihat Mikasa saya langsung teringat kamu."
Alma mengangguk-angguk dan tersenyum, tangannya mengklik layar, anime berputar lagi.
"Kamu mah belum apa-apa spoiler. Dan apa ...? Mikasa?" Jeda tiga detik Alma berujar, "Mengingatkan kamu ke saya?"
Alma menggeleng pelan. "Sejauh ini, saya belum melindungi kamu, Mas."
"Tapi ... suatu saat, mungkin iya." Alma menatap layar gawai dengan tersenyum. "Saya akan melindungi kamu semampu saya, Mas."
Alma menengok---menatap Jafar dalam. "Mengenai penerimaan? Kamu nggak usah bahas itu lagi, Mas. Yang lalu-lalu dan cuma bisa membuat kamu terpuruk jangan pernah kamu jadikan topik pembicaraan lagi."
Jafar tak menggeleng atau pun mengangguk.
"Ngerti?"
Reaksinya tetap sama.
"Mas!"
Jafar terkejut.
Melamun?
"Kamu denger saya bicara tadi, Mas?"
Jafar mengangguk.
"Dan ngerti 'kan maksud saya?'
__ADS_1
Jafar mengangguk dan tersenyum tipis. Alma kembali menatap layar, dan beberapa detik Jafar mengangkat buku catatan. "Saya tahu, saya paham, dan saya mengerti. Mari lanjut menonton."
[.]